::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belajar Menertawakan Diri Sendiri ala Gus Dur

Selasa, 25 Desember 2018 13:50 Hikmah

Bagikan

Belajar Menertawakan Diri Sendiri ala Gus Dur
KH Abdurrahman Wahid (Dok. istimewa)
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur adalah tokoh yang paling diingat humor-humor cerdasnya, tentu saja selain jasanya yang luar biasa dan pemikirannya yang cemerlang. Membaca humor-humor Gus Dur tidak lain ialah bagaimana seseorang belajar menertawakan diri sendiri.

Di tengah persoalan yang banyak mendera bangsa, tidak sedikit yang mengatakan kenapa Gus Dur justru banyak melucu? Bagi sebagian orang, berhumor terkesan tidak serius, tetapi bagi Gus Dur humornya adalah keseriusannya. Sehingga persoalan serius kerap selesai dengan sendirinya lewat humor.

Seperti ketika Gus Dur dihadapkan dengan persoalan gerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang mengibarkan bintang kejora. Banyak yang mengecam bendera OPM tersebut. Namun, Gus Dur mengatakan kepada para ajudannya bahwa bendera-bendera tak ubahnya umbul-umbul. “Anggap saja itu umbul-umbul,” kata Gus Dur.

Saat menjabat sebagai Presiden, banyak juga yang menolak keputusan Gus Dur karena mengizinkan kegiatan Kongres Papua yang identik dengan gerakan-gerakan makar. Bagi Gus Dur, keinginan masyarakat Papua harus ditampung. Hal ini yang tidak banyak mendapat perhatian dari pemerintah.

Justru kegiatan tersebut bisa menjadi sarana atau wadah bagi pemerintah RI untuk menampung aspirasi masyarakat Papua, juga sebagai sarana memberikan penjelasan terhadap program-program pemerintah. Bagi masyarakat Papua, kehadiran negara penting. Sebab itu, langkah Gus Dur untuk mewujudkan kerinduan masyarakat Papua akan kehadiran negara.

Kilas humor-humor Gus Dur tak lekang di makan zaman karena sarat konteks. Bahkan masyarakat bisa belajar banyak dari humor-humornya. Misal ketika di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa terjadi konflik. Konflik ini seakan tak menemui titik ujung sehingga tidak sedikit menguras elemen-elemen yang ada di dalamnya.

Diceritakan oleh KH Maman Imanulhaq dalam buku Fatwa dan Canda Gus Dur (2010), cucuk KH Hasyim Asy’ari terseut tetap memperlihatkan optimisme tinggi kepada para kadernya. Mereka menyadari bahwa setiap konflik menyimpan banyak pendewasaan terhadap diri seseorang.

Gus Dur memandang seluruh masalah dengan optimisme. Menurutnya, masalah itu dibagi menjadi tiga; ada yang bisa diselesaikan dengan cepat, ada yang bisa diselesaikan tetapi lambat, dan ada yang tidak bisa diselesaikan. Sebab itu, serahkan semuanya kepada Allah, tawakaltu ‘alallah. 

Gus Dur pun menegaskan bahwa yang benara ialah penyelesaian masalah bukan pemecahan masalah. Karena kalau pemecahan, maka satu masalah bisa ‘pecah’ jadi beberapa masalah. Karenanya, kata Gus Dur, partai ini banyak dikatakan orang sebagai PKB, yaitu Partai Konflik Berkepanjangan.

Seketika, orang-orang di sekelilingnya tertawa mendengar plesetan kepanjangan tersebut. Mereka memang sedih mendengarnya, tetapi campur bahagia karena salah satu keistimewaan Gus Dur ialah mampu menertawakan kekurangannya sendiri. Sudahkah Anda menertawakan diri sendiri hari ini? (Fathoni)