Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Teknologi Informasi

Mempertahankan Eksistensi Piranti Lunak Indonesia
25/06/2008

Belakangan ini negeri kita diramaikan oleh perdagangan software berbayar (propetiary software), bahkan razia terhadap pembajak terjadi di sana-sini. Maklum pedagang software terbesar di dunia Bill Gates datang kesini menjajakan software merek Mincrosoft, produknya, bahkan menggratiskan pada para siswa. Tentu saja ini sangat mengkhawatirkan kalangan pengembang piranti lunak sistem operasi terbuka (open sources software-OSS), yang saat ini berkembang pesat.

Tetapi untunglah sebanyak 18 Departemen dalam pemerintahan telah berkomitmen untuk melakukan migrasi menggunakan peranti lunak sistem operasi terbuka (open source). Proses ini ditargetkan akan selesai pada tahun 2012. Dari sekitar 400 pemerintah kabupaten dan kota, 100 diantaranya telah menggunakan open source software dalam waktu empat tahun mendatang.

Untuk dapat merealisasikan rencana migrasi ke IGOS (Indonesia Goes to Open Source), Kementrian Negara Riset dan Teknologi tengah menyusun dokumen migrasi tersebut. Saat ini telah dihasilkan 8 dokumen yang mengelompokkan beberapa jenis perangkat lunak sesuai menurut fungsinya, antara lain Aplikasi Perkantoran OpenOffice.org, petunjuk instalasi IGOS Nusantara, Perangkat Lunak Bebas dan Open Source, Bahasa Pemrograman Open Source, Konfigurasi Server Linux, dan aplikasi untuk Server. Pembuatan dokumen ini mengacu pada dokumen yang telah dibuat di beberapa negara yang telah mengintegrasikan peranti lunak berbasis operasi terbuka (open source).

Proses migrasi tersebut dalam kenyataannya tidak dapat dilaksanakan langsung dan secara radikal, sebab masih banyak pengguna komputer yang menggunakan peranti lunak berbayar (propetiary). Oleh sebab itu Mentri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman telah membuat sistem keterhubungan atau co-exist dengan sistem tertutup atau berbayar (Propetiary) yang telah banyak sekali digunakan di instansi pemerintahan saat ini.

Rencana proses migrasi ini sempat mengalami keterlambatan beberapa waktu lalu dikarenakan tidak adanya co-exist, beberapa kendala yang timbul diantaranya dalam pertukaran dokumen di antara dua sistem yang berbeda tersebut. Walaupun sebenarnya hal tersebut bukanlah kendala yang besar, sebab pada beberapa peranti lunak berbasis terbuka misalnya LINUX sebagai sistem operasi komputer, telah mengintegrasikan peranti lunak penunjang kegiatan perkantoran antara lain Openoffice.org sebagai pengganti Microsoft Office, Kwrite sebagai pengganti notepad, GIMP sebagai program pengolah gambar yang dapat menggantikan fungsi MSpaint dan bahkan menyamai kemampuan Adobe Photoshop, KCalc berfungsi sebagai kalulator yang bahkan memliki kemampuan lebih lengkap dari kalkulator yang digunakan oleh program berbayar, Mozilla Firefox dan Opera sebagai program untuk berselancar di internet, Mozilla Thunderbird dan Kmail sebagai program pengunduh surat elektronik (email) pengganti Microsoft Outlook, dan masih banyak lagi peranti lunak lainnya yang dapat dijumpai pada sistem operasi terbuka (Open source) yang dapat menggantikan peranti lunak berbayar (Propetiary).

Satu-satunya kendala teknis yang terjadi dilapangan dan menghambat proses migrasi tersebut adalah keengganan pengguna komputer untuk mempelajari dan membiasakan diri dengan peranti lunak yang baru dengan alasan sulit, tampilan atar muka grafis yang tidak mudah untuk dikenali dan sebagainya. Peluang inilah yang sepertinya dibidik oleh pihak pengembang peranti lunak berbayar terbesar di dunia, Microsoft. Saat menemui Presiden R.I beberapa waktu lalu Bill Gates berjanji akan memberikan bantuan berupa peranti lunak terbaru produk dari Microsoft kepada pemerintah Republik Indonesia untuk diimplementasikan di dunia pendidikan Indonesia, pasti dengan syarat tentunya. Bantuan itu seolah menguntungkan, tetapi sebenarnya merupakan ancaman berat buat pengembangan IGOS.

