Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Warta

Menag: Penetapan Awal Ramadhan Jadi Otoritas Pemerintah
Senin, 4 Agustus 2008 03:50

Malang, NU Online
Penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal di Indonesia menjadi otoritas pemerintah, dalam hal ini menteri agama melalui proses sidang itsbat yang melibatkan organisasi-organisasi Islam dan para ahli ilmu falak.

Menteri Agama M Maftuh Basyuni saat memberi sambutan pada Halaqah Internasional Ulama dan Orientasi Hisab Rukyat Mejelis Ulama Indonesia di Malang, Sabtu (2/7) kemarin menyatakan, otoritas pemerintah penetapan awal bulan Ramadhan dan Syawal itu juga berlaku di sejumlah negara berpenduduk Muslim, baik oleh kementrian bidang agama, mufti, dewan mahkamah tinggi, atau ditetapkan langsung oleh raja setempat.
.
Hadir dalam halaqah itu Ismail AA Nawahda (Yaman), Majid Kadhim Shanyoor (Bagdad, Iraq), Said Sulaeiman Hasan Qeeq (Yordania) dan Alsakka Samira (Palestina) dan sejumlah utusan dari berbagai Prganisasi Massa (Ormas) Islam.

Menag menyatakan, untuk mengantisipasi perbedaan dalam penetapan hari raya, pihaknya telah mengadakan koordinasi dengan lembaga falakiyah dari berbagai organisasi Islam, lembaga astronomi dan instansi terkait.

Dirinya optimis pada tahun ini tidak akan terjadi perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1429 dan awal Syawal atau hari raya Idul Fitri. “Karena itu pula adanya halaqah di Malang ini akan menghilangkan perbedaan yang terjadi selama ini,” katanya.

Pada kesempatan itu Maftuh Basyuni mengajak semua pihak untuk membangun ilmu falak berdasarkan sendi ilmu pengetahuan yang dapat ditelusuri secara empirik objektif.

Dikatakannya, dalam pandangan masyarakat awam, pendekatan hisab dan rukyat yang dijadikan dasar penentuan kalender Islam dianggap dua metode saling bertolak belakang dan menjadi penyebab perbedaan dalam penentuan hari raya. Padahal jika dipandang dari aspek ilmu astronomi, hisab dan rukyat seperti dua mata uang yang tak dapat saling menafikan dan dinafikan.

Hisab dapat diartikan sebagai sebuah metode perhitungan yang diperoleh dari penalaran analitik dan empirik (rukyat). Sedang rukyat diartikan sebagai pengamatan sistimatik didasarkan atas metode dan data hisab yang ada. (dpg/nam)

« Kembali ke arsip Warta | Print| Share


Komentar:


Hosein Elhas menulis:
Mengapa setiap awal bulan Ramadlan dan Syawal selalu tidak bersamaan? karena masing-masing ormas ingin pendapatnya yang diterima. Padahal kalo kita paham, betapa nikmatnya hidup bersama dalam perbedaan. Rahmat itu akan kita nikmati manakala kita saling menghormati satu sama lain, seperti apa yang dikatakan oleh Imam Hanafi ra, ro`yuna showab yahtamilul khotho` wa ro`yu ghairuna khotho`un yahtamilush showab {pendapat kami benar, tapi bisa saja membawa kekeliruan, dan pendapat selain kami keliru, tapi bisa saja membawa kebenaran. Bagaimana pendapat anda?
eswo menulis:
para ikhwan, marilah kita bangun ukhwah, melalui belajar chaos pada tata surya misalnya pada :

http://rosyidi.com/belajar-chaos-pada-tata-surya/

semoga bermanfaat..amiin

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku