Indonesia Arabic English
  Tentang NU Perangkat Pengurus Kontak
  Warta
  Ubudiyyah
  Syariah
  Warta Daerah
  Analisa Berita
  Kolom
  Halaqoh
  Taushiyah
  Iptek
  Fragmen
  Agenda Kegiatan
  Humor
  Redaksi
  Buku Tamu
  Galeri
  Links
  Khotbah
  Kantor
 
 
 
 
Polling NU
 

Bagaimana pendapat anda tentang ulama tidak perlu mensholati koruptor sebagai hukuman moral, termasuk kepada keluarganya

Setuju
Tidak setuju
Tidak tahu

Arsip Polling

 

Warta

Rokok Sehat Buatan Pesantren Bisa Obati Berbagai Penyakit
Kamis, 24 Mei 2007 10:38

Malang, NU Online
Merokok dapat menyebabkan penyakit jantung. Tetapi kalau merokok dengan rokok buatan Pesantren Sehat Perum Kalianyar Permai C1 Sidodadi, Lawang, Malang, Jawa Timur, justru sebaliknya. Rokok sehat ini diyakini bisa menghilangkan beberapa jenis penyakit.

Rokok bermerk 'SIN' yang dibuat oleh seorang ahli terapi kesehatan KH Abdul Malik ini justru mempunyai khasiat mengobati berbagai penyakit seperti darah tinggi, jantung, imponten, asma, paru-paru, sinusitas ringan serta menghilangkan kebiasaan memakai narkoba.

Selain asapnya yang dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit, abu rokok ini juga bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit eksim. "Rokok ini mulai dibuat sejak 2 Mei 2005," kata salah seorang santri pesantren Sehat M. Diponegoro, tulis detikcom, Kamis (24/5).

Rokok yang diproduksi Pabrik Rokok (PR) UD Putra Bintang Timur ini memiliki 4 macam jenis rasa dibuat dari 17 jenis ramuan obat-obatan ini terdiri dari bahan alamiah seperti madu, daun sirih dan daun siwak yang dapat menetralkan kandungan tar dan nikotin.

M. Diponegoro atau yang biasa dipanggil Mas Dipo mengatakan, semua ramuan dicampur dengan tembakau pilihan yang kemudian diolah hingga menghasilkan cita rasa. Setelah itu, semua bahan diproses seperti rokok-rokok lainnya. Cuma yang membedakan, rokok ini dijadikan sebagai terapi atau media penyembuhan segala macam penyakit yang dapat menetralisir zat beracun.

Setelah rokok diproses, kemudian diuji di laboratorium Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Negeri Malang (UM) serta sebuah perusahaan rokok nasional di Malang. "Setelah di uji coba, kadar nikotin sangat rendah dan mendekati 0 persen," papar dia.

Sementara Mudjiono, bagian pemasaran PR UD Putra Bintang Timur, mengatakan, rokok yang diproduksi Pesantren Sehat per harinya sekitar 2.000 bungkus. Rokok-rokok ini dipasarkan ke berbagai kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Sumbawa, Bandung dan Madura. (dtc)

« Kembali ke arsip Warta | Print| Share


Komentar:


Mujtahid menulis:
Pertama,
Untuk pengujian suatu zat ditentukan oleh media ujinya, jika zat tersebut untuk dikonsumsi oleh manusia (biologis) maka media ujinya harus biologis dan tidak dapat disamakan dengan mesin. Media biologis memiliki berbagai proses mekanisme biologis tubuh, sanagt berbeda dengan mesin. Media mesin tidak memiliku proses mekanisme tersebut sehingga dengan kata lain jika ada kotoran diatas mesin jika dibersihkan akan bersih total.
Zat yang masuk dalam tubuh akan mengalami kumulatif pengendapat dan proses penyerapan ditentukan oleh berbagi organ dan sistem tubuh lainnya. Dan itu sangat berbeda dengan mesin yang hanya mengandalkan "biji besi" yang terkandung dalam mesin dan tidak memiliki proses penyerapan yang dipengaruhi oleh lainnya. Simulasi : Apa yang dimakan oleh manusia akan menyisakan yang berbeda sekali kandungannya. Berbeda dengan pengolahan sampah oleh mesin dimana hasilnya memiliki unsur yang sama dengan bahan/sampah yang digunakan.

Kedua,
Rokok tidak dapat dilihat dari bahannya saja (tembakau), tapi harus melihat dari semua unsur: Kertas, Busa, dan juga Proses merokok.
1. Kertas, kita tahu kertas tersebut mengandung pewarna (putih, coklat, dll) yang digunakan oleh rokok yang mana kita juga tahu bahwa pewarna makanan sanagt berbahaya untuk dikonsumsi apalagi pewarna kertas.

2. Busa,Gabus (filter), yang berbahankan plastik sangatlah berbahaya untuk dikonsumsi coba kita lihat dibeberapa Tempat Pembuangan Akhir (TPA, Sampah) busa/gabus yang dibakar kelihatan asapnya hitam dan bau yang tidak enak.

3. Proses, (sedikti ilmiah) merokok terjadi adanya pembakaran yang menghasilkan Karbandioksida (CO2) yang SANGAT-SANGAT tidak dibutuhkan dan beracun bagi tubuh sehingga apapun alasan bahan yang sehat/baik sekalipun untuk bahan rokok tetapi jika prosesnya menghasilkan CO2 bukanlah menghasilkan yang sehat.

Kesimpulan:
Merokok = menjemput sesuatu yang berbahaya untuk diri sendiri.
Hal ini bertentangan dengan perintah Allah SWT bahwa janganlah kita menganiaya diri sendiri
Praditya menulis:
Assalamu'alaikum
Kalau begitu penemuan ini diujikan saja ke makhluk biologis. Jika memang bermanfaat, kenapa tidak diproduksi massal. Kan membuka lapangan kerja dan menyelamatkan para petani tembakau, atau para petani tembakau mengganti budidaya tembakau dengan tanaman sirih/siwak. Mas Mujtahid jangan langsung pesimis, kan belum diujikan. Kalau masalah kertas dan pewarna makanan, kenapa kita tidak berinovasi membuat bungkus dari bahan daun?atau pakai kertas yang tidak bepewarna. Gabus nggak usah digunakan, anggap saja rokok kretek. Lagipula banyak makanan kemasan yang rata-rata pakai zat pewarna. Saya juga masih bingung, bahan dasar rokok yang tembakau itu sebenarnya halal atau haram?Juga racun dalam rokok itu sebenarnya lebih banyak berasal darimana?dari tembakaunya kah?dari kertasnya kah?dari gabusnya kah?atau dari sausnya?Ini bisa jadi solusi dan jalan tengah bagi yang pro dan kontra rokok.
Gus Gusan menulis:
Inilah kalau warga sebagian NU dikungkung ama pendapat kyai perokok tulen ... dikepalanya cuma nikotin sebagai bahan berbahaya huahahaha kalau 0% berarti aman pokoknya, tapi mereka nggak menghitung ada jutaan unsur kimia berbahaya lainnya.
Ajat Sudrajat menulis:
Saya ingin tahu lebih dalam mengenai rokok terapy kesehatan yang di bicarakan. bolehkah saya tahu dimana alamat lengkap KH. Abdul Malik, dan juga jika ada no kontak nya. biar saya dapat bersilaturahmi ketempatnya ,, terimakasih...
kamaludin menulis:
ass,mau tanya klo pembelian roko sin itu lwat mana?di daerah saya jg ada tapi ko harga nya mahal,tida sesuai dengan harga yang tertera di roko sin.malah jauh lebih mahal.mohon infonya. . .wsslm.
Fahmi menulis:
Kita sebagai mahluk yang memang masih banyak kelemahan baik dari sisi lahir dan batin hanya bisa berdo'a semoga rokok sin ini memang benar2 seperti yang kita harapkan kebenaran khasiatnya. Saya khususnya melihat segala sesuatu dari segi baiknya dahulu, karena kita tidak tahu sejauh mana ke khossan seorang KH. Abdul Malik, bisa jadi beliau lebih tahu dari pakar2 rokok sejagad ini. Dan mengenai bahan kimia yang mungkin terkandung dalam rokok tersebut sebelum atau setelah di hisap oleh makhluk hidup itupun bisa jadi telah dibuat dengan suatu metode yang mungkin kita tidak pahami atau berbeda sama sekali dengan metode yang para pakar rokok buat, karena saya yakin KH. Abdul Malik itu mungkin bukan orang biasa. Apakah kita tahu bagaimana cara kerja seorang nabi atau wali melihat sesuatu zat atau dunia ini? kita tidak bisa membayangkan bagaimana seorang wali atau nabi itu memerankan perannya yang ditugaskan oleh Allah SWT. Wallahu 'a'lam ! saya hanya berkhusnuzdon saja sama KH. Abdul Malik.

Nama
Email
Website
Judul komentar
Komentar

Kode
Masukkan kode huruf di atas pada isian di bawah ini
 

kembali ke atas
 

 

» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (4-Habis)
Penjelasan Sahabat Umar Tentang Bid'ah yang Baik (31/08/2010)
» FASAL TENTANG SHALAT TARAWIH (3)
Lebih Utama Mana Shalat Tarawih Berjamaah Atau Sendiri? (24/08/2010)
Arsip
» Mengenal Asuransi Syariah (15/06/2010)
» Hukum Sadap Telepon (31/05/2010)
Arsip
» Komitmen Keaswajaan dan Kebangsaan (28/08/2010)
» Hilangnya para Penggede (29/07/2010)
Arsip
» REKOMENDASI
Lokakarya Nasional Pengembangan Rumah Sakit NU dalam Era Globalisasi (13/03/2010)
» Rekomendasi Konferensi Persaudaraan Muslim Dunia (25/12/2009)
Arsip
» Arah Kiblat dari Indonesia (18/07/2010)
» Gerakan Peduli Roshdul Kiblat (27/05/2010)
Arsip
» Kepemimpinan Kiai Anwar Musaddad (23/07/2010)
» Kiai Machfudz Siddiq Sang Pemula (22/06/2010)
Arsip
» MEMBANGUN KEDAULATAN PANGAN
Rekonstruksi Kiblat Kebijakan Ekonomi Politik Nasional (31/08/2010)
» Pesantren dan Wajah Islam Indonesia (24/08/2010)
Arsip


 

© 2005 PBNU. All Rights Reserved. Powered by TRANSFORMATIKA
Best viewed with IE 5 or above in 800x600 monitor resolution.

Ke Halaman Utama Tokoh Buku