Seandainya saja para petinggi di negeri ini mau memberikan contoh dengan tidak lagi menggunakan peranti lunak bajakan dengan dalih apapun dan mengurangi penggunaan peranti lunak berbayar yang harganya mahal, maka besar kemungkinan penetrasi program berbasis OSS akan dapat terlaksana lebih cepat hingga ke pelosok negeri. Pada lingkup instansi pemerintahan saja, secara teoritis OSS ini dapat menghemat anggaran belanja negara sebesar 60 persen, namun pada prakteknya di lapangan ternyata tingkat efisiensinya hingga mencapai 80%, saat ini baru Kementrian Negara Riset dan Teknologi saja yang telah bermigrasi secara total kepada OSS.

Walaupun memang ada juga isu yang menyatakan bahwa biaya untuk migrasi peranti lunak justru akan lebih mahal dibandingkan dengan tetap menggunakan peranti lunak berbayar, isu ini sudah beredar cukup lama dan memang sengaja dihembuskan untuk meredam penetrasi penggunaan OSS yang semakin meluas berkat berbagai keuntungan yang ditawarkan.

Seharusnya pemerintah lebih mendorong sosialisasi dan penggunaan OSS kepada seluruh jajarannya, apalagi saat ini program OSS bernama IGOS hasil karya putra putri terbaik bangsa sudah semakin dapat diandalkan dalam memenuhi kebutuhan pekerjaan sehari-hari.

Saat ini NU Online sendiri juga telah mencoba mengembangkan OSS ini, terbukti sangat murah, mudah dan memiliki tingkat keamanaan yanag bisa diandalkan. Sebenarnya masyaraakat masih terbuka kemungkinan untuk menggunakan distro (jenis) lain misalnya red hat, mandriva, fedora, ubuntu, dan sebagainya. Sehingga pemerintah dapat menghemat angaran biaya dalam hal teknologi informasi dan telekomunikasi, yang seharusnya penghematan tersebut dapat digunakan untuk usaha-usaha pengentasan kemiskinan, membeayai pendidikan atau mendanai riset tentang teknologi di negeri ini untuk menyongsong Indonesia yang lebih baik. (Ardyan Novanto Arnowo)

« Kembali ke arsip Teknologi Informasi | Print| Share


Komentar:


devara menulis:
Biasa.... penyakit bangsa ini kan dari dulu masih sama,kagak mau belajar karena udah terlanjur keenakan. walaupun keenakannya itu barang haram karena bajakan, tetap aja cuek.

harusnya kan para petinggi di pemerintahan itu ngasih contoh ke rakyatnya dgn gak pake program bajakan. lha kalo aparatur negara aja udah jadi bajingan dgn pake bajakan lalu gimana rakyatnya....
indonesia juga jgn ngemis ke microsoft lah... masih banyak program yang lebih baik dari microsoft dan tanpa ngabisin APBN
dony menulis:
Pemerintah keliatan banget kalo kurang memperhatikan pengembangan IGOS Nusantara ini, akhirnya kalah saing ama propetiary, jangankan ama propetiary.... ama sesama linux base aja udah ketinggalan jauuuuuuuhhhhh banget.
IGOS kalo gak salah dibangun berdasarkan redhat linux, tapi sampe sekarang IGOS masih aja versi IGN 2006. gak percaya...??? coba liat di link ini
http://igos-nusantara.or.id/
Padahal distro linux lainnya (termasuk yg redhat base) udah mengalami perkembangan yg pesat banget, kayak mandriva, centos, fedora.
dygta menulis:
Pihak pemerintah sendiri yang harusnya lebih concern dalam mempertahankan eksistensi software buatan dalam negeri malah bikin deal ama pembuat software propetiary...... gimana mau maju software buatan dalam negeri ini.....
kalopun bisa maju ya paling di kontrol abis-abisan ama pihak propetiary, gak bisa independent kayak based on opensource

pihak-pihak policy & decision maker di negeri ini pikirannya cuma cari proyek aja....
rusydi menulis:
inilah indonesia. ketika dipikir suatu hal tidak menguntungkan, tidak akan disentuh hal tersebut. hak paten menjadi tidak berguna, UU lain pun hanya menjadi pelengkap saja
rio menulis:
Saya sangat setuju kalau ada anak bangsa yang dapat memproduksi dan sekaligus perangkat lunak ke manca negara. Sebab menurut komentar Pak afasmt yang saya baca di alamat ini http://www.penulislepas.com/v2/?p=714#comment-3136, ternyata Ilmuwan Yahudi telah meletakkan pondasi basic sains yang salah. Kesempatan buat Doktor dan Professor Indonesia untuk meralatnya.

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku