::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Hukum Shalat Hadiah untuk Orang yang Sudah Meninggal

Sabtu, 22 Desember 2018 17:30 Shalat

Bagikan

Hukum Shalat Hadiah untuk Orang yang Sudah Meninggal
Ilustrasi (wikipedia)
Berkaitan dengan shalat, kadang kita temukan di masyarakat praktik shalat hadiah untuk orang yang sudah meninggal. Pelaksanaan shalat ini dimaksudkan untuk meringankan beban mayit di kuburan. Bagaimana hukum shalat hadiah dalam perspektif fiqih Islam?

Shalat sunnah secara garis besar terbagi menjadi tiga macam. Pertama, shalat sunnah yang dibatasi dengan waktu, seperti shalat sunnah rawatib dan shalat tarawih. Kedua, dibatasi dengan sebab, seperti shalat Istisqa’ (memohon hujan) dan shalat gerhana. Ketiga, shalat sunnah yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab, atau biasa disebut dengan shalat sunnah mutlak.

Shalat sunnah yang dibatasi dengan waktu, harus dilakukan sesuai aturan waktu yang telah ditentukan, semisal tarawih. Pelaksanaannya tertentu di bulan Ramadhan setelah shalat Isya’. Sedangkan shalat sunnah yang dibatasi dengan sebab, harus dilakukan saat sebabnya masih wujud, semisal shalat istisqa’, terbatas ketika kondisi kekurangan air. Sementara untuk shalat sunnah mutlak, kapan pun bisa dilakukan.

Jenis shalat sunnah pertama dan kedua, pelaksanaannya harus mengikuti anjuran khusus dari Nabi. Tidak boleh dibuat-buat sendiri. Sehingga menjadi tidak sah, bila seseorang membuat-buat shalat sunnah sendiri dengan dibatasi waktu atau sebab tertentu. Sesuai dengan kaidah fiqih:

العبادة حيث لم تطلب لم تنعقد

“Ibadah ketika tidak dituntut, tidak sah”.

Atas dasar kaidah itu, ulama menyatakan keharaman melaksanakan shalat raghaib, shalat Shafar, shalat Nishfu Sya’ban, dan lain sebagainya. Sebab shalat-shalat yang jenis demikian tidak berlandaskan dalil yang shahih.

Lain halnya dengan shalat sunnah mutlak, boleh dialksanakan kapan saja. Berapa pun rakaatnya, di mana pun tempatnya, ada sebab atau tidak ada sebab, kita boleh secara bebas melaksanakannya, asalkan tidak dilakukan di waktu-waktu terlarang.

Berkaitan dengan shalat hadiah, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari menegaskan bahwa shalat tersebut tidak memiliki landasan dalil yang dapat dipertanggungjawabkan. Sehingga melaksanakannya adalah haram dan tidak sah.

Dalam himpunan fatwanya, Rais Akbar NU tersebut mengatakan:

اورا ويناع فيتواه اجاء اجاء لن علاكوني صلاة رابو وكاسان لن صلاة هدية كاع كاسبوت اع سؤال كارنا صلاة لورو ايكو ماهو اورا انا اصلى في الشرع. والدليل على ذلك خلو الكتب المعتمدة عن ذكرها كايا كتاب تقريب، المنهاج القويم، فتح المعين ، التحرير لن سافندوكور كايا كتاب النهاية المهذب لن احياء علوم الدين، كابيه ماهو أورا انا كاع نوتور صلاة كاع كاسبوت. الى ان قال وليس لأحد أن يستبدل بما صح عن رسول الله انه قال الصلاة خير موضوع فمن شاء فليستكثر ومن شاء فليستقلل، فإن ذلك مختص بصلاة مشروعة.

“Tidak boleh berfatwa, mengajak dan melakukan shalat Rabu Wekasan dan shalat hadiah yang disebutkan dalam pertanyaan, karena dua shalat tersebut tidak ada dasarnya dalam syari’at. Tendensinya adalah bahwa kitab-kitab yang bisa dibuat pijakan tidak menyebutkannya, seperti kitab al-Taqrib, al-Minhaj al-Qawim, Fath al-Mu’in, al-Tahrir dan kitab seatasnya seperti al-Nihayah, al-Muhadzab dan Ihya’ Ulum al-Din. Semua kitab-kitab tersebut tidak ada yang menyebutkannya. Bagi siapapun tidak boleh berdalih kebolehan melakukan kedua shalat tersebut dengan hadits shahih bahwa Nabi bersabda, shalat adalah sebaik-baiknya tempat, perbanyaklah atau sedikitkanlah, karena sesungguhnya hadits tersebut hanya mengarah kepada shalat-shalat yang disyari’atkan”. (KH. Hasyim Asy’ari sebagaimana dikutip kumpulan Hasil Bahts al-Masail PWNU Jawa Timur).

