::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Kiai Said: Al-Qur’an Tidak Mementingkan Soal Bendera Agama

Sabtu, 22 Desember 2018 20:15 Nasional

Bagikan

Kiai Said: Al-Qur’an Tidak Mementingkan Soal Bendera Agama
Ketum PBNU, Kiai Said Aqil Siroj (kanan)
Bekasi, NU Online
Nabi Muhammad diutus oleh Allah ke dunia untuk membangun kualitas umat, hal itu pula yang menjadi landasan mengapa dalam Al-Qur’an tidak ada bahasa Umatan Islam.  Tetapi  umatan washatan, artinya, Al-Qur'an tidak mementingkan legal formal melainkan bobot, peran, dan kualitas dari umat itu sendiri. 

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Aqil Siroj, saat memberikan sambutan pada kegiatan Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) di Kota Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (22/12). 

"Saat Rasulullah diutus ke Makkah dan diperintahkan untuk berdakwah, kualitas umat saat itu sangat buruk. Dari sisi peradaban masyarakat Makkah terbelakang dan bodoh, sementara dari sisi agama dan keimanan mereka termasuk golongan yang sesat. Di tangan Nabi Muhammad SAW, masyarakat Makkah menjadi masyarakat yang beriman dan berperadaban," jelasnya.  
 
Menurut Kiai Said, label atau bendera agama tertentu bukanlah sesuatu yang utama, yang terpenting adalah umat Islam harus banyak berperan di masyarakat. Seperti saat Rasulullah merubah sikap dan peradaban orang Makkah. "Peran itu misalnya, berperan dalam bidang agama, sosial, kemanusiaan, budaya, ekonomi, kemajuan, dan politik," tandasnya. 

Ia menjelaskan, ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an sangatlah luas sehingga tidak dapat dipahami oleh satu tinjauan saja, melainkan ada metode untuk mempelajarinya. Metode tersebut sebagai upaya agar tidak salah dalam mengartikan teks-teks Al-Qur‘an maupun teks-teks Hadits.   

“Tidak ada agama selain Islam yang sudah mempunyai metode, kerangka berfikir yang luar biasa, yang namanya usulul fiqh, semacam itu. di Kristen, Katolik, Hindu Budha Kong Hu Chu, tidak ada itu, bagaimana memahami teks,” ujar Kiai Said.

Untuk itu, Ketua Umum PBNU yang menjabat sejak 2015 tersebut mengiginkan agar ada kelompok-kelompok yang memahami persoalan-persoalan yang sering disalahartikan oleh umat islam yang lain. Sebab, menurut dia, munculnya perbedaan pandangan dikarenakan banyak umat yang belum memahami apa isi kandungan yang terkandung dalam Al-Qur’an tersebut.  

“Harus ada kelompok yang mengkaji agama, sekarang, dan akan datang kita harus mampu menjawab dan menghadapinya,” pungkasnya. (Red: Muiz)