::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mata Rantai Keilmuan Kiai Sarang

Senin, 17 Desember 2018 11:00 Pustaka

Bagikan

Mata Rantai Keilmuan Kiai Sarang
Kealiman seorang santri tidak dapat dipisahkan dengan kiainya, yang menggulo wentah (mengajar) dengan penuh kesungguhan. Selain tirakat lahir, mereka juga tirakat batin, dengan selalu mendoakan santrinya agar menjadi orang yang dapat meneruskan perjuangannya dalam mengemban amanah, menyebarkan agama Islam. Ilmu yang diajarkan, bukan sekedar ilmu biasa, namun ilmu tersebut bersambung dengan sumber aslinya, shâhibu al-syari’ah, baginda Nabi Muhammad SAW.

Kesinambungan keilmuan tersebut dirawat dengan adanya sanad atau silsilah keilmuan yang ditransmisikan dari satu generasi ke generasi yang selanjutnya hingga sampai sekarang. Ilmu sanad ini hanya dimiliki oleh umat Islam, tidak selainnya, sehingga kitab suci selain Al-Qur’an, rawan mengalami sebuah distorsi (tahrif) di dalamnya.

Tradisi keilmuan di Pesantren Sarang sangat erat dengan transmisi silsilah keilmuan, sanad. Setiap usai menghatamkan sebuah kitab, semisal Shahih Bukhari, maka kiai atau ustadz yang mengampu mata kuliah akan membacakan riwayat keilmuannya yang diriwayatkan dari gurunya hingga kepada pengarang kitab Shahih Bukhari, yaitu Imam Bukhari.

Selain pembacaan sanad kitab, juga terkadang dibacakan silsilah keilmuan fiqih Mazhab Syafi’i melalui mata rantai emas, silsilatu al-dzhab, yang diriwayatkan dari ulama alim yang menjadi rujukan pada zamannya, seperti silsilah keilmuan yang diriwayatkan Kiai Zubair Dahlan, ayahanda Kiai Maimoen Zubair dari Syekh Said al-Yamani (murid Syekh Ahmad Zaini Dahlan), Syaikh Hasan al-Yamani (murid Sayyid Umar Syatha), Syekh Ibnu Maya’ba al-Syinqithi (murid Syekh Mahfudz al-Termasi), Syekh Baqir al-Jukjawi (murid Syekh Mahfudz al-Termasi dan Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi), dan Kiai Faqih Maskumambang (murid Syekh Mahfudz al-Termasi). Semua silsilah ini jika ditelusuri akan berhujung kepada silsilatu al-dzahab, sebagaimana yang dikupas dalam buku ini.

Selain tradisi riwayah, Kiai Zubair Dahlan sangat menekankan dirayah, bahkan ini yang lebih diunggulkan. Oleh sebab itu, maka tidak mengherankan jika muridnya banyak menjadi seorang ulama atau nibras (cahaya) dalam bidang masalah pengembangan agama Islam ketika mereka sudah berkiprah di tengah masyarakat.

Di antara muridnya adalah Kiai Maimoen Zubair, Kiai Muslih ibn Abdurrahman al-Maraqi (Mranggen), Kiai Ustman al-Maraqi, Kiai Muradi al-Maraqi, Kiai Hisyam Cepu, Kiai Sahal Jepara, Kiai Ridwan Bangilan, Kiai Jauhari Jember,  Kiai Bisyri al-Hafi Cepu, Kiai Masyhudi Merakurak, Kiai Manfuri Merakurak, Kiai Habib Sayyid Zaen al-Jufri, Kiai Abdul Fattah Sendang, Kiai Shiddiq Sendang, Kiai Muslih Tanggir, Kiai Abdul Khaliq Laju, Kiai Masyhudi Senori,  Kiai Kurdi al-Makki, Kiai Matin Mas’ud Cilacap, Kiai Shiddiq Narukan, Kiai Sahal Mahfudz Kajen, Kiai Abdul Wahab Sulang, Kiai Syahid Kemadu, Kiai Dahlan Surabaya, Kiai Ghazali Bojonegoro, Kiai Fayyumi Siraj Kajen, Kiai Tamam Siraj Pamotan, Kiai Ibrahim Karas, Kiai Humaidi Narukan, Kiai Syifa Makam Agung, Kiai Abdul Ghafur Senori, Kiai Harun Kalitidu, Kiai Masyhudi Madiun, Kiai Mursyid Klaten, Kiai Abu Thayyib Solo, Kiai Hambali Demak, Kiai Sholeh Kragan, Kiai Masyhudi Blora, Kiai Abdussalam  Rengel, Kiai Syaerozi Cirebon, Kiai Izzudin Cirebon, Kiai Nashiruddin Cirebon, Kiai Idris Marzuqi (pengasuh Pesantren Lirboyo), Kiai Islahudin Dukuhseti, Kiai Muslim Mranggen, Kiai Dimyathi Rais Kendal, Mbah Dim Ploso, Kiai Nawawi Sidogiri, Kiai Hasani Sidogiri, dan lain-lain.

