::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

KH Oding Muhammad Abdul Qodir dan Lima Amalan Hidupnya

Kamis, 13 Desember 2018 22:00 Tokoh

Bagikan

KH Oding Muhammad Abdul Qodir dan Lima Amalan Hidupnya
KH Oding Muhammad Abdul Qodir
Kiai Haji Oding Muhammad Abdul Qodir atau yang biasa akrab disapa dengan Engkang atau Apa, merupakan sesepuh Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia dilahirkan dari pasangan Ahmid dan Encum di Tasikmalaya pada tanggal 8 Agustus 1942.

KH Oding menuntut ilmu agama di beberapa pondok pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Al Ihsan, Pesantren Al-Ihsan Ashorfiyah Ciharashas Tasikmalaya, Pondok Pesantren Bantar Gedang, Pondok Pesantren Cihaji, Pondok Pesantren Sadang Garut, Pondok Pesantren Darul Qur’an Cianjur.

Semasa hidupnya Engkang aktif berorganisasi, di antaranya di Gerakan Pemuda (GP) Anshor, di Kecamatan Tamansari sebagai Ketua Pendidikan dan di MUI Mulyasari sebagai ketua. Pada tahun Tanggal 8 Agustus 1970, Engkang menikah dengan Epon Muhlisatul Anwariyah, yang kemudian mempunyai tujuh anak. Ketujuh putra-putrinya Ai Nuraisyah (almarhum), Ade Ida Nurfarida, Rosyad Nurdin, Iip Nafisah, Ujang Alawil Hadad Abdussalam, Ali Maemuham (Almarhum), dan Cucu Mahmudah.

Engkang juga mempunyai peran dan andil yang besar baik di Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum maupun di masyarakat. Di Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum, selain sebagai sesepuh, ia juga yang sekaligus sebagai Dewan Kiai Pengajar. Adapun di masyarakat, selama 48 tahun menjadi Ketua DKM. Selain itu ia juga menjadi Kepala Madrasah Diniyah selama 23 tahun.

Peranannya dalam bermasyarakat selama hidupnya selalu diabdikan untuk keumatan. Tidak hanya di lingkugan masyarakat Desa Mulyasari yang menjadi tempat tinggalnya, melainkan juga ke lingkungan masyarakat sekitar, seperti Desa Babakan Jati, Ciburuyan, Salamitan, Sumur Haur, Bojong Herang, Sumur Dago dan Sukasirna.

Amaliah yang selalu dibiasakan oleh Engkang adalah shalat awal waktu dan khatam Qur'an dalam seminggu sebanyak dua hingga tiga kali. Beberapa ungkapan hikmah dan nasihatnya adalah Rek di mana wae  gaul, ulah jauh jeng masjid (Di mana saja bergaul, jangan jauh dari masjid); Sing gede pangampura ka jalma anu bodo (Berbesar maaflah kepada orang yang bodoh).

Nasihat lainnya, Tong cape mikiran urusan dunia (Jangan lelah memikirkan urusan duniawi); Sing jaradi ahli kahadean naon bae anu mampu (Jadilah ahli kebaikan apa saja yang mampu); Saalitken carios, seerken damel (Sedikitkanlah berbicara, perbanyaklah kerja).

Engkang wafat pada hari Jumat 7 Desember 2018 pukul 19:05 WIB pada usia 78 tahun di Rumah Sakit Jasa Kartini Tasikmalaya. Berita kewafatannya yang tersebar di grup Whatsapp Info Muqimin Muqimat MU yang menjadi media interaksi dan informasi bagi para alumnus Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya.

Berita tersebut mengundang kesedihan yang mendalam bagi para murid, keluarga dan masyarakat yang mengenalnya. Mereka berdoa, KH Oding Muhammad Abdul Qodir wafat dalam keadaan khusnul khatimah, diampuni semua dosanya, dan diterima amal ibadahnya. Alfatihah.

Muhammad Azis, alumnus Pondok Pesantren Mabdaul ‘Uluum Mulyasari Tamansari Tasikmalaya.