::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nama dari Kiai untuk Santri

Kamis, 13 Desember 2018 16:00 Esai

Bagikan

Nama dari Kiai untuk Santri
KH Imam Syamsuddin
Oleh Abdullah Alawi

Semula ia bernama Bambang Margono, tapi ketika menimba ilmu di Tebuireng, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menggantinya dengan nama Ahmad Shobari. Nama pemberian Hadratussyekh itulah yang melekat kepadanya. Kecintaannya kepada Hadratussyekh, dilakukannya dengan mengajar di Tebuireng. Dia bolak-balik rumah dan pesantren selama 33 tahun dengan menggunakan sepeda ontel sejauh 5 km.

Menurut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagaimana dikutip di buku Kiai Shobari; Santri Kinasih Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, Kiai Shobari tidak pernah mengeluh menjalani puluhan tahun bersepeda. Tanda takzimnya kepada guru, ketika memasuki kompleks Tebuireng, ia akan menuntun sepedanya itu. Lalu setelah agak jauh, Kiai Shobari akan menunggangi sepedanya lagi. 

Soal kiai yang mengganti nama santri dialami tokoh NU Kabupaten Sukabumi, KH Imam Syamsuddin. Ia mengaku diberi nama depan oleh KH Ahmad Syaikhu, salah seorang tokoh NU tahun 70-an. 

“Sebelumnya nama saya hanya Syamsuddin,” katanya. 

Kemudian ia bercerita bagaimana pertemuannya dengan KH Ahmad Syaikhu. "Pada tahun 1974, usia saya baru berusia 18 tahun, nyantri di pesantren Al-Falah yang dipimpin KH Abdullah Sanusi, tokoh NU Sukabumi yang mewakili daerahnya menghadiri Muktamar NU 1952 di Palembang,” jelasnya. 

Pada tahun tersebut, sambung Syamsuddin, pesantren Al-Falah dikunjungi tiga tokoh NU, yaitu KH Idham Chalid, KH Ahmad Syaikhu dan Subhan ZE.

“Kalau tidak salah urusan partai PPP,” katanya.

Santri Syamsuddin dipercaya ajengan untuk menerima tamu, memberi suguhan makanan, dan minuman. Ketika ia hendak undur diri, entah sebab apa, KH Ahmad Syaikhu menahannya. 

“Sebentar, siapa namamu?” tanya KH Ahmad Syaikhu.

“Syamsuddin,” jawabnya.

“Saya kasih tambahan nama depan ya. Ditambah Imam. Jadi, Imam Syamsuddin.”

Syamsuddin adalah santri yang menghormati guru. Juga sahabat guru. Diberi nama depan seperti itu, diterima dengan ikhlas. Nama depan “Imam” melekat hingga sekarang.

Selain aktif di NU, Syamsuddin yang juga jebolan jurusan sejarah IKIP Bandung ini adalah dosen di STAI Al-Masthuriyah. Juga mubaligh populer di Sukabumi. Salah satu ciri khas ceramahnya selalu bernuansa sejarah lengkap dengan tanggal dan tahun. 

Selain itu, ia aktif mengajar ngaji ibu-ibu dan bapak-bapak di kediamannya, Cibadak, Sukabumi.

Di pesantren, saat saya mengaji di Pondok Pesantren Assalafiyah Nurul Hikmah, ada santri yang semula bernama Dadan. Kemudian oleh sang kiai diubah menjadi Ma’mun Nawawi. Nama tersebut merupakan tafaul kepada pengasuh pesantren Baqiyatus Solihat, Cibarusah, santri Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari yang dikenal dengan ahli ilmu falak.


Penulis adalah warga NU Kelahiran Sukabumi