::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Makanan Favorit Rasulullah

Rabu, 26 Desember 2018 13:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Makanan Favorit Rasulullah
Rasulullah adalah manusia sama seperti yang lainnya, tapi bukan manusia biasa. Maksudnya, beliau adalah seorang Nabi dan Rasul Allah yang menerima wahyu. Beliau terjaga (ma’shum) dari melakukan perbuatan-perbuatan dosa, sementara manusia biasa tidak. 

Sementara persamaannya dengan manusia pada umumnya, Rasulullah juga berumah tangga, beristirahat, makan, dan minum. Dalam hal hidangan misalnya, Rasulullah memiliki makanan favorit sebagaimana manusia lainnya. Lalu apa saja makanan yang digemari Rasulullah? 

Kalau merujuk pada beberapa hadits, ada beberapa makanan atau hidangan yang disukai, bahkan sangat digemarinya. Pertama, tharid atau masakan kaldu dengan isian utamanya kacang chickepa (himmis). Boleh dikata, tharid merupakan hidangan paling favorit Rasulullah Sampai-sampai, Rasulullah ‘mengumpamakan’ keunggulan tharid –dengan makanan lainnya- sama seperti Fatimah –dengan perempuan lainnya.

“Sama seperti tharid yang lebih sedap ketimbang semua masakan, begitu pula Fatimah yang lebih hebat dibandingkan semua perempuan,” kata Rasulullah dalam hadits riwayat Bukhari. Hal ini juga disebutkan dalam buku Medieval Cuisine of the Islamic World: A Concise History with 174 Recipes (Lilia Zaouali, 2007).

Kedua, daging bagian kaki dan paha kambing. Rasulullah juga sangat menggemari daging kambing, khususnya bagian lengan atau kaki depan dan pahanya. Menurut hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Qadhi Iyadh, Rasulullah menyukai daging bagian kaki dan paha karena bagian itu aromanya yang khas, rasanya yang manis, dan jauh dari tempat berbahaya. Meski demikian, tidak diketahui lebih rinci bagaimana daging tersebut dimasak. Apakah disemur, digulai, dibakar, direndang, atau yang lainnya. 

Ada sebuah ‘cerita menarik’ tentang daging kambing dan Rasulullah. Merujuk buku Para Penentang Muhammad saw. (Misran dan Armansyah, 2018), suatu ketika Rasulullah pernah mendapatkan hadiah daging kambing panggang dari Zainab binti al-Harits, seorang Yahudi Khaibar. Rasulullah menerimanya dengan gembira. Alasannya, Zainab menegaskan bahwa itu adalah hadiah, bukan sedekah. Di samping itu, daging kambing panggang adalah hidangan favorit Rasulullah sehingga beliau menerimanya dengan senang hati. Namun ternyata, daging kambing panggang tersebut beracun. Rasulullah baru menyadari kalau hidangan itu mengandung racun setelah melihat kaki domba. Beliau langsung memuntahkan domba panggang tersebut.  

Ketiga, talbinah. Talbinah adalah sejenis sup yang terdiri dari lemak, gandum, madu, dan sayur hijau. Merujuk buku Sehat Ala Nabi: 365 Tips Sehat Sesuai Ajaran Rasulullah (Mohammad Ali Toha Assegaf, 2015), talbinah baik untuk untuk meningkatkan daya tahan tubuh, mengembalikan keseimbangan tubuh yang terganggu,dan memberikan kekuatan karena mengandung energi yang tinggi.

Keempat, roti gandum. Dikisahkan bahwa suatu ketika Rasulullah mengajak Jabir bin Abdullah ke rumah salah satu istrinya. Ketika mereka berdua sampai, istri Rasulullah mengeluarkan roti gandum. Rasulullah dan Jabir memakan roti gandum tersebut bersama dengan cuka. 

“Ini adalah makanan terbaik penduduk dunia dan penduduk akhirat, kata Rasulullah ketika diberi hidangan roti gandum sebagaimana hadits riwayat Ibnu Majah.

Itulah beberapa hidangan yang disukai Rasulullah. tentu masih banyak jenis makanan lainnya yang digemari Rasulullah. Kalau dari segi buah-buahan, ada kurma, anggur, semangka, delima, buah ara atau tin, dan melon. Sementara untuk minuman, Rasulullah suka susu, madu, jahe, dan air zamzam.

Meski demikian, Rasulullah tidak pernah ‘memuaskan diri’ dengan makanan-makanan favoritnya itu. Beliau makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Makan sekedarnya saja. Tidak lantas memenuhi perut dengan makanan yang disukainya. Rasulullah mengingatkan kepada umatnya agar menjaga isi perutnya: sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara atau nafas. (A Muchlishon Rochmat)