Namun, bila yang dimaksud adalah melaksanakan shalat sunnah mutlak, kemudian pahalanya dihadiahkan untuk mayit, maka diperbolehkan. Pahala shalat yang dihadiahkan menurut pendapat Hanabilah (mazhab Hanbali) dan mayortitas ulama bisa sampai kepada mayit. 

Keterangan ini sebagaimana ditegaskan oleh Syekh Isma’il Zain sebagai berikut:

حكم صلاة الهدية سؤال:ما حكم  صلاةالهدية للميت التي يصليها الإنسان بين العشائين فهل هي صحيحة ومحصلة لما نواه أولا؟
الجواب: والله الموفق للصواب أن الإنسان إذا صلى شيئا من النوافل ثم وهب للميت وأهداه له فإن ذلك الثواب يصل إلى الميت بإذن الله وهو مذهب الحنابلة وجمهور العلماء والله سبحانه وتعالى اعلم

“Hukum shalat hadiah. Pertanyaan: apa hukumnya shalat hadiah untuk mayit, yang dilakukan oleh seseorang di antara Maghrib dan Isya’, apakah sah dan dapat menghasilkan apa yang ia niati? Jawaban: Semoga Allah memberi pertolongan. Sesungguhnya apabila seseorang melaksanakan shalat sunnah, kemudian ia berikan dan hadiahkan untuk mayit, maka pahala shalat tersebut sampai kepada mayit dengan izin Allah. Ini adalah pendapat Hanabilah dan mayoritas ulama. Dan Allah Subahanhu wa Ta’ala maha mengetahui.” (Syekh Isma’il Zain, Qurrat al-‘Ain, hal. 59)

Persoalan shalat hadiah ini juga disinggung oleh Syekh Nawawi al-Bantani dalam kitab Nihayah al-Zain, hal. 107. Beliau menyebutnya dengan shalat lil unsi fi al-qabri (shalat untuk menghibur mayat di kuburan). Di kitab tersebut juga disampaikan tata cara dan doa-doanya. Syekh Nawawi mengutip dari sebagian ulama, bahwa orang yang rutin melakukannya di setiap malam dan menghadiahkan pahalanya untuk setiap mayat dari kaum muslimin, ia mendapat pahala yang besar dan menjadi orang yang sangat beruntung. 

Penjelasan Syekh Nawawi ini harus dipahami dalam konteks shalat sunnah mutlak. Shalat sunnah yang beliau paparkan tetap tidak keluar dari kedudukannya sebagai shalat sunnah mutlak. Sebab, tidak ada dalil secara khusus tentang anjuran shalat hadiah sebagaimana ditegaskan oleh KH Hasyim Asy’ari di atas.

Mengarahkan referensi yang ada dalam Nihayah al-Zain sebagaimana di atas, bisa kita ilhaq-kan dengan referensi yang ditegaskan oleh Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki mengenai shalat Shafar, Shalat Raghaib dan yang sejenisnya. Menurut beliau, bila shalat-shalat tersebut diniati secara khusus, maka haram dan tidak sah, sebagaimana banyak ditemukan dalam kitab-kitab turats. Namun, bila diniati dengan shalat sunnah mutlak, maka boleh dan sah.

Syekh Abdul Hamid Quds al-Makki menegaskan:

قلت ومثله صلاة صفر فمن أراد الصلاة فى وقت هذه الأوقات فلينو النفل المطلق فرادى من غير عدد معين وهو ما لا يتقيد بوقت ولا سبب ولا حصر له . انتهى

“Aku berpendapat, termasuk yang diharamkan adalah shalat Shafar (Rabu Wekasan), maka barang siapa menghendaki shalat di waktu-waktu terlarang tersebut, maka hendaknya diniati shalat sunnah mutlak dengan sendirian tanpa bilangan rakaat tertentu. Shalat sunnah mutlak adalah shalat yang tidak dibatasi dengan waktu dan sebab tertentu dan tidak ada batas rakaatnya”. (Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Quds al-Maki, Kanz al-Najah wa al-Surur, hal. 22)

Demikian penjelasan mengenai hukum shalat hadiah. Semoga dapat dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima kritik dan saran. Wallahu a’lam.

(Ustadz M. Mubasysyarum Bih)