Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Apakah anda setuju pemisahan tegas fungsi syuriyah dan tanfidziyah, syuriyah sebagai pengambil kebijakan dan tanfidziyah pelaksana saja

Saat ini, secara aturan organisasi sudah benar, tinggal kemampuan personal syuriyah dan tanfidziyah
Perlu kembali dipertegas, syuriyah dari para ulama, tanfidziyah para profesional
Semuanya sama saja, asal mau bekerja dan amanah untuk NU
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Warta

1 Syawal 1429 Hijriyah Ditetapkan 1 Oktober 2008
Senin, 29 September 2008 19:54

Jakarta, NU Online
Waktu 1 Syawal 1429 Hijriyah atau Hari Raya Idul Fitri tahun ini ditetapkan jatuh pada Rabu, 1 Oktober 2008. Ketetapan itu merupakan hasil Sidang Itsbat Departemen Agama (Depag) di Kantor Depag, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (29/9) petang.

"Izinkan kami menetapkan 1 Syawal pada Rabu 1 Oktober 2008," kata Menteri Agama, Maftuh Basyuni, dalam Sidang Isbat itu yang juga dihadiri para pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam di Indonesia.

Sebelumnya Ketua Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama M Mohtar Ilyas mengatakan, ijtima jelang Syawal terjadi pada Senin 29 September pukul 15.13 WIB. Saat itu, posisi hilal di bawah ufuk.

"Berdasarkan keputusan dari (Pengurus Pusat) Muhammadiyah dan almanak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang menyatakan 1 Syawal pada 1 Oktober 2008. Demikian juga dari dewan dakwah Islamiyah," katanya.

Keputusan tersebut juga didasarkan atas tidak terlihatnya bulan (hilal) oleh para tim rukyatul hilal (pengamatan terhadap bulan) se-Indonesia. Dengan demikian, usia bulan Ramadhan digenapkan menjadi 30 hari atau dikenal juga dengan istilah istikmal.

Ketua Lajnah Falakiyah Pengurus Besar NU, KH A. Ghazalie Masroeri, yang juga hadir pada Sidang Itsbat itu, mengatakan bahwa hasil metode hisab (perhitungan astronomis) NU cocok dengan hasil rukyat.

“Hisab NU cocok dengan rukyat (yang tak dapat melihat bulan) dan kehendak Allah. (kalimat ini) tidak boleh dibalik,” jelas Kiai Ghazalie—begitu panggilan akrabnya, di hadapan para peserta Sidang.

Ia menambahkan, NU tak mengumumkan 1 Syawal 1429 Hijriyah meski sebelumnya sudah diketahui melalui metode hisab. “Ini merupakan sumbangsih NU pada bangsa dan negara. Meski sudah mengetahui hasilnya, tetapi NU tidak mengumumkannya sebelum ada keputusan resmi dari pemerintah,” pungkasnya. (min)

« Kembali ke arsip Warta | Print| Share

Berita Terkait:


Komentar:

Belum ada komentar.

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Shalat di Raudhah Nabi Muhammad SAW (28/10/2009)
» Adzan Berangkat Haji (20/10/2009)
Arsip
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
» Doktrin Aswaja di Bidang Sosial-Politik (15/06/2009)
Arsip
» Peralihan Beduk ke Speaker (20/11/2009)
» Pahlawan dalam Perjuangan (12/11/2009)
Arsip
» Conclusion and Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism Strategy among Civil Society in Southeast Asia. (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» 'Pengarang Ilmiah Menurut Mahbub' (17/10/2009)
» Ketika Kiai Saling Nyantri (19/09/2009)
Arsip
» Bom Bunuh Diri Perspektif Maqasid Syari’ah (03/11/2009)
» Pesan Generasi ’28 (28/10/2009)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku