::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menag Minta Guru Besar Tak Mengasingkan Diri dari Isu Aktual

Sabtu, 08 Desember 2018 14:17 Nasional

Bagikan

Menag Minta Guru Besar Tak Mengasingkan Diri dari Isu Aktual
Menag Lukman Hakim Saifuddin (Humas Pendis)
Bandung, NU Online
Pada saat ini kehidupan umat beragama di Indonesia mendapat ancaman serius seiring dengan datangnya era disrupsi dalam segala bidang. Ketika informasi sudah bergerak cepat tanpa batas teritorial, pengaruh transnasionalisasi Islam membawa dampak negatif bagi kehidupan beragama dan bernegara.

Demikian diungkapkan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di depan 100 guru besar Perguruan Tinggi Islam dari seluruh Indonesia, saat membuka acara The 2nd Islamic Higher Education Professors (IHEP) Summit di Hotel Aquilla, Bandung, Sabtu (8/12).

Era disrupsi teknologi telah menyeret umat beragama pada perilaku berlebihan, dengan dua kutub ekstrem yaitu konservatifisme dan liberalisme. Menurut Menag, keduanya menciptakan ancaman, tidak hanya bagi keberagamaan tetapi juga keindonesiaan.

Maka dari itu Menag meminta para guru besar di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam mengambil bagian secara aktif dalam mewujudkan keberagamaan yang damai dan moderat di Indonesia, tidak mengalienasi (mengasingkan) diri.

Banyak fenomena aktual, seperti maraknya dakwah dengan cara marah, kontroversi bendera tauhid, dan isu-isu keislaman politis meluncur ke hadapan publik meluncur begitu saja tanpa tinjauan akademis yang mencerahkan.

“Mengapa tak pernah ada studi yang mendalam tentang ini? Ini current isuses yang umat menunggu-nunggu,” tegas Menag. 

Seharusnya persoalan aktual yang terjadi harus direspon dengan pendekatan akademik yang kaya basis ilmiah. Peran guru besar itu tidak hanya seputar pengajaran, riset, kajian ilmiah, dan pekerjaan akademis saja.

Tetapi yang tidak kalah pentingnya adalah community services. Menag mengkritik para guru besar yang kurang sensitif terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya. 

Kalau pendidikan hanya dimaknai transformasi ilmu pengetahuan, maka gadget berperan lebih baik. Dalam genggaman tangan, gawai jauh lebih cepat memenuhi kebutuhan pengetahuan dan informasi, melebihi dosen, dan guru besar. 

Pakar studi Islam yang menjadi dosen tetap di Monash Universuty Australia, Nadirsyah Hosen yang hadir menjadi nara sumber pada pertemuan ini mengkhawatirkan angin politik Arab Springs yang membuat negara-negara Islam bergejolak dan akan berdampak ke Indonesia dengan cara meniupkan radikalisme dan konservatifisme yang merusak keberagamaan Indonesia.

Sekarang banyak influencer medsos yang bicara tanpa latar belakang ilmu. Ini investasi kerusakan jangka panjang. “Maka guru besar harus merebut kembali wacana publik untuk masa depan agama dan negara,” katanya.

Di Amerika Serikat, yang budaya literasinya bagus ternyata dapat ditembus oleh propaganda negatif melalui media sosial. Ketika hoaks menjadi panglima dalam mengambil keputusan, maka masa depan bangsa ini dalam bahaya besar.

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Kamaruddin Amin mengatakan, pertemuan para guru besar ini merupakan upaya Kemenag dalam melibatkan guru besar secara lebih mendalam dalam memecahkan persoalan fundamental dalam proses menjaga situasi beragama dan berbegara secara kondusif di tengah pengaruh global yang menarik ke arah radikalisme. 

Pada pertemuan yang mengambil tema Membingkai Agama dan Kebangsaan ini, Kemenag mendorong para guru besar melahirkan rumusan strategis sebagai solusi problem konservatisme di berbagai level sosial di tanah air.

“Dedikasi para guru besar sangat fundamental dalam merespon munculnya konservatisme beragama,” tandas Kamaruddin. (Red: Fathoni)