Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Bagaimana pendapat anda tentang ulama tidak perlu mensholati koruptor sebagai hukuman moral, termasuk kepada keluarganya

Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Warta

JELANG RAMADHAN
NU Tertibkan Tempat Maksiat dengan Pendekatan “bil Hikmah”
Kamis, 28 Agustus 2008 11:56

Pekalongan, NU Online
Nahdlatul Ulama (NU) tidak akan menempuh cara-cara kekerasan dalam menertibkan tempat-tempat maksiat seperti tempat hiburan malam, kafe dan warung remang-remang.

“Cara-cara yang ditempuh sesuai dengan pedoman Pengurus Besar NU dalam bermasyarakat, yakni menggunakan pendekatan "bil hikmah". NU tidak menginginkan adanya kekerasan sesama warga,” kata Rais Syuriyah Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan KH Musthofa Bakri kepada kontributor NU Online Abdul Muiz di Pekalongan, Rabu (27/8) tadi malam.

Di Kota Pekalongan sendiri, pengurus cabang NU setempat telah melayangkan surat kepada Walikota Pekalongan agar segera melakukan razia tempat hiburan malam, kafe, warung remang-remang.

Surat tersebut juga meminta pihak berwenang merazia penjaja seks komersial atau PSK hingga melakukan penyuluhan kepada warung makanan yang membuka dagangannya disiang hari agar tidak dilakukan secara vulgar.

Surat yang ditembuskan kepada Ketua DPRD Kota Pekalongan, Kapolresta Pekalongan dan Dandim 0710 Pekalongan agar mendapat perhatian secara serius, sehingga masyarakat Kota Pekalongan khususnya yang muslim dapat menjalankan ibadahnya dengan khusu'.
  
"Secara lisan saya sudah sering menyampaikan ini kepada pemerintah daerah, akan tetapi kurang mendapat respon, sehingga saya merasa perlu melayangkan surat agar mendapat perhatian," kata Kiai Musthofa Bakri.

Dikatakannya, Pekalongan dikenal sebagai kota santri, seharusnya tempat-tempat tersebut diberantas. Namun NU mempercayakan penanganannya pada aparat yang berwenang. Dirinya yakin Walikota dan aparat terkait akan menindaklanjutinya. (nam)

« Kembali ke arsip Warta | Print| Share

Berita Terkait:


Komentar:


des menulis:
saya mencoba mengangkat kembali 'episode puyeng' yg pernah menghentak kesadaran berislam saya sejak sekitar 3 tahun yg lalu (dan mungkin masih cukup terasa hentakannya hingga saat ini) ...

atas fenomena menutup (minimal menampak tidak vulgar) tempat makan pada waktu siang hari ramadhan .. sikap saya mendukung ato malah menentangnya ya ?

'iman' (dengan tanda kutip) saya seolah menuntut untuk mendukung fenom ini .. seakan-akan bila tidak bisa menerima (apalagi bila ketahuan oleh kebanyakan) maka kadar keislaman saya patut dipertanyakan ..

namun sisi nurani saya malah (dengan jujur) bertanya .. apa yg salah dengan tempat makan itu, apakah (dengan 'terlihat' seperti itu berarti mereka 'tidak menghormati' ramadhan ?
jikalau dlm iman (sebernarnya) yg kuat, diidentifikasi dg niat yg ikhlas dan kuat untuk menjalankan puasa dg baik .. apakah akan semudah itu, hanya oleh 'godaan' tontonan makanan, lantas saya rela mengorbankan keindahan ibadah puasa ini ?
padahal ada anak-anak saya (yg belum mampu menjalankan ibadah ini) masih perlu makan ..
ada istri saya (yg dalam keadaan tertentu) yg bahkan 'terpaksa' tidak boleh beribadah ..
dan ada orang-orang tua, sakit dan para musyafir .. yg tentu semuanya butuh tempat (makan) itu tetap beraktifitas (dg memroduksi makanan) ...
des menulis:
blum lagi dogma yg memaksa kesadaranku harus menerima bahwa ramadhan adalah bulan penuh berkah dan rahmat .. semestinya buat semua orang kan, setidak-tidaknya bagi semua muslim lah .. tapi bila tempat makan itu harus menahan diri dari aktifitasnya, apa arti (sempit dan sederhana) dari dogma di atas ?

mungkin ke’puyeng’an saya telah menjerumuskan diri dalam perspektif sempit dalam memandang islam .. tapi setidaknya ini jujur (bukankah ini sejatinya bagian dari keimanan dan nilai luhur yg aku yakini tetap akan universal sampai akhir masa nanti ?

ya Alloh .. betapa jauhnya saya dari mereka yg dengan gagah (ato naif yah) telah mampu melangkah lebih jauh untuk berjihad (ato bersikap jahat yah) .. dengan atas nama islam (dg huruf I kecil) dan kebenaran (versi mereka sendiri tentunya) .. untuk memaksakan kehendaknya (maap yah) menuntut dihentikannya aktifitas rumah makan di siang ramadhan .. dan bila keinginan (jihad ato jahat ini) tidak diabaikan .. maka pentungan yg berbicara dg diiringi lantunan (selain kalimah thoyyibah) caci maki dan cercaan yg amat lantang .. seakan-akan memaksa maikat dan menantang Tuhan !!!

(dengan lirih berujar (dalam setengah langkah keputusasaan) .. ouh betapa tinggi derajat ke’iman’an mereka .. dan betapa hebat ghiroh ‘perjuangan’ mereka-mereka itu)

abi menulis:
marilah kita berprasangka baik atas sikap PCNU Kota Pekalongan, dalam hal warung makan yang gka siang hari di bulan ramadhan. NU menurut saya tidak salah kok, dalam berita itu tidak ada kata yang melarang jualan makanan di siang hari, hanya meminta agar lebih tertutup dan tidak secara terang terangan buka warung. tidak ada yang salah kang, hanya sampeyan saja yang berfikiran sempit dan mengaku paling benar dan apa yang dilakukan NU sudah benar sesuai koridor hukum, tidak main hakim sendiri seperti FPI yang seoalh olah negara ini milik mereka
des menulis:
makasih (atas kepeduliannya) dan salam buat anda .. adi.

memang betul, tidak ada yg salah dg artikel/warta di atas. postingan saya hanya menyoroti diri (dari baca artikel jadi teringat diri sendiri) .. akan 'kepuyengan' saya sendiri terkait masalah seperti ini .. perhatikan (dan dg hormat silakan dibaca kembali) awalan postingan saya tersebut .. jadi tidak hendak 'menggugat' artikel/warta berkenaan, apa lagi semacam 'mengolokin' sikap PCNU Pekalongan itu ..
itu semua hanya 'gerutu' saya terhadap diri sendiri.

just it.

jadi gak ada yg 'salah' di antara keduanya kan ?!

tapi tetap kami haturkan terimakasih, atas kepeduliannya ato bahkan atas sekedar luangan waktu dan perhatiannya untuk menyimak 'gerutuan pribadi' itu ...

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (4-Habis)
Penjelasan Sahabat Umar Tentang Bid'ah yang Baik (31/08/2010)
» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (3)
Lebih Utama Mana Shalat Tarawih Berjamaah Atau Sendiri? (24/08/2010)
Arsip
» Mengenal Asuransi Syariah (15/06/2010)
» Hukum Sadap Telepon (31/05/2010)
Arsip
» Komitmen Keaswajaan dan Kebangsaan (28/08/2010)
» Hilangnya para Penggede (29/07/2010)
Arsip
» REKOMENDASI
Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi (13/03/2010)
» Rekomendasi Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia (25/12/2009)
Arsip
» Arah Kiblat dari Indonesia (18/07/2010)
» Gerakan Peduli Roshdul Kiblat (27/05/2010)
Arsip
» Kepemimpinan Kiai Anwar Musaddad (23/07/2010)
» Kiai Machfudz Siddiq Sang Pemula (22/06/2010)
Arsip
» MEMBANGUN KEDAULATAN PANGAN
Rekonstruksi Kiblat Kebijakan Ekonomi Politik Nasional (31/08/2010)
» Pesantren dan Wajah Islam Indonesia (24/08/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku