Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Kemampuan apa yang paling penting dimiliki oleh jajaran kepengurusan tanfidziyah NU

Manajerial
Berdakwah atau orasi di lapangan
Keilmuan agama
Lobby-lobby politik
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Ubudiyyah

Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati
02/04/2007

Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.

Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.

Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

KH Nuril Huda
Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU)

« Kembali ke arsip Ubudiyyah | Print| Share


Komentar:


zhutix menulis:
Assalmu'alaikum wr. wb
terima kasih pak kyai atas informasi mengenai do'a bagi orang yang sudah meninggal. karena selama ini saya pernah diberi pertanyyan mengenai tahlil apa dasar hukumnya, namun setelah membaca kolom ubudiyah ini saya jadi tahu dasarnya.
kebetulan ibu saya sudah dipanggil Allah jadi saya tetap bisa mendo'akan beliau. ibu saya bernama Umi saroh, jika saudaraku sekalian membaca ini sudilah mambacakan Alfatiha bagi ibu yang saya sayangi. terima kasih, semoga Allah mencurahkan Rahmat kepada Saudaraku sekalian. amin
wassalamu'alaikum
doel menulis:
asalamualaikum wr.wb

Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada penulis, saya hanya ingin memberi komentar: kl doa dari anak yg saleh, pahala sodaqoh memang sampai kepada orang yg sudah meninggal, tp kl bacaan alqur'an mungkin tidak akan sampai karena baca qur'an adalah ibadah yg tidak dpt digantikan/dikerjakan oleh orang lain sama seperti sholat dan puasa ramadhan, trs kl tahlilan juga kayanya nda begitu manfaat dech cm nambahin beban kluarga yg meninggal, apa kita tega makan dari harta anak yatim? kenyataan sekarang kl yg ngadain tahlilan orang susah yg dateng dikit, coba kl yg ngadain tahlilan orang kaya nda diundang juga pada dateng sendiri. itulah yg saya lihat selama ini tentang tahlilan. mohon maaf bila ada kata2 saya yang kurang baik.
Jimmy menulis:
untuk mas doel

segala sesuatu yang kita laksanakan pasti ada baik dan buruknya, tetapi kalau di kaji dari tulisan anda sepertinya terlalu bodoh dan amat sangat dekil karena yang anda lihat hanya kulitnya saja dan anda terlalu mengada-ada. Orang punya hajatan akan mengukur kemampuan untuk mengundang tetangga kalau diberi Rizky lebih pasti akan mengundang lebih banyak tetangga demikian juga sebaliknya. yang penting untuk megadakan acara Tahlilan dll pasti didasari dengan rasa ikhlas.. ikhlas dan ikhlas. Anak yang ditinggal menghadap sang Kholiq tidak bisa berbuat banyak, karena cintanya pada Almarhum anak akan berbuat apa saja yang penting Almarhun diterima disisihNya sesua dengan ALLAH janjikan dengan mengundang tetangga turut mendoa'akan.
Apakah anda tahu bacaan do'a tidak akan nyampe, Belajar lagi mas Doel dan jangan baca artinya saja nanti akan ada tafsir sepotong-potong. Perkara nanti itu urusan ALLAH. yakin akan janji-janji ALLAH pasti akan dapat pahala dari bacaan-bacaan tahlil.
slamet menulis:
Ky nya kamu mesti sering sering dech dekat dengan ulama jadi nggak tersesat karena walaupun bgmana ulama itu pewaris nabi, and kalo ente udeh selalu dekat sm ulama salafushalih insyaallah ketenagan akanada sama diri kita. Dan satu lagi jangan cepat berkomentar kalo ente kagak tahu dasar hukumnya yaa....salam buat keluargamu...semoga do'a yang saya sampaikan ini sampai kepada keluargamu yang sudah meninggal duina, amin..yaa, robbal 'alamin.
sawiji menulis:
baca alqur'an, sholat dan puasa ramadan memang ibadah yang harus dijalani sendiri, namun bersedekah adalah hak dan wajib bagi sumua muslim, termasuk sedekah pahala dari apa yang kita lakukan misal kita baca qur'an yang Allah sendiri janjikan akan dapat pahala kemudian pahala itu kita sedekahkan kepada si mayit, saya yakin akan diterima oleh Allah, karena senyumpun sedekah, apalagi pahala kebaikan.
itu yang saya tahu, dan saya ndak perlu nukil riwayat-riwayat yang mengijinkan kita untuk bersedekah apapun bentuknya dan sedekah untuk siapapun bahkan bersedekah atas nama siapapu.
begitu bang doel
hanif menulis:
assalamu'alaikum Wr.Wb.
untuk saudaraku doel, semoga Allah SWT selalu memberikan antum cahaya nur Illahi yang terang benderang.ana cuma mau ngasih usul pada antum.coba antum cari buku yang berjudul "Bid'ahkah tahlilan dan selamatan kematian?". karangan Drs. KH.M. Sufyan Raji Abdullah, Lc.penerbit Pustaka Al Riyadl.bisa antum dapatkan di toko buku gramedia atau yang lainnya.
semoga bermanfaat buat antum.
wassalamu'alaikum Wr.Wb.
muttaqin menulis:
untuk mas doel,

yang disampaikan adalah pahalanya membaca qur'an bukan membaca quran itu sendiri. ente kerja sama orang terus dapat imbalan duit terus ente ngomong sama yang ngasih duit itu kalo duitnya ente sumbangin buat masjid atau fakir miskin.
Abd menulis:
Terimakasih atas pencerahannya masalah hubungan antara orang yang sudah meninggal dan orang yang masih hidup. Dan memang dalam kenyataan bahwa orang yang meninggal sangat mebutuhkan bantuan orang yang masih hidup dari mulai Memandikan, Mengkafanikan, Menyalatkan sampai Mengukuburkannya. Jadi orang hidup masih dapat memberikan manfaat bagi orang yang sudah meninggal.

Sedangkan untuk masalah Tahlil tidak ada kaitannya dengan masalah Makanan, tahlilan tidak sama dengan membagi-bagikan makanan, makanan hanya sebuah tradisi ketimuran dalam menghormati tamu. Tahlilan tujuannya adalah dzikir dan memanjatkan do'a untuk yang meninggal khusunya dan kaum muslimin wal muslimat pada umumnya. Jadi kalo ada yang tidak suka dengan tahlilan tidak usah menjalaninya.

Insya Alloh orang yang melaksanakan tahlilan dan yang tidak melaksanakannya tidak akan mendapatkan dosa.

Wassalam,
abd
budi menulis:
Sebaiknya mas doel ini lebih berpikiran positif... kenapa tahlilan masih diperlukan?

1. menghibur orang dalam kesusahan itu penting (saya rasa juga merupakan sarana silaturahmi keluarga, saudara, kerabat dan tetangga)
2. tahlil itu tidak menjadi beban material keluarga yang ditinggalkan atau dengan kata lain tidak ada pemaksaan untuk menyediakan konsumsi.
3. membacakan doa utk orang lain yg sudah meninggal meskipun bukan keluarga atau orangtua juga masih penting dan diperlukan, kenapa?
penting karena akan memberikan pelajaran atau melatih diri kita agar dpt mempunyai jiwa atau sifat welas asih pada sesama manusia dan tidak egois (saya sudah buktikan sendiri loh)...dengan hal yg kesannya kecil tidak mengeluarkan harta atau tenaga tapi bermakna juga...gak perlu dengan zakat, atau shodaqoh atau amal2 yang lain. Nggak ada embel2 akan mendapat pahala tetapi hati kita ikhlas mendoakan orang lain kan lebih baiK kan?

Bagi saya tahlil itu masih penting mas doel.. dan tahlil itu bukan hanyalah sesuatu yang
sifatnya berdasar pada ukuran ada atau ketiadaan materi saja.
Jadi, jangan mudah untuk menyalahkan kebiasaan atau pemikiran orang lain. Saya tidak menyalahkan buah pikiran mas doel ini tapi ingin memberikan penjelasan dengan pemikiran lain. Kita harus sadar semua yang manfaat maupun mudharat bagi manusia itu semua milik Allah.
Nurman menulis:
assalamualaikum mas Doel,
Kalo ente gag tahu apakah pahala baca Qurannya itu sampe ape kage yah harus diBuktikan, Yah mungkin caranya jadi "almarhum" dulu dech. nah, kalo masalah sampe ape kagenye, ente kasih tahu ane dech. Ente menilai dari sisi Bid'ah aje sih,.. tp ente konsisten gag sih sama Bid'ah itu sendiri.
JazakumuLLah - wassalamualaikum,
de menulis:
pernah dlm suatu ceramah disebutkan bhw: lebih afdolnya imam masjid adalah orang yang telah beristri,emang dalilnya tau hadistnya.kok terungkap pernyataan itu.
terima kasih atas jawabanya.
doel menulis:
untuk mas jimmy: apa mas jimmy juga tw dasar hukum tahlilan, dan sejarah tahlilan, kpn tahlilan itu dimula? siapa yg memulai? trs saya lom penah denger begitu nabi saw meninggal para sahabat mengadakan tahlilan tuk beliau.apa anda penah mendengar riwayat yg diterima dr sahabat jarir bin abdulah al bajaly, kemudian dikeluarkan oleh imam ahmad bin hambal dan ibnu majah:"kami(para sahabat)menganggap berkumpul dirumah myit, serta penghidangan mknan merupakan bagian dari niyahah(meratapi mayit), atau yg diterima dr talhah kmdian dikeluarkan oleh ibn abi syaibah yaitu: sahabat jarir mendatangi shabat umar, umar berkata:apakah km sekalian suka berkumpul dirumah kluarga mayit? jarir menjawab:tidak, umar berkata apakah diantara wanita2 kalian semua suka berkumpul dirumah keluarga mayit dan memakan hidangan? jarir menjawab:ya, umar berkata:hal itu sama dengan niyahah(meratapi mayit) trs mana mungkin kl ada kumpul2 pihak kluarga mayit tidak menyediakan makanan. umtuk para yg datang?rasanya mustahil! untuk mas hanif: apa anda penah membaca kutipan dr majalah Al -mawa'izd:pangrojong nahdatul ulama tasik malaya halaman 200 tentang tahlilan, majalah ini dikeloloa oleh nahdatul ulama, terbit pada sekitar 1930. dan lagi pula dari 4 mazhab sekarang tidak ada 1 pun yg mendukung tahlilan.
baim menulis:
Assalamu'alaikum Wr.Wb.
Selamat Malam!
Buat saudaraku mas Doel, panjenengan telah memberikan komentar yang dapat membuka wacana berpikir umat Islam, dengan adanya komentar dari mas Doel maka paling tidak dapat mengukur tingkat keimanan dan kepercayaan kepada agama yang kita yakini. maaf kalau tulisan saya ini sedikit nyeleneh. Islam bukan agama kekerasan, apalagi memusuhi sesama saudaranya. betul?
miftha Bravie menulis:
assalamualaikum wrb.
Dalam memahami agama memang perlu kecerdasan. sehingga bisa melihat dengan jernih dan cermat apa yang dimaksud oleh Allah dan rasulnya. tidak dipungkiri perbedaan pendapat dikalangan ummat kebanyakan bukan untuk mencari kebanaran tetapi terlalu ashabiyah (fanatik) terhadap kelompoknya shg kalimat yang terlontar banyak yang datang dari hawa nafsunya.
dalam kaidah ilmu fiqh bahwa dalil yang bersifat umum terbantahkan oleh dalil yang bersifat khusus. dalil Rasulullah saw mengenai terputusnya amal anak adam setelah mati adalah dalil yg bersifat khusus bahwa yang namanya anak Adam itulah adalah seluruh manusia baik laki-laki atau perempuan, kecil atau dewasa, muslim maupun kafir, shaleh maupun fasik jika meninggal akan terputus amalnya. yg bisa menolong adalah hal ketiga tersebut. yg bila kita cermati hal itu semua adalah jerih payah usahanya ketika didunia, seperti usaha mendidik anaknya shg jadi anak shaleh, usahanya menyebarkan ilmu kpd orang lain, dan shadaqahnya, serta keimanan dan keshalihannya ketika masih hidup, shg walau mereka telah meninggal akan memperoleh do'a( QS. Muhammad:19)dan amal yang telah diusahakannya itu ketika masih didunia (hadist ke2 diatas). jadi kalau yg meninggal orang munafik bahkan kafir walau dibacakan do'a satu kabupatenpun ya gak ada artinya. dan jika tahlilan, istighasah dan semisalnya jika itu baik tentunya Rasul kita pasti akan mengajarinya, krn tidak ada satupun risalah yg baik yg tertinggal, pasti akan diajarkan kpd ummatnya. Islam sudah sempurnya jangan menambah hal-hal baru dlm beragama, krn semua itu akan sia-sia.

KOS menulis:
Slamat deh atas beragamnya pendapat, gue sih cuma mau nimpalin. Sedemikian banyak pendapat dari pro kontra dengan dalil masing-masing, kembali aja pada diri kita .... mana yang bikin kita tenang ...... Gua sih ngak masalah tahlil atau ndak, ada tahlilan gua ikut nda ada ya.. wis. bukannya plin-plan, tapi menghormati dan menjaga perasaan sesama muslim nurut gua itu lebih penting dibanding dg mempertahankan hal yang furuiah.... Trims
djawahir menulis:
assalamualaikum w.w
ayo kita belajar terus, sambil mengasah hati kita masing-masing. Soal diterima tidaknya doa kita melalui acara tahlil dsb. kita buktikan nanti di alam sana. setuju ? pesan saya, kalau diterima, jangan suka memvonis buruk orang lain. Okey
Narjohn najich Afnany menulis:
pak miftah ane mo nanya,apa yg dimaksud hal hal baru,
tik kang doel ente kalo ngga suka tahlil ngga usah jelek2in gitu,sudahlah ente laksanakan apa yg ente tau,amar ma'ruf nahi munkar itu wajib,tapi ente harus bisa mengukur efek yg timbul,ente kan ngerti,kali nahi munkar itu ada jenjang,trims
baim menulis:
Assalamu'alaikum W.W.
Argumen-argumen yang disampaikan memang bagus, perlu diberdayakan dengan semangat Islam tanpa perpecahan. perbedaan pendapat sebagai ukuran kemajuan umat Islam. beda pendapat boleh?dari zaman Rasulullah SAW telah banyak perbedaan khususnya yang berhubungan muamalah. Strategi perang, berdagang. kalau bab Ibadah semuanya telah Rasulullah contohkan, Sholat, Haji. kalau tahlilan? mari kita kaji bersama dasar hukum (al-Qur'an dan Hadits, pendapat para ulama-ulama, Mutakadimin/mutaakhirin)semoga bermanfaat.
baim menulis:
lama-lama capek juga?membahas tahlilan, padahal tenaga, pikiran bisa kita gunakan untuk sesuatu yang bermanfaat. membantu tetangga yang tiap hari mikirin makan serba kekurangan, anak yatim, gelandangan dan masih banyak lagi problem masyarakat disekitar tempat tinggal kita.(telah saya dapatkan manfaat dari mengkaji mengenai tahlilan,dari upacara pertama sampai 100 hari) Masya Allah saya jadi takut dengan Firman-Nya dalam surat al-Maa'uun ayat 1-7.
Mada menulis:
assalamu alaikum wr wb

ada baiknya dalam memahami suatu ayat kita pahami apa yang tersurat dan apa yang tersirat. Misalnya, berkumpul di rumah mayat. kalimat tersebut perlu dikaji lebih lebih jauh untuk dapat diartikan sebagai kegiatan meratapi mayat. supaya tidak salah kaprah. Kemudian dalam hal kesempurnaan Islam. Saya terus terang sedang mencari jawaban Maksud dari ayat 3 Surat Al Maidah(klo tidak salah) yang bunyinya "Hari ini telah kusempurnakan..." Apakah yang disempurnakan?seperti apakah kesempurnaan itu (klo dlm bahasa Gus Dur "Islam Kita")?Sejauh yang saya tau,perkembangan Islam itu tidak lepas dari interpretasi/pemikiran(mohon dibenarkan jika saya salah, semoga Allah mengampuni), seumpama diantara kita ingin kembali ke Quran & hadist di saat skr ini, maka otomatis kita pun melakukan interpretasi.Yang kualitasnya malah dipertanyakan. Ada suatu adagium:"klo anda tidak mampu mendekat pada Allah, dekaltilah orang-orang yang dicintai Allah" (dari Gus Miek)
Kemudian dalam hal doa, Allah berfirman:"Berdoalah kepadaku, maka akan kukabulkan doamu". Bagi saya Tahlilan salah satu bentuk doa. Masalah sampai atau tidaknya, terkabul atau tidaknya itu urusan Allah. Dalam hal hidangan,itu bukan hal yang prinsip dlm suatu tahlilan. Malah disuatu tempat ada yang pesertanya membawa makanan sendiri-sendiri kemudian dikumpulkan dan kemudian dimakan bersama-sama. Disinilah ada manfaat kebersamaan. Saling menolong. kerukunan dll. Ada nilai dimana kita tidak hidup egois(individualistis). Oh indahnya hidup dlm kebersamaan, kekeluargaan, dan kerakyatan. Hidup dimana materi bukanlah segalanya. Ketenangan hati dan kedamaian Jiwa.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Saya hanyalah manusia biasa yang tak mungkin lepas dari kesalahan. Oleh karena itu mohon dimaafkan dan diluruskan.
Saya juga bukan orang yang pintar dan bukan juga orang yang menutup diri dari ilmu. Oleh karena itu mohon segala petunjuknya.

Innalloha Ghofur Ar rohiim.

[1 of 6]   1, 2, 3, 4, 5, 6 >|

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (2) (02/02/2010)
» Adat atau Tradisi dalam Beribadah (1) (26/01/2010)
Arsip
» Hasil Munas NU Tentang Hukum Infotainment (14/01/2010)
» Memakai Celana di Bawah Lutut (02/11/2009)
Arsip
» Dari Peran Kebangsaan Menuju Peran Kesejagatan (25/01/2010)
» Fenomena Gus Dur (13/01/2010)
Arsip
» Recomendation from Workshop Raising Awareness of UN Global Counter-Terrorism (19/11/2009)
» Imbauan Rukyat Awal Syawal 1430 H (19/09/2009)
Arsip
» Jalan Tengah Penyatuan Awal Bulan (16/09/2009)
» Awal Ramadhan 1430 H, NU dan Pemerintah Mungkinkah Berbeda? (14/08/2009)
Arsip
» Ketika Kiai Sepuh Nyantri (02/01/2010)
» Pujian Muktamirin untuk H Zainul Arifin (25/11/2009)
Arsip
» Islah PKB Pasca Gus Dur (02/02/2010)
» Membaca Konflik al-Qaeda dan (Pemerintah) Yaman (26/01/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku