Fasal tentang Bid'ah (2)
01/03/2007
Jelek dan sesat paralel tidak bertentangan, hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya :
وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا (الكهف: 79)
“Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi : 79).
Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh كل سفينة sama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik كل سفينة حسنة .
Selain itu, ada pendapat lain tentang bid’ah dari Syaikh Zaruq, seperti dikutip Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Menurutnya, ada tiga norma untuk menentukan, apakah perkara baru dalam urusan agama itu disebut bid’ah atau tidak: Pertama, jika perkara baru itu didukung oleh sebagian besar syari’at dan sumbernya, maka perkara tersebut bukan merupakan bid’ah, akan tetapi jika tidak didukung sama sekali dari segala sudut, maka perkara tersebut batil dan sesat.
Kedua, diukur dengan kaidah-kaidah yang digunakan para imam dan generasi salaf yang telah mempraktikkan ajaran sunnah. Jika perkara baru tersebut bertentangan dengan perbuatan para ulama, maka dikategorikan sebagai bid’ah. Jika para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang dianggap ajaran ushul (inti) dan mana yang furu’ (cabang), maka harus dikembalikan pada ajaran ushul dan dalil yang mendukungnya.
Ketiga, setiap perbuatan ditakar dengan timbangan hukum. Adapun rincian hukum dalam syara’ ada enam, yakni wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu hukum itu, berarti bias diidentifikasi dengan status hukum tersebut. Tetapi, jika tidak demikian, maka hal itu bisa dianggap bid’ah.
Syeikh Zaruq membagi bid’ah dalam tiga macam; pertama, bid’ah Sharihah (yang jelas dan terang). Yaitu bid’ah yang dipastikan tidak memiliki dasar syar’i, seperti wajib, sunnah, makruh atau yang lainnya. Menjalankan bid’ah ini berarti mematikan tradisi dan menghancurkan kebenaran. Jenis bid’ah ini merupakan bid’ah paling jelek. Meski bid’ah ini memiliki seribu sandaran dari hukum-hukum asal ataupun furu’, tetapi tetap tidak ada pengaruhnya. Kedua, bid’ah idlafiyah (relasional), yakni bid’ah yang disandarkan pada suatu praktik tertentu. Seandainya-pun, praktik itu telah terbebas dari unsur bid’ah tersebut, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut digolongkan sebagai sunnah atau bukan bid’ah.
Ketiga, bid’ah khilafi (bid’ah yang diperselisihkan), yaitu bid’ah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Maksudnya, dari satu sandaran utama tersebut, bagi yang cenderung mengatakan itu termasuk sunnah, maka bukan bid’ah. Tetapi, bagi yang melihat dengan sandaran utama itu termasuk bid’ah, maka berarti tidak termasuk sunnah, seperti soal dzikir berjama’ah atau soal administrasi.
Hukum bid’ah menurut Ibnu Abd Salam, seperti dinukil Hadratusy Syeikh dalam kitab Risalah Ahlussunnah Waljama’ah, ada lima macam: pertama, bid’ah yang hukumnya wajib, yakni melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dipraktekkan Rasulullah SAW, misalnya mempelajari ilmu Nahwu atau mengkaji kata-kata asing (garib) yang bisa membantu pada pemahaman syari’ah.
Kedua, bid’ah yang hukumnya haram, seperti aliran Qadariyah, Jabariyyah dan Mujassimah. Ketiga, bid’ah yang hukumnya sunnah, seperti membangun pemondokan, madrasah (sekolah), dan semua hal baik yang tidak pernah ada pada periode awal. Keempat, bid’ah yang hukumnya makruh, seperti menghiasi masjid secara berlebihan atau menyobek-nyobek mushaf. Kelima, bid’ah yang hukumnya mubah, seperti berjabat tangan seusai shalat Shubuh maupun Ashar, menggunakan tempat makan dan minum yang berukuran lebar, menggunakan ukuran baju yang longgar, dan hal yang serupa.
