Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Bagaimana pendapat anda tentang ulama tidak perlu mensholati koruptor sebagai hukuman moral, termasuk kepada keluarganya

Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Buku

Max Weber
Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme
17/06/2006

MEMBEDAH SPIRIT PROTESTAN DALAM IDEOLOGI KAPITALISME
 
Peresensi : Muhammadun AS*

Dikalangan pemikir sosial-humaniora, Max Weber merupakan tokoh penting yang selalu menghadirkan pemikiran-pemikiran baru dan bernas yang kerap kali menimbulkan ketercengangan dan kontroversial. Sehingga tidak salah, kalau karya-karyanya banyak dijadikan rujukan utama ilmuan sosial diberbagai perguruan tinggi, termasuk di Indonesia. Karyanya yang termaktub dalam "Etika Protestan dan Spirit Kapitalsime" merupakan karya yang paling kontroversial, karena telah menyandingkan interpretasi teks agama terhadap gejala munculnya ideologi kapitalisme. Sebagaimana kita ketahui, kapitalisme telah menjadi ideologi terkukuh dan terhandal didunia, mengalahkan berbagai ideologi lain, khususnya sosialisme. Dalam sejarah perjalanannya, ternyata kapitalisme banyak melahirkan ketimpangan sosial, khususnya melahirkan masyarakat marginal yang selalu kalah dan ‘dikalahkan’ yang terakumulasi dalam kelompok negara ketiga. Bahkan sekarang ini telah lahir "warga dunia keempat’ akibat gagal seleksi dalam persaingan industri modern yang setiap saat selalu disalahkan karena tidak progresif dan inovatif.

Begitu ganasnya ideologi kapitalisme dalam memperpanjang ketimpangan sosial, sehingga tidak salah kalau para ilmuan sosial lain "mengutuk" berbagai analisa Weber akan keterkaitan etika Protestan dalam melahirkan ideologi kapitalisme. Bagaimana sebenarnya analisa Weber yang sampai di "kutuk" tersebut? Inilah buku yang menjelaskan pemikiran Weber tersebut. Bagi Weber, dalam upaya merinci karakteristik kapitalsime modern, terlebih dahulu dipisahklan dahulu antara perusahaan kapitalistik dengan upaya mendapatkan kapital. Hasrat mendapatkan kapital sebenarnya sudah ada dihampir semua tempat dan hampir semua kurun waktu. Hasrat ini tidak selalu punya koneksi dengan aksi kapitalistik. Karena orientasi kapitalistik sering melibatkan orientasi reguler pada pencapaian keuntungan melalui perturakaran ekonomik {yang secara nominal berlangsung damai}.

Kapitalisme, dalam bentuk operasi perdagangan, misalnya, sudah ada dalam berbagai bentuk kemasyarakatan; di Babylon dan Mesir kuno, di Cina, di India, dan Eropa pada abad pertengahan. Namun, hanya di Barat lah – dan dalam waktu yang relatif baru- katifitas rasionalistik diasosiasikan dengan organisasi rasional buruh yang secara formal merdeka. Yang dimaksud Weber "organisasi rasional" adalah administrasi yang terukur dan rutin dalam perubahan yang berfungsi secara kontinu. Perusahaan kapitalistis rasional merujuk pada dua hal; tenaga kerja yang terdisiplinkan dan investasi kapital yang diregulasi. Dari sini Weber merumuskan bahwa esensi dari spirit kapitalisme modern adalah keinginan mendapatkan uang melalui akuisisi sebagai tujuan utama hidupnya. Dimanakah sumber "akuisisi"? Disinilah Weber menjelaksan bahwa konsep calling dalam etika protestan. Istilah calling, menurut Weber, tidak ada dalam teologi Katholik atau Antiquitas, tapi diperkenalkan oleh tokoh reformasi gereja, Marthin Luther. Calling pada dasarnya merujuk pada ide bahwa bentuk tertinggi dari kewajiban moral bagi individu adalah memenuhi tugasnya dalam urusan duniawi. Konsep ini memproyeksikan perilaku religius dalam aktivitas keduaniaan sehari-hari. Dalam Protestan, ide ini dikembangkan oleh sekte-sekte seperti Calvinisme, Mathodisme, Pietisme, dan Babtisme.

Dari berbagai sekte tersebut, menurut Weber, Calvinisme mempunyai pandangan paling berpengaruh dalam merumuskan strategi calling. Yakni yang berkaitan dengan adanya teologi takdir. Doktrin ini berbunyi bahwa "hanya orang-orang terpilih yang bisa diselamatkan dari kutukan, dan pilihan itu telah ditetapkan jauh sebelumnya oleh Tuhan".

Dari doktrin ini Weber melihat bahwa menjadi orang-orang terpilih yang menjadikan dinamika progresif dalam perkembangan kaum Protestan. Semua berlomba menjadi orang terpilih, sehingga para pastoral sendiri harus mempunyai keyakinan tinggi dan komitmen yang kuat dalam kerja sebagai aktivitas duniawi. Kesuksesan calling dalam hal ini adalah tanda untuk menentukan orang itu terpilih atau tidak. Kalau mereka dinamis dan progresif, mereka akan menjadi kaum terpilih, namun mereka yang malas dan pasrah maka akan menjadi kaum "terkutuk".

Teologi inilah bagi Weber yang telah mendorong kaum Protestan dalam menyuplai energi dan moral kaum wirausahawan kapitalis. Disiplin tinggi yang disertai semangat memanggul peradaban di masa depan telah menjadikan etika Protestan sebagai spirit paling utama terhadap gerak langkah kapitalisme modern sampai hari ini. Tesis Weber disini, menurut Anthony Giddnens, memang sangat kritis, sehingga ini hanya salah satu fragmen pemikirannya saja. Dalam kesempatan lain, lanjut Giddens, Weber telah mengembangkan pemikirannya dalam menjelajah pemikiran spirit kapitalisme dari Judaisme kuno, Hinduisme, Buddhiisme, dan Konfusionisme. Dalam hal islamisme Weber tidak jadi mengkajinya karena terburu nyawanya diambil Sang Pencipta.

Khusus dalam pemikirannya dibuku ini, Weber mendapatkan banyak kritikan. Salah satunya yang dijelaskan Giddens dalam pengantarnya adalah dari Fischer dan Rachfahl. Mereka mengungkapkan bahwa studi

« Kembali ke arsip Buku | Print| Share


Komentar:


h umar hamdani menulis:
sepengetahuan saya bahwa pendapat max weber dengan bukunya yang berjudul etika Protestan dan Spirit Kapitalisme kurang relevan jika di banding dengan karangan Ulama Muda yang moderat dan pemimpin Muda yang Sangat bersaja Yaitu Prof.DR.Nanang Hariadi SE.MSc. yang biasa di panggil dengan panggilan Gus Har dengan judul bukunya yang sangat terkenal dikalangan Ulama Nadhiyin di bahwa yaitu ANTARA ASMARA DAN NEGARA OLEH DR NANANG HARIADI GUS HAR
adi sunarto menulis:
membaca resensi ini, mengingatkan saya pada tulisan yang sama di TEMPO,7 Mei 2006. apa penulis ini, sdr Muhammadun AS sengaja mendouble tulisan? mohon ini segera dihentikan. org NU,JKT

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (4-Habis)
Penjelasan Sahabat Umar Tentang Bid'ah yang Baik (31/08/2010)
» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (3)
Lebih Utama Mana Shalat Tarawih Berjamaah Atau Sendiri? (24/08/2010)
Arsip
» Mengenal Asuransi Syariah (15/06/2010)
» Hukum Sadap Telepon (31/05/2010)
Arsip
» Komitmen Keaswajaan dan Kebangsaan (28/08/2010)
» Hilangnya para Penggede (29/07/2010)
Arsip
» REKOMENDASI
Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi (13/03/2010)
» Rekomendasi Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia (25/12/2009)
Arsip
» Arah Kiblat dari Indonesia (18/07/2010)
» Gerakan Peduli Roshdul Kiblat (27/05/2010)
Arsip
» Kepemimpinan Kiai Anwar Musaddad (23/07/2010)
» Kiai Machfudz Siddiq Sang Pemula (22/06/2010)
Arsip
» MEMBANGUN KEDAULATAN PANGAN
Rekonstruksi Kiblat Kebijakan Ekonomi Politik Nasional (31/08/2010)
» Pesantren dan Wajah Islam Indonesia (24/08/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku