|
|
 |
Majelis Ulama Saudi Tolak Hisab untuk Tentukan Ramadhan
Senin, 25 Agustus 2008 21:45
Riyadh, NU Online
Majelis Ulama Saudi Arabia menyatakan penolakannya untuk menggunakan sistem hisab dalam penentuan awal Ramadhan dan Syawal, yang sangat terkait dengan pelaksanaan puasa dan Idul Fitri bagi umat Islam.
Dalam pertemuan dan rapat intensif yang dilakukan lembaga ini, sebagaimana dilaporkan oleh harian Al Raya Qatar dan sejumlah surat kabar di Saudi Arabia terbitan tanggal 23 Agustus 2008 Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah yang mewakili lembaga ini menyatakan “Jumhur ulama sepakat menolak sistem hisab dalam penentuan awal dan akhir bulan Hijriyah, khususnya Ramadhan. Sistem yang benar adalah melalui rukyatul hilal.”
Pendapat ini didasarkan atas hadits-hadits Nabi Muhammad yang menyatakan hendaknya umat Islam mengawali dan mengakhiri puasa setelah melakukan rukyatul hilal. Ia pun menambahkan bahwa “Sunnah Rasulullah biasanya memulai puasa setelah melakukan rukyatul hilal sebagaimana yang dirawikan oleh Ibnu Abbas“.
Ia menyatakan masyarakat yang menggunakan hisab tidak ada dalilnya dan aneh. Hisab falaki tidak ada dalam syariat Islam dan tidak bisa diterima.
Selama ini Dewan Ulama Saudi dalam menentukan awal dan akhir bulan Hijriyah selalu menggunakan sistem rukyatul hilal, bukan hisab. Untuk itu Dewan Ulama akan melakukan sidang itsbatnya pada akhir bulan ini. (mad)
« Kembali ke arsip
Warta | Print|
Share
Berita Terkait:
Komentar:
alatif menulis:
Bismilahirrahmanirrahiim.
Ulama2 Indonesia tidaklah perlu mengikuti ulama2 Saudi. Islam bukanlah saudi, Saudi bukanlah islam.Ini harus di camkan oleh kita semua.
Kalau sekirnya ulama2 saudi itu benar dlm memahami Al Quran dan hadits, sudah pasti saudi itu menjadi masarakat rahmatan lil'alamin. Malah sebaliknya masarakat saudi adalah mesarakat terbelakang,karena ulama2 nya selalu merujuk kepada hadits2 yang belum TENTU UCAPAN RASUL.
Kedua abad sekarang ini tdk lagi abat unta, tapi abad science atau abat ilmu.
Jadi tidaklah salah kalau ulama2 mendengarkan pendapat2 ahli scsience untuk menentukan bulan muncul atau lain2nya.
waktu zaman rasul tidak ada teropong bulan dan bintang,sekarang kita sudah mempunyai alat canggih untuk melihat bulan.Apakah kita masih menggunakan manual melihat bulan dgn mata telanjang?
Marilah kita berlomba lomba dgn ulama2 saudi, janganlah kita selalu mengekor kepada mereka.
Wassalam
Abu Ahmad menulis:
Ya iya lah. NU kan emang selalu pake ru'yatul hilal.
Walaupun demikian kita sebagai warga NU tetap nggak boleh sombong dan merasa paling bener. Kita tetap mesti menghormati yang pakai sistem hisab, walaupun menurut Majelis Ulama Saudi: "masyarakat yang menggunakan hisab tidak ada dalilnya dan aneh" ...yang pake sistem hisab jangan sakit hati ya....he he
peace ah
didik hadi purnomo menulis:
ya...sebenarnya masalah ini menjadi perbedatan yang tak kunjung selsai sampai akhir zaman. memang penggunaan rukyat kalau dilihat dengan sains bukan berarti kuno, akan tetapi menghayati dan mencerminkan ketidaksombongan mengandalkan sains. jadi menurut saya keduanya jadi patokan. manusia boleh menghitung pakai hisab toh...kita harus melihat hilal. hilal diperuntukan untuk menguatkan. jagan menjadi sombong dengan adanya teknologi. ingat alam ini milik Allah. cuaca bisa berubah, perkiraan bisa meleset. dll. saran saya kita mengikuti saja nanti dari pemerintah. kita udah punya pemimpin. hormatilah. jagan berdiri sendiri. biar terjaga ukuwah islamiyah.
Syukran menulis:
Jgnlah perbedaan yg ada pada kita menjadi sebuah perpecahan, karena kita adalah satu, yaitu islam. Perbedaan diantara qt adalah rahmat.
Saya ikut rukyatul hilal saja menulis:
Assalamu'alaikum
Saya tidak tergiur oleh Hisab, pokoknya pake rukyatul hilal.
Hadits nabi yg benar harus di ikuti, kalo Al-quran saja belum komplit, wah kalo dg Al-Quran saja bisa-bisa nggak sholat 5 waktu.
Jadi walupun saya pake rukyatul hilal tapi yg pake hisab yaa terserah , cuma hisab tidak ada haditsnya.
mohon maaf wassalam
les menulis:
@ abu ahmad (wah hebatz .. namanya islami bangetz .. pasti mudah untuk mendekat ke malaikat (yg bahasanya juga arab bangetz) itu) :
makasih bung abu .. insyaAlloh para penghisab (pengamal ilmu hisab) tidak akan sakit hati kok .. mereka udah pada maklum bahwa hidayah (dalam hal ini adalah kemajuan bersikap dan berwawasan) belum nyampe pada para rukyaters ...
mereka (para penghisab itu) tahu benar bahwa ilmu (hisab) itu juga maha karya yg sejatinya berasal dari Sang Maha Berilmu .. sedangkan para rukyaters itu memang tidak pernah bisa yakin selain dari apa yg dapat dilihat oleh mata kepala mereka sendiri, ato memang sebenarnya (dan kliatannya) asik juga punya aktifitas dan mengembangkan hobi 'mengintip-intip' seperti itu (jangan ngeres .. maksudnya cuman mengintip hilal kok).
........
tapi sejatinya semuanya biar berjalan apa adanya, sebab Tuhan emang menghendaki (buktinya tetap terjadi kan) warna-warni itu tetap ada ... biar dunia ini indah.
terpenting .. (dalam keyakinan kita) tetaplah hargai dan hormati mereka yg berbeda.
muluk menulis:
buat anda2 yg pro hisab ( sebagian besar Non NU ) tidaklah bijaksana namanya kalau anda punya perilaku seperti ALATIF diatas, ngajak-2 orang tdk ngikuti ulama saudi dan bahkan mengatakan ulama saudi tdk benar. Tapi giliran yang dibahas mslh sholawat, tahlil, dzikir seperti yg ada dlm buku "mantan kyai NU menggugat ...", saya yakin orang-2 seperti ALATIF ini pasti bilang "ayo..,mari... ikuti fatwa ulama Saudi ...".
Memang itu hak anda utk bicara apa saja, tp org lain akan melihat seberapa jauh sih tingkat intelektual anda, tingkat emosional anda dari konsistensi dan cara bicara anda.
Menurut saya, kebanyakan orang berpendapat mengikuti garis kelompoknya, tanpa introspeksi diri, tanpa mendalami mslh secara teliti, benar, dan menonjolkan emosinalnya.
Bagi saya, silahkan saja yang mau ngikuti hisab ya monggo..., yang mau ngikuti Ru'yat ya monggo..., tapi tentunya bagi temen-2 yg NU informasi penolakan hisab oleh ulama Saudi ini dapat lebih meningkatkan keyakinannya akan ru'yat.
temen dekat (sekali) alatif menulis:
demikian pula yg terjadi pada anda .. wahai mister (yg amat) muluk (mestinya dibalik seperti kera ngalam aja menjadi 'kulum' .. kan lebih asik) ..
komentar anda bukan hanya menunjukkan 'tingkatan' anda, bahkan juga secara menyeluruh memperlihatkan kualitas anda ..
yg khas dari sebagian besar warga kita (NUers) .. tapi semoga anda terhindar dari yg seperti ini .. adalah anti akan wahabi.
padahal kita semua mahfum bahwa si arab itu adalah biangnya wahabi.
di sini ada ambiguitas sikap .. ketika kita seakan-akan amat menolak sebagian besar faham wahabi, namun ketika ada pendapat ato sikap yg (sepertinya) sama dan mendukung kita .. mentah-mentah kita ambil dan kita justifikasi sebagai 'penguat iman dan meningkatkan keyakinan'.
jadi sebenarnya gimana sih ?!
(apa asal sekedar menguntungkan buat kita nih)
temen cak muluk menulis:
buat temen deket alatif.
bagi kita NUers, jelas kita anti wahabi karena konsep kita berbeda.
tentang masalah rukyatul hilal, entah Ulama Saudi pake rukyat ato hisab, NU jelas pake rukyatul hilal dan itu sudah tegas dari dulu.
kita gk da urusan ulama saudi berfatwa apa.
NU punya dalil yg tegas mengapa pake rukyatul hilal..tapi NU juga menghormati umat islam laen yang pake metode hisab dan NU tidak suka mudah membid`ahkan menyalahkan umat islam laen yang berbeda pendapat dgn NU.
NU laa wahabi.
tapi buat para pengekor wahabi yang gk suka NU, hayoo gimana dgn adanya fatwa Ulama Saudi ttg rukyatul hilal.
ngikut kagak kaliaaan????
teman dekat (yg sama dari si) alatif menulis:
makasih ya temen cak muluk .. telah mewakili (sebagaimana juga saya sendiri) ke'kuluman' sdr muluk untuk sesambungan ini ..
tenang aja kawan .. sebagaimana (bila anda simak bener) postingan saya di atas .. saya telah (dan insyaAlloh selalu demikian) menempatkan diri sebagai sesama NUers (makanya di situ saya tulis dg kata 'kita' kan), jagi gak perlu anda jelaskan secara panjang lebar perihal sikap keNUan kita .. yakin aja deh !
hanya saya hendak melontarkan sebuah otokritik .. khususnya kepada SEBAGIAN (perhatikan kembali uraian kalimat saya di atas per katanya) dan hanya sebagian dari kita yg SEOLAH-OLAH anti wahabi (padahal mungkin yg bersikap demikian sebenarnya juga tidak bisa menguraikan apa itu wahabi).
jadi tidak semuanya .. so saya tidak sependapat bahwa setiap NUers selalu anti wahabi .. bahkan meski NU sekalipun juga bebas berhisab ria kan ?!
poinnya adalah sikap ambigu (dari yg sebagian itu) yg seakan-akan menolak wahabi tapi kadangkala (jika menguntungkan) diambil pula apa itu yg berasal dari si wahabi ..
bukankah seperti itu maksud saya ?!
(sebenarnya lontaran ini buat cak muluk (makanya saya tunggu konfirmasi beliau), namun jika beliau malu-malu untuk 'tampil' lagi .. yo silakan temen-temen (ato sodaranya sekalian, pak lurahnya juga boleh) bisa mewakili kembali)
makasih dan salam.
alisyahroni menulis:
Kalau nentukan awal Ramadlan di planit bumi bagian Asia, Indonesia aja repot apalagi menentukan awal Ramadlan di Planet bumi bagian Eropa tak kira tambah gak iso tidur ya para Ulama' kita kasihan ya.... kan Islam itu rahmatan lil 'alamin jadi saudaraku muslim yang di Eropa sana kan juga mau Puasa...
Kurt menulis:
Selain Khisab ditolak ulama Saudi, satu lagi yang rupanya berbeda prilaku ibadah tapi sama konsep adalah tarawih. Di sana tarawih menggunakan cara2 seperti NUers 20 rokaat panjang2 lagi. Anehnya, di Indonesia yang menyebarkan tarawih 8 rokaat konon kabarnya juga beraliran wahabi.
Jadi gimana nilai kewahabiannya yah... :D
kurti (yg ini asli ndeso) menulis:
to mister Kurt (yg dari kota dan pinter tentunya) :
dari postingan anda (yg terhormat), ijinkan hamba bertanya 2 hal :
pertama ; jaman seperti ini anda masih mem'permasalah'kan khilafiyah jumlah rokaat tarawih .. sadarkah anda akan pola berpikir puritan dan 'mundur' seperti itu ?
fakta yg berkembang .. peminat tarawih 20 rokaat prosentasenya kian menurun (kecuali pada kasus yg 20 rokaatnya bisa lebih cepat selesai bahkan daripada yg 8 rokaat), sehingga yg tersisa dari 'tradisi' 20 rokaat (yg bener dg 'kecepatan' sewajarnya sebuah sholat yg baik) hanyalah mereka yg mempunyai ghiroh beribadah di atas rata-rata dan mereka yg punya komitmen & istiqomah yg tinggi.
anda termasuk yg mana ?
kedua ; arus umum para NUers adalah penentang paham wahabi .. namun 'nafas' dari postingan anda seakan-akan malah mendukung wahabisme (dlm arti sempit mempertahan orisinalitas ibadah).
jadi terkesan anda mengambil keuntungan dari 'pandangan' yg ada.
bagaimana mister ?
Muluk menulis:
Buat temen deket, temen deketnya lagi dari Alatif....
Anda menunggu komentar saya ya.
Inti kehidupan manusia adalah akhlak atau berkelakukan baik. Terhadap siapa saja , baik kawan maupun lawan, baik temen atau musuh, baik kelompok sendiri atau kelompok lain, semuanya hrs kita perlakukan dg baik. Baik scr tutur kata, baik scr perbuatan, baik scr emosional. Manusia-2 yg ditunjuk oleh Allah jd Nabi, semuanya berawal dari Akhlaknya yg baik.
Sdhkah anda banyak berbuat baik, baik ucapan, perbuatan maupun emosional ?
Sdhkah anda meneliti dalil-2 dan argumen baik dari sisi anda maupun dari penentang anda ? Dg kepala dingin atau dg emosionalkah anda mempelajarinya ? anda mempelajari krn utk mencari kebenaran atau utk menjatuhkan dan menyalahkan pihak lain ?
Jawablah pertanyaan-2 diatas dg kepala dingin, mk akan hilanglah perasaan sesak di dada anda.
semua temen .. pada ngumpul menulis:
sebenernya kita-kita gak nunggu sih (wong mau muncul lagi syukur, kalo ngumpet aja yo alhamdulillah).
dan juga .. alhamdulillah .. dada kami gak ada sesak-sesaknya juga (barang sedikit pun), coz kami selalu demen pake baju yg agak longgar (kedombrongan bahkan) .. alasannya ya untuk itu : biar gak sesak kan !
perihal pertanyaan-pertanyaan yg anda ajukan itu .. sebenarnya (yg terutama mesti anda lakukan) tujukan pada diri anda terlebih dahulu, sudah berbuat baik kah, sudah meneliti dalil dan argumennya kah, pake kepala dingin-anget-panas mo yg mana boleh aja, mencari kejatuhan ato kebenaran .. itu semua (lebih perlu ditujukan terhadap diri anda sendiri).
ingat (kembali ke postingan anda tertuju pada alatif, di atas) .. sapa yg mulai 'diskusi hangat' ini, sapa yg mulai mendiskreditkan komentar orang lain ?
sejujurnya, para pertemanan ini ikut mengorbit sebab picu yg anda lontarkan melalui postingan anda tersebut.
nyadar diri kan ?!
so .. mari kita saling introspeksi .. kalo gak bisa oleh diri sendiri maka mertua, pak camat ato anggota legislatif juga boleh diajak untuk 'ngingetin' !
setuju kan ?!
chi menulis:
mongopowonge.....
peace 4ever NGOPI together
Din Syamsudin menulis:
Nu bisa melakukan hisab. Tapi tetap melakukan rukyat hilal. Dengan rukyat kita lebih mendahulukan kehendak Allah daripada akal yg tidak bisa melawan Allah. Dengan hisab saja seakan2 kita berkata bahwa ilmu hisab kita pasti benar dan bulan pasti tampak/tidak tampak. Dan secara tdk langsung akal kita sudah mengharuskan Allah membetulkan akal kita. Padahal peredaran bulan di tentukan oleh Allah, Allah tidak tergantung pada akal manusia. Akal adalah makhluk yg harus tunduk pada Allah. Jadi dengan rukyat kita akan memastikan apakah perhitungan hisab sudah benar apa belum. Ingatlah jangan menganggap ilmu dan akal kita melebihi kebenaran dari Allah.
Hibat menulis:
Sebenarnya keduanya saling melengkapi. Ilmu hisab digunakan sebagai panduan untuk memulai kapan harus melakukan ru'yatul hilal, selain itu juga bermanfaat untuk memprakirakan kejadian alam seperti gerhana. Islam sangat mendorong kemajuan ilmu dan pengetahuan, jadi kalau suatu Ilmu digunakan untuk kepentingan ibadah maka Ilmu tersebut dapat bernilai ibadah pula. Buka pemahaman dan pemikiran kita sehingga tidak jumud.
day menulis:
setuju dengan pernyataan saudara Hibat.
komentar yang lain malah saling hujat.
Baca artikel ini,http://www.riaupos.com/berita.php?act=full&id=377&kat=11. ini lebih seimbang informasinya.
|
kembali ke atas
 |

|