Dengan penjelasan bid’ah seperti di atas, Hadratusy Syeikh kemudian menyatakan, bahwa memakai tasbih, melafazhkan niat shalat, tahlilan untuk mayyit dengan syarat tidak ada sesuatu yang menghalanginya, ziarah kubur, dan semacamnya, itu semua bukanlah bid’ah yang sesat. Adapun praktek-praktek, seperti pungutan di pasar-pasar malam, main dadu dan lain-lainnya merupakan bid’ah yang tidak baik.
--(KH. A.N. Nuril Huda, Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) dalam "Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) Menjawab", diterbitkan oleh PP LDNU)
« Kembali ke arsip
Ubudiyyah | Print|
Share
Komentar:
aji menulis:
bukankah pada dasarnya semua jenis ibadah itu adalah haram, kecuali yang dilaksanakan sesuai tuntunan Rosullullah dan dilaksanakan dengan niat yang ikhlas. sesuai dengan namanya ibadah, ibadah adalah hubungan antara manusia dengan sesembahannya yaitu Allah SWT. banyak ibadah yang telah diajarkan oleh Rosullullah dan sebagian besar belum dilaksanakan, mengapa harus mengadakan ibadah2 yang baru yang belum ada tuntunannya. bukannkah sebaiknya kita melaksanakan ibadah2 sesuai yang dicontohkan oleh Rosullullah, kalo kurang lakukan ibadah seperti dicontohkan sahabat kulafaur rosyidin dan seterusnya. tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada para alim ulama, mungkin sebaiknya lebih mensosialisasikan bagaimana ibadah2 Rosullallah, sahabat dstnya.
Dedy H.B. Wicaksono menulis:
Sebenarnyalah Ulama'-ulama' NU dan Ahlussunnah wal Jamaáh tidak mengada2 ibadah baru yang belum ada tuntunannya. Sebaliknya, mereka menghidupkan sunnah-sunnah Nabi dengan kemasan yang baik dan indah sesuai zaman, sehingga masyrakat dapat mengakrabinya. Karena bentuk-bentuk ibadah yang dianjurkan para Ulama' NU selalu ada dalil umum maupun khusus yg menunjukkan kebolehannya atau dianjurkannya (mustahabb). Wallahu a'lam bissawab
Ahmad Sobari menulis:
Assalamualaikum wr wb
kepada para kiayi dan gus-gus
Akhir akhir ini di daerah saya kedatangan beberapa orang yang mengaku salaf saleh, akan tetapi perbuatan mereka tidak emnunjukan perbuatan para salaf saleh. mereka mencela dan mengatakan BIDAH setiap kita melakukan rutinitas Tahlilan, ziarah kubur, muludan dll. mereka dengan mudah mengatakan bhwa semua yang kita lakukan secara turun temurun itu adalah Bidah dan haram. Minta pak kiayi dan Gus-gus untuk turun ke kampung kampung memberikan penjelasan tentang hal ini.
sebagi informasi saja mereka pendatang itu kebanyakan menghuni masjid masjid dan pondok milik NU dan mengsi pengajian mereka. akibatya kita tidak bisa lagi tahlilan dan muludan dll.
minta pencerahan
Wassaam wr wb
Tri Mzuki menulis:
Assalamu'alaikum, [untuk Mas Aji]
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri[1409] dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman
[1410] dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. QS. Hujarat [49] : 11
[1409]. Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh.
[1410]. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: hai fasik, hai kafir dan sebagainya
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan?QS. Al Baqoroh [2]:77
Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati,
QS Al Baqoroh [2]: 139
Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama[1258]. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. QS.Faathir [35]: 28
[1258]. Yang dimaksud dengan ulama dalam ayat ini ialah orang-orang yang mengetahui kebesaran dan kekuasaan Allah.
fanani menulis:
Setuju nih, sama usulnya Kang Ahmad Sobari. akhir-akhir ini banyak orang-orang yang mengacak-acak ajaran Ahlusunnah wal Jamah kita. Mohon donk pencerahannya juga di daerah Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Di sana masih ada organisasi yang namanya Ikatan Mahasiswa Nahdliyyin (IMAN) yang berusaha mati-matian "melindungi" mahasiswa Nahdliyyin yang selalu menjadi sasaran bola panas bidah.
Muluk menulis:
Assalamualikum WR.Wb.
Setelah membaca komentar2 yg masuk, saya melihat ada yg pro dg tulisan Pak Kyai, tp ada juga yg kontra. Sepertinya ada satu hal yg mungkin perlu dijelaskan dan mungkin bisa menjadi titik temu pihak2 yg saling bertentangan yaitu :
APAKAH YG DISEBUT IBADAH ITU HANYA URUSAN AKHIRAT SAJA ATAU MELIPUTI DUA2NYA URUSAN DUNIA & AKHIRAT ?
Jwban pertanyaan diatas akan bisa menjwb pertanyaan berikut :
KALO BEGITU ISTILAH BID'AH BERLAKU UTK URUSAN AKHIRAT SAJA ATAU BERLAKU UTK DUA2NYA URUSAN DUNIA-AKHIRAT ?
Perlu diketahui knp pertanyaan tsb sy sampaikan, karena yg saya dengar sering kali pihak yg kontra bid'ah berdalih bahwa untuk IBADAH KHUSUS TIDAK BOLEH ADA BID'AH, SDGKAN UTK URUSAN DUNIA DISERAHKAN KPD MANUSIANYA.
Demikian,trims
Wassalamualaikum Wr.wb.
Muluk
abu nissa menulis:
Assamu'alaykum warahmatullahi wabarakaatuhu.Saran nih. Biar makalah ato tulisan ini ilmiah, mohon kiranya untuk mencantumkan rujukannya diambil dari kitab apa, juz / hal brp?? Hadist riwayat siapa dan b'gimana derajatnya. Ato hanya pendapat si penulis sendiri. sehingga tulisan tsb bisa dipertanggungjawabkan scr ilmiah.
mauludi menulis:
Assalamualaikum,
maaf Pak Kiai mau ikutan berpendapat,
1)sewaktu Rasulullah SAW shalat tarawih beberapa hari di masjid, kemudian beliau tidak datang lagi ke masjid. Setelah ditanya para shahabat alasannya, beliau menjawab saya khawatir akan dianggap wajib.
2)Rasulullah dulunya mengaharamkan ziarah kubur karena khawatir terjadi penyimpangan, stelah yakin para shahabat aqidahnya sudah kuat beliau menganjurkan.
Kalau kita lihat dari dua kisah diatas, terlihat sekali bagaimana Rasulullah menjaga keorisinilan agama ini, jangan sampai terjadi kesalah pahaman. misalnya yang sunah dianggap wajib.
Kalau yang sunah saja (disyariatkan/diperintahkan) jika dianggap wajib saja sudah dicegah oleh Rasulullah SAW, apalagi kalau yang tidak disyariatkan sama sekali dianggap sunah atau bahkan wajib atau bahkan diannggap sebagai ciri aqidah ahlu sunnah.
Jadi misalnya, kalau ada kematian, kita niat ta'ziah menghibur keluarga si mayit, kemudian di rumahnya kita baca tahlil ,dzikir dsb, tentu suatu yang baik.
Tapi kalau masyarakat sudah meyakini setelah 3,7,40,100 hari kematian, harus ada kumpul-kumpul ini tentu suatu kekeliruan yang harus diluruskan. dan itulah yang terjadi masyarakat meyakini kewajiban kumpul pada hari ke 3,7,40,100, ,seakan-akan angka kramat, yang tidak mengadakan kegiatan itu dianggap bukan ahlu sunah wal jam'ah.
demikian pendapat saya. semoga bisa diterima dengan baik.
Allahu muwafiq ilaa aqwami thariq. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakaatuh.
abdudiof menulis:
kalimat (Bukankah pada dasarnya semua jenis ibadah itu adalah haram, kecuali yang dilaksanakan sesuai tuntunan Rosullullah dan dilaksanakan dengan niat yang ikhlas) .pertanyaanya :kata2 ini ucapan rasul atau ibnu qouyim setahu saya kalimat bijak ini ucapan ibnu qouyim .
langit menulis:
didaerah juga ada kelompok (islam) yang mengatakan bahwa yasiinan, tahlillan dan memperingati maulud nabi adalah bid'ah. sehingga warga yang masih rendah ilmu agamanya ( seperti saya dan yang lain) taku dan terbebani akan hal itu. apakah bener hal itu??//
Mohhil menulis:
Assalamualaikum Wr.Wb
Tolong, segera bertindak tegas, para Pimpinan NU, di kampus-kampus juga banyak kelompok2 Islam, khususnya yang menempati masjid kampus ITS yg sudah berani menyalahkan/ menjustifikasi bahwa amalan yang di amalkan org2 Nahdliyyin selama ini adalah bid'ah dan sesat. Kelompok2 ini sudah menuasai hampir seluruh masjid di kampus2 besar seperti ITS,ITB,UI dan lain2. Mereka juga telah mendirikan Pesantren2 didekat kampus dan banyak juga kader2 muda Nahdliyyin yang nyantri dan menjadi bagian dari kelompok tersebut. Mohon tindakan konkret dan secepatnya. Trima kasih
Moh Idris menulis:
menurut saya, seharusnya orang NU itu mendirikan Universitas NU, dan libatkan masyarakat NU dipelosok untuk bersekolah agama+umum, karena zaman sekarang orang berfikir rasional tidak sepeti dulu(sekarang harus pakai dalil segala), peran media juga sangat penting sekali dimana generasi muda lari ke media(mdia/cetak/internet dll. krn aksesnya mudah) daripada ke ulama/ustad, mungkin harus ada dukungan dari pemerintah kita, seperti negara Arab saudi yang menyokong Fahamnya(ahlusunnah waljamaah saudiah-wahabbiah) keseluruh dunia termasuk di tanah air kita.wallahualam
sujadi menulis:
Jika kita melihat Islam saat ini memang sudah sangat beragam sekali, berbagai kelompok dan masing2 kelompok (firqoh) menganggap dirinya paling benar. Kelompok Islam yang saat ini begitu gencar melakukan 'kampanye' mungkin yang saat ini sedang berkembang di wilayah perkotaan dengan sasaran masyarakat kampus dan terpelajar (seperti yang disampaikan mas Mohhil). Mereka bak jamur di musim penghujan, tumbuh dan berkembang begitu pesat. Di satu sisi memang cukup membanggakan, namun di sisi lain, saya mengkhawatirkan metode atau cara dalam mereka belajar agama yang kadang cukup 'aneh'. Saya katakan 'aneh' karena mereka belajar agama dengan cara 'instan' melalui ceramah dari 1 tempat ke tempat lain dan melalui diskusi2 tanpa menghadirkan alim dan ulama yang ahli pada masalah agama yang didiskusikan. Sehingga tidak aneh jika produk yang dihasilkan adalah orang2 yang cenderung berpikiran sempit dan picik tentang Cakrawala Islam yang begitu luas. Ibarat orang yang baru mulai belajar silat, mengenal satu dua jurus saja sudah merasa jagoan dan tidak terkalahkan. Mereka memang banyak berkembang di sekitar kampus Universitas/PT besar di Indonesia mulai Unair, ITS, Undip, Unsoed, UGM, UNY, IPB, UI, ITB dan yang lain. Saya juga menghimbau kepada rekan2 santri NU yang kebetulan sedang belajar di PT2 terkemuka tersebut untuk merapatkan barisan 'membendung' gerakan mereka yang sebenarnya hanya dibekali semangat tanpa dibekali ilmu agama Islam yang memadai. Mereka cenderung memberikan pemahaman dan citra Islam yang tidak benar...Selamat berjuang....
fahmi back to salaf menulis:
Masing-masing kelompok dengan berani teriak lantang bahwa dirinya adalah Ahlussunnah waljamaah, tapi siapakah sebenarnya ahlussunnah waljamaah itu?silahkan jawab dan diteliti.
dull menulis:
Asslmlkm......,
Saya sepakat dengan pendapatnya mas Sujadi, bahwa banyak mahasiswa2 di perguruan tinggi Negri yg spt itu,
Banyak yang hanya "berguru" hanya kepada Buku. Sedangkan Buku-buku yang beredar banyak sekali, dengan argumen dan dasar pemikiran dari masing-masing penulisnya. Sehingga pemikiran mereka bercampur aduk dan mudah terpengaruh oleh pemikiran2 dari para penulis2 buku tersebut. Tanpa mau menanyakan lebih lanjut kepada alim ulama, hal2 yang dianggap dilarang/haram seperti Bid'ah yang sering ditujukan kepada NU, seperti tahlilan, Salaman seusai sholat, dll.
Tanpa mau mempelajari hikmah atau tujuan dari aktivitas2 tersebut, seperti do'a bersama atau tahlilan.
wslmlkm.
puerto menulis:
Yang penting aku tetep berpegang teguh pada akhlussunah wal jama'ah.
karena aku yakin setiap kegiatan yang dikatakan bid'ah oleh suatu kelompok pasti ada penjelasan yang masuk akal.
dan seringkali kelompok yg mengatakn seperti itu belum mendapatkan penjelasan yang sebenarnya.
[no sms hehehe.....]
Ya ya ya menulis:
Ya gitu deh, dulunya aku juga termasuk yg suka baca buku agama, gak ngguru, gurunya setan (buku), baca satu ngerasa pintar..semua haram..semua bid'ah....Alhamdulillah semua udah reda, yg jelas islam bukan agama formalistik dan sempit.
Iswanto menulis:
Banyak sekali terutama mahasiswa yang bilang bidah, tetapi dirinya justru lebih banyak melakukannya.... contoh.bilang tidak boleh bidah tetapi Shalatnya tidak mau pakai penutup kepala dan hanya pakai kaos/kemeja, mengkaji alquran hanya dari terjemahan (dia tidak sadar bahwa kitab al-quran ---yang berupa kitab seperti sekarang--- yang dia baca tiap hari saja adalah bidah, adanya sejak kholifah abu bakar as sidik), khotbah tidak pakai mimbar tapi pakai podium--yang lebih anyak dipergunakan orang yahudi dan nasrani,dll.
maka dari itu lebih baik kita intropeksi diri sendiri...... gimana????
Djawahir menulis:
Berikut ini kutipan saya dari dari orasi Emha Ainun Najib:
Mengenai ibadah mahdhoh: semua tidak dibolehkan kecuali yang yang telah ditetapkan
Ibadah mahdhoh itu ya ibadah dalam rukun islam yang lima itu (sahadat, shalat, zakat, puasa, haji)
Mengenai muamalah: semua diperbolehkan kecuali yang nyata-nyata di larang; Muamalah, kata Emha, yaitu semua yang diluar ibadah mahdhoh, misalnya baca shalawat (pujian) menunggu imam shalat datang; ini bukan bidah katanya
Henry menulis:
Mohon pak kyai menjelaskan dalil tahlil, ziarah kubur, yasinan, salawatan yang selama ini dilakukan oleh kaum NU.
Terimakasih
[1 of 5]
1,
2,
3,
4,
5 >|
|