Dalam buku ini, Amirul Ulum, sang penulis biografi ulama Nusantara, mengupas dengan detail manaqib atau biografi Kiai Zubair Dahlan, mulai dari  masa kecil hingga wafat. Sumbangsihnya dikupas dengan bahasa yang mudah dipaham, terutama bagi kalangan pesantren.

Kontribusi Kiai Zubair Dahlan yang dikupas dalam buku ini di antaranya, keberhasilannya dalam mendidik santrinya, bertafaqquh fiddin, melanjutkan tradisi keilmuan baginda Nabi Muhammad SAW, menjadi pimpinan pejuang dalam mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan (ketika terjadi Agresi Militer Belanda), menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, pengabdiannya dalam organisasi Nahdlatul Ulama, menjadi Syekh Haji, jaringan-jaringannya, baik lokal maupun internasional (melalui media Haramain), dan lain-lain.

Tak kalah pentingnya, dalam buku ini telah dikupas tentang sifat mulia Kiai Zubair Dahlan yang sangat memperhatikan kehidupan fakir dan miskin. Setiap usai menjalankan salat Jum’at, ia sering mengunjungi rumah-rumah penduduk, terlebih kaum fakir dan miskin. Ia mendermakan sebagian hartanya untuk berbagi kepada orang yang membutuhkan. Ia juga mengajak  kepada hartawan di wilayah Sarang dan sekitarnya untuk ikut mendermakan harta mereka.

Ia sangat dermawan sekali, meskipun kenyataannya, ia bukanlah orang yang kaya. Sebab kedermawanannya ini, maka tidak mengherankan jika ia sangat akrab dan disegani oleh kaumnya. Tentang kefakiran Kiai Zubair Dahlan, Kiai Maimoen Zubair mengatakan, “Beliau (Kiai Zubair Dahlan) adalah salah satu Masyayikh Sarang yang hidup dalam kondisi fakir dan wafat juga dalam keadaan fakir.”

Selain mengupas tentang biografi Kiai Zubair Dahlan, pemikirannya, jaringannya, dan kiprahnya untuk agama dan bangsanya, buku ini juga mengupas sebagian manaqib Masyayikh Sarang seperti Kiai Ghozali al-Sarani, Kiai Umar al-Sarani, Kiai Syu’iab al-Sarani, Kiai Fathurrahman al-Sarani, dan Kiai Ahmad Syu’aib al-Sarani.

Kejayaan Pesantren Sarang dimulai pada zaman Kiai Umar al-Sarani dan Kiai Syu’aib al-Sarani. Pada masa kepengasuhannya, Pesantren Sarang diserbu banyak thalabah dari berbagai kawasan, khususnya pulau Jawa.

Mereka banyak menjadi orang berpengaruh ketika kembali ke kampung halamannya seperti Kiai Khalil Kasingan, Kiai Baidlowi al-Lasemi (Rais Akbar Thariqah Ifadhiyyah Nahdlatul Ulama dan pencetus gelar Soekarno, huwa waliyyul amri adh dharûry bi al-syaukah), Kiai Ridwan Mujahid (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Ma’shum Ahmad (pendiri Nahdlatul Ulama), Kiai Muhaimin al-Lasemi (pendiri Dar al-Ulum (Makkah) dan pengajar di Masjidil haram), Kiai Bisri Syansuri (pendiri Nahdlatul Ulama), dan lain-lain.

Persesensi adalah Dwi Oktaviani Kurniawati, pemerhati Kajian Sejarah Ulama Nusantara

Identitas buku:
Judul Buku: KH Zubair Dahlan: Kontribusi Kiai Sarang untuk Nusantara & Dunia Islam
Penulis: Amirul Ulum
Penerbit: Global Press Yogyakarta
Tebal: 452 halaman (xxxii + 420)
ISBN : 978-602-5653-24-7