::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Khutbah Pertama Rasulullah

Selasa, 18 Desember 2018 20:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Khutbah Pertama Rasulullah
Rasulullah mulanya mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengajak keluarga, kerabat, dan temannya untuk masuk Islam dari satu pintu ke pintu lainnya (door to door). Kejadian ini berlangsung beberapa saat. Kasak-kusuk tentang Rasulullah menerima risalah kenabian sudah terdengar ke sebagian masyarakat Makkah pada saat itu. Hingga kemudian datang perintah dari Allah agar Rasulullah menyerukan Islam secara terang-terangan.

Rasulullah kemudian mengundang keluarganya dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib untuk berkumpul di suatu tempat. Rencananya, pada pertemuan itu Rasulullah hendak menyampaikan apa yang diterimanya dari Allah. Tentang ajaran agama tauhid. Islam. Akan tetapi, salah seorang paman Rasulullah, Abu Lahab, langsung menentangnya. Dalam pertemuan tersebut, Abu Lahab malah meminta Rasulullah untuk menghentikan dakwahnya.  Setelah itu, kerumunan orang bubar. Begitu pun Rasulullah. Rasulullah yang hendak menyampaikan dakwah pertamanya pun gagal   

Rasulullah tidak patah arang. Ia mengundang lagi masyarakat Makkah untuk berkumpul di suatu tempat beberapa saat setelah kejadian itu. Kali ini Rasulullah berhasil menyampaikan khutbahnya. Dan ini menjadi khutbah pertamanya setelah menerima risalah kenabian. Rasulullah memulai khutbah pertamanya dengan menyebut kalimat tauhid: Tidak ada Tuhan selain Allah dan tidak ada sekutu baginya.

“Sesungguhnya seorang pemimpin tidak mungkin membohongi keluarganya sendiri. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Dia. Sesungguhnya aku adalah utusan Allah (Rasulullah) yang datang kepada kalian secara khusus dan kepada manusia secara umum,” kata Rasulullah dalam kitab Al-Kamil karya Ibnu Al-Atsir, sebagaimana dikutip dari buku Khotbah-khotbah Terakhir Rasulullah saw. (Ali Abdullah, 2015).

“Demi Allah, sungguh kalian akan mati sebagaimana kalian tidur dan kalian akan dibangkitkan sebagaimana kalian bangun tidur. Sungguh kalian akan dihisab terhadap apa yang kalian lakukan. Sesungguhnya yang ada hanya surga yang abadi atau neraka yang abadi,”  lanjutnya.

Khutbah Rasulullah tersebut membuat yang hadir saling bersautan untuk berkomentar. Abu Lahab tentu saja yang paling keras menolaknya. Ia menilai bahwa apa yang disampaikan Rasulullah tersebut adalah aib besar. Ia lantas meminta orang-orang yang hadir dalam pertemuan itu untuk mencegah Rasulullah. 

“Ayo cegah dia sebelum orang lain yang turun tangan mencegahnya,” teriak Abu Lahab.

Berbeda dengan Abu Lahab, paman Rasulullah yang lainnya, Abu Thalib, berkomentar sebaliknya. Ia merasa senang dengan nasihat dan pitutur yang disampaikan keponakannya itu. Bahkan membenarkannya. Abu Thalib juga meminta Rasulullah untuk terus mendakwahkan agama yang dibawanya itu. Tidak hanya itu, Abu Thalib juga siap memberikan pembelaan dan perlindungan bagi Rasulullah. 

Meski demikian, Abu Thalib tidak lantas mengikuti agama yang dibawa Rasulullah. Dia masih keukeuh dengan agama lamanya. Hanya saja dia tidak mempermasalahkan jika Rasulullah menyebarkan risalah yang dibawanya itu. 

Masyarakat yang hadir ada yang menerima Islam. Tidak sedikit pula yang menolaknya. Mereka kemudian membubarkan diri. Dan khutbah pertama Rasulullah di hadapan masyarakat Quraisy di Makkah ini menjadi penanda bahwa dakwah Islam telah dilakukan secara terang-terangan. (A Muchlishon Rochmat)