::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sastra Minor di Pesantren

Ahad, 23 Desember 2018 23:52 Esai

Bagikan

Sastra Minor di Pesantren
Oleh Khudori Husnan

Menulis seperti seekor anjing menggali lubang, seekor tikus menggali liang
Gillez Deleuze dan Felix Guattari

Saya mencium aroma tak biasa di cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal di buku kumpulan cerpen Kucing Makan Koran (Diandra Kreatif, Jombang, 2018) dan Hilmi Abedillah di buku Trik Ahli Neraka (Penerbit Mitra Karya, Tuban, 2018). Cerpen-cerpen mereka berbeda dari cerpen-cerpen Hamsad Rangkuti, Yanusa Nugroho, Danarto, Gus tf Sakai, Mustofa Bisri, Putu Wijaya, Seno Gumira Ajidarma, Damhuri Muhammad, Ben Sohib, Berto Tukan, dan sejenisnya. 

Cerpen-cerpen para cerpenis yang namanya saya sebut di atas, kita sebut saja mereka para cerpenis mayor atau utama, biasanya enak dibaca karena cerpen-cerpen mereka mampu membuai pembaca, baik lewat cara bertuturnya yang tertib, maupun dari muatan pesan yang disampaikan. Cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah terkesan kebalikan dari cerpen-cerpen karya para cerpenis mayor.  

Melalui cerpen-cerpennya, Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah seperti ingin membicarakan banyak hal tapi tertekan dan bingung menentukan cara bagaimana menyampaikannya. Alih-alih larut dalam kegalauan panjang, Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah, memilih tetap menuntaskan cerpen-cerpennya. 

Dadang Ari Murtono meringkas cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal sebagai “Semesta yang mengambang, semesta yang masih bertikai dengan dirinya sendiri, saling membunuh dan berebut dominasi, agar ia bisa memijak kukuh di permukaan tanahnya sendiri-dan bukannya tanah yang kita kenal.” Bagi Dadang Ari Murtono cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal mengambang karena tak “utuh” dan tak “menjadi.” 

Keutuhan dan kemenjadian, yang disebut Dadang Ari Murtono sebagai kemutlakan, biasanya memicu makna. Dalam pembacaan saya, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedilah tipikal cerpen yang tak mengutamakan makna tapi berupaya menyeret pembacanya untuk memalingkan wajah pada dinamika literer di pesantren.

Bagaimana Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah lebih memilih jalan ‘mengambang’ dari pada menulis cerpen sesuai selera kebanyakan pembaca cerpen? Persoalan ini menarik untuk didalami. 

Cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah diikat oleh benang merah, sama-sama menjadikan khazanah pesantren NU, sebagai titik pemberangkatan. Cerpen Hilmi Abedillah Denuri Ketemu Dinawari yang berkisah tentang ambisi Daenuri berziarah ke makam Syekh Dinawari di Bagdad, pekat dengan istilah-istilah khas pesantren termasuk kitab Jurumiyah, Rihlah Ibni Bathuthah dan seterusnya. Istilah-istilah khas pesantren juga banyak dijumpai di cerpen lain termasuk cerpen Sya’ban yang penokohannya memakai nama-nama bulan dalam penanggalan hijriyah, serta cerpen Barokah. 

Sama seperti cerpen-cerpen Hilmi Abedilah, cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal juga banyak memakai istilah-istilah pesantren misalnya pada cerpen Ziarah dan Abraham dan Air Mata di Alif Lam Mim yang berkisah tentang kecurigaan santri senior terhadap santri mualaf yang diduga penganut aliran sesat. Tak seperti Hilmi,  Zainuddin Sugendal mulai memasuki tema-tema berbalut teka-teki seperti terdapat di cerpen Angsana dan Sebelas Macan Tuan Hasan yang memasukan unsur-unsur mitologi dan jampi-jampi. 

Sudah barang tentu Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal bukan yang pertama menjadikan tema-tema pesantren sebagai sudut pandang. Gus Mus, salah satunya, pernah menulis cerpen tentang Gus Jakfar. Lebih jauh lagi ada nama Djamil Suherman sastrawan angkatan 60-an dan 70-an yang banyak mengangkat  kehidupan pesantren. Bedanya, tema-tema pesantren lebih dijadikan inspirasi dan bukan sebagai intensitas apalagi sebagai kesadaran untuk merontokkan dominasi kebahasaan yang datang dari luar bahasa pesantren. 

Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal menggumuli tema-tema pesantren secara intensif dan antusias. Proses ini menjadikan cerpen-cerpen Hilmi Abedilah dan Zainuddin Sugendal berpotensi termasuk ke dalam sastra minor. Menurut Eko Endarmoko minor bersinonim dengan “(a) cemeh, remeh, kecil, ringan, sepele, sipil, (cak) (b) bawahan, inferior, marginal, sekunder, subordinat.” 

Mengacu pada pendapat  Eko Endarmoko, minor dapat kita artikan sebagai  miring. Sastra minor berarti sastra yang, cara penyampaian maupun muatannya, mengekspresikan ke-miring-an. Barangkali di sini ada peran penyair NU Miring, Binhad Nurrohmat. 

Sastra minor digemakan oleh dua tokoh penting dari Prancis Gillez Deleuze, seorang filosof, dan Felix Guattari, aktivis politik dan praktisi psikoanalisa, lewat bukunya Kafka Toward a Minor Literature (1986). Berbeda dari tafsiran misalnya Walter Benjamin atas Kafka yang lebih menitikberatkan pada unsur-unsur ke-Yahudi-an Kafka, Gillez Deleuze menyingkap dimensi revolusioner di balik karya-karya Kafka sembari mengenalkan istilah sastra minor. 

Deleuze dan Guattari menyebut adanya tiga ciri pokok sastra minor; pertama dalam bahasanya, sastra minor terpengaruh oleh koefisiensi tingkat tinggi dari apa yang disebut  sebagai “deteritorialisasi; kedua, segala hal yang tercantum dalam sastra minor bersifat politis; ketiga, semua yang tercantum memuat suatu nilai kolektif.

Tiga butir pemikiran Deleuze dan Guattari tentang karakteristik sastra minor menyiratkan sastra minor adalah tulisan yang terkonstruk sebagai minoritas dalam kerangka bahasa-bahasa arus utama yang telah digunakan oleh  cerpenis-cerpenis terkemuka; diawal tulisan saya menyebutkan sebagai cerpenis mayor. 

Artinya, sastra minor tak lahir dari ruang steril di khazanah sastra mayor. Sebaliknya, ia muncul  karena sastra mayor menganggap sastra minor sebagai ganjil, tak biasa, dan bersifat teritorial dalam artian hanya dirayakan di lingkup teritori tertentu, dalam hal ini pesantren. 

Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah mencoba melawan dominasi cerpenis mayor melalui cara dan gaya cerita pendeknya sendiri. Pada saat bersamaan dia juga kemungkinan besar membaca dan menyerap karya-karya cerpenis mayor. Hubungan antara Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah dengan para cerpenis mayor serupa hubungan antara seekor kucing lapar yang tak menemukan sepotong ikan pun untuk dimakan, kecuali sehelai Koran seperti digambarkan Zainuddin Sugendal di cerpennya Kucing Makan Koran; 

“kucing hitam yang lapar itu melompat ke dalam tong sampah dan mengamuk di sana. Dia bertengkar dengan koran-koran yang bergerak karena ulahnya sendiri. Dia memakan Koran-koran itu kemudian memuntahkannya lagi.” 

“Muntahan” cerpenis-cerpenis minor ini merupakan  penerimaan kembali proses deteritorialisasi lewat cara defamiliarisasi dan perlawanan terhadap  konvensi melalui karya-karyanya. Tema-tema yang lekat dengan dunia pesantren, yang semula terkucil dan tak diperhitungkan, mulai mengalami pengolahan dan penempaan ulang lalu  ditampilkan lewat karya. Tahlil, ziarah, barokah, kitab kuning, jimat, dan seterusnya mulai bermunculan.

Sastra minor juga bersifat politis dalam artian berhubungan dengan tindakan-tindakan selanjutnya termasuk seruan bagi sebuah penyatuan, solidaritas, dan otonomi  yang kelak menjadi titik-tolak bagi pilihan yang dibuat, cita rasa yang dimiliki dan kehidupan yang dijalani; jika pesantren diibaratkan seekor kucing, maka tampaknya tidak mungkin pesantren melumat dirinya sendiri, bahkan ketika pesantren hadir sebagai duplikatnya. 

“’hati kucing itu diselimuti kegundahan. Foto-foto makanan ia santap dengan lahap. Foto-foto manusia juga ia santap. Foto artis ia juga tidak keberatan. Tapi kali ini foto kucing, bahkan itu adalah dirinya sendiri. 

‘Kau tidak memakanku?’ Tanya Koran. 

‘Mungkin hari ini aku memilih berpuasa.’ Kucing itu lalu pergi.’” 

(Hilmi Abedillah, cerpen Kucing Masuk Koran).

Persoalan-persoalan yang dikemukakan di atas, serupa dengan apa yang pernah ditulis Keith Foulcher (1995) saat ia menyatakan momen poskolonial ditandai oleh terbitnya kesadaran akan ketidakotentikan kultural dalam diri subjek kolonial, seperti tercermin dari karya-karya sastra Indonesia awal termasuk Abdul Muis Salah Asuhan, Armijn Pane Belenggu, Achdiat K. Mihardja, Ateis, disusul kemudian Mochtar Lubis Jalan Tak Ada Ujung, dan Pramoedya Ananta Toer Keluarga Gerilya. 

Melalui novel, para pengarang mencari dan menegaskan akar-akar tradisi dan pemikirannya sendiri lewat sebuah pendekatan historis, termasuk kelak menghasilkan salah satu produknya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan, yang notabene bahasa resmi yang dijadikan pengarang-pengarang mayor berkarya cipta sembari meminggirkan idiom-idiom minor.  

Sastra minor bersifat revolusioner karena sedapat mungkin berjarak dari bahasa-bahasa mayor. Ketika tulisan-tulisan minor mencapai kedudukan sebagai mayor, ia akan kehilangan identitas radikalnya, menjadi dominan dan pada akhirnya menjiplak watak sang penindas. 

Penulis-penulis minor juga dapat terjebak pada apa yang disebut Gillez Deleuze dan Felix Guattari sebagai regionalisme, semacam sastra minor abal-abal, yang tulisan-tulisannya lebih menampilkan nada-nada nostalgis, esensialis, serta  pemujaan berlebihan pada teritori sembari berupaya mengomunikasikan makna-makna kontemporer. Regionalisme adalah bahaya yang mengintai  tulisan-tulisan “minor.” Pasalnya, regionalisme memendam hasrat untuk menjadi ekspresi mayor, demikian menurut Deleuze dan Guattari.

Dari pada menyebut cerpen-cerpen Zainuddin Sugendal sebagai cerita-cerita yang mengambang barangkali baik menyebutnya sebagai ikhtiar memeragakan “seni tanpa kepastian” (art of indeterminacy). Pada seni jenis ini, makna-makna yang dimungkinkan lahir dari sebuah cerita, selalu dalam pergerakan tak pasti di setiap tahap proses-proses penceritaan. “Seni tanpa kepastian memerlihatkan proses perajangan pada keseluruhan bahan dasar narasinya demi menghindari dampak yang timbul dari proses penyimpulan. Pembacaan sekilas pada “seni tanpa kepastian, akan dianggap jenis ini sebagai mengambang, untuk tak menyebutnya, tak memiliki maksud dan tujuan yang jelas.

Akhirnya, apakah Zainuddin Sugendal dan Hilmi Abedillah seorang cerpenis “minoristis”? Atau sebaliknya “regionalistis”? Mari kita sama-sama uji cerpen-cerpennya, sambil merenungi pesan Gillez Deleuze dan Felix Guattari untuk urusan tulis menulis; “menulis seperti seekor anjing menggali lubang, seekor tikus menggali liang.” Menulis seperti mengorek-ngorek realitas keseharian yang dekat dengan kita. Keseharian perlu terus dikorek karena ia, meminjam judul lagu dangdut H. Rhoma Irama, penuh tabir kepalsuan.