::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

The Great Man Gus Dur

Ahad, 30 Desember 2018 13:00 Esai

Bagikan

The Great Man Gus Dur
Oleh Muhammad Sholahuddin

Apakah ada hubungan Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) dengan Skotlandia, negara dengan deretan tokoh hebat, ada Adam Smith, James Watt, Graham Bell hingga Alex Ferguson itu? 

Saya bilang, ada! Paling tidak, Gus Dur pernah memprediksi dengan jitu pada Piala Dunia 1998 antara tim Brazil melawan Skotlandia, dengan skor 2-1 untuk kemenangan Brazil. 

***

Andai Thomas Carlyle hidup di zaman now dan sempat nyekar atau ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), bisa jadi warga yang juga asal Skotlandia, itu makin percaya akan kebenaran teorinya. Yakni, the great man. Teori tentang manusia hebat. Agung.

Sayangnya, Carlyle hidup di abad jadul, abad ke-19. Era Britania Raya. Belum ada Muslim Cyber Army. Kata Carlyle, pemimpin besar itu dilahirkan (given). Bukan hasil, produk atau buatan pendidikan dan keterampilan. Manusia hebat itu yang memiliki "sesuatu" yang tidak dimiliki sembarang orang. 

Pendidikan, keterampilan, atau faktor lingkungan lain mungkin penting. Tapi, bukan faktor itu yang membuat seseorang menjadikannya sebagai great man. Carlyle yang pernah jadi guru matematika serta penulis sejarah itu pun berkata:

"The history of the world is but the biography of great man," Sejarah dunia adalah biografi orang-orang besar.

The great man tersebut memicu kontroversi. Tokoh, penulis, dan teoritikus dunia kala itu bertempur. Beda pendapat, tapi bukan pendapatan. 

Adu riset dan argumen. Perdebatan itu terjadi hingga sekarang. Orang hebat itu by nature atau by nurture. Bakat alami atau faktor lingkungan. Given atau berkat sekolah? Anda setuju mana? Yang pasti, kayaknya kita bukan min jumlati great man dech! 

Nah, Gus Dur adalah great man seperti disebut Carlyle. Bagaimana bisa? Yang belum pernah ke makam beliau di Tebuireng, Jombang, silakan sempatkan. Mumpung masih ada nyawa di tubuh kita. Yang sudah, datanglah lagi dan lagi. Juga ziarahi lagi the great man-great man lain di Bumi Nusantara ini. Yakin akan menemukan sinyal-sinyalnya.

***

Beruntunglah, saya yang sudah sangat lama menganggap Gus Dur sebagai the great man, telah dibantu August Turak, guru besar sejarah Rusia, seorang penulis hebat di Mepkin, AS. Selama ini, saya selalu bilang pokoknya Gus Dur hebat. Mati-urip. Wali. 

Nah, August Turak telah memberi matan sekaligus  sarah  the great man theory tersebut. August Turak yang juga penganut Trappist, sebuah aliran tarekat religius Katolik Roma ini telah menulis 8 ciri atau indikator the great man. 

Pertama, panggilan. Pemimpin besar semuanya merasa "'dipanggil" oleh sesuatu yang jauh di dalam diri mereka, yang mendesak mereka untuk mengambil risiko di saat kebanyakan orang menghindari.

Gus Dur pun begitu. Cucu pendiri NU itu menghabiskan hidupnya sebagai sebuah vacation atau panggilan seperti tulisan August Turak. Panggilan untuk masyarakat, panggilan untuk umat,  bangsa, bukan untuk dirinya sendiri. Pada saat banyak orang menghindari, Gus Dur terpanggil selama untuk kemaslahatan umat, nusa dan bangsa.

Kedua, self confidence. Setiap pemimpin besar, the great man, percaya pada dirinya sendiri dan kemampuannya untuk "membuat perbedaan."  Gus Dur dalam setiap kali kesempatan sering menyatakan, selama apa yang dibelanya dan disuarakannya adalah sebuah tata nilai, kalaupun harus berjuang sendirian pun tidak gentar. Dilengserkan pun tidak ada masalah. Peduli setan. Kepercayaan dirinya luar biasa. Berkorban demi sebuah kepentingan lebih besar.

Ketiga, superstition. Dalam KBBI (kamus besar Bahasa Indonesia) kata itu diterjemahkan sebagai takhayul. Superstition itu lawan dari mazhab rasional. Sesuatu yang tidak masuk.akal. Orang awam tidak mampu menjangkaunya. Karena itu, mereka bilang mengada-ada. 

August Turak menyatakan, the great man memiliki perasaan percaya yang oleh orang biasa tidak masuk akal tersebut. Bahwa itulah takdir untuk sebuah kesuksesan. Kepercayaan itu pada gilirannya memberikan "skill" luar biasa untuk menangkal kebisingan lingkungan, pakar, dan "pakar" yang mungkin berpendapat sebaliknya atau tidak sependapat. 

Bagi sebagian orang, Gus Dur itu bahkan dinilai bagian dari "superstition" itu sendiri. Banyak cerita sahih bagaimana beliau tahu dan paham, padahal sedang tidur. Cerita cerita Keris Kolomunyeng lekuk sembilan, dan cerita tidak masuk akal lain bagi kita, tapi itu terjadi. Ada pada diri Gus Dur. Itu buanyak-nyak...bahasa pesantren mungkin demikian yang dinamakan karamah.

Keempat, chellenge. Setiap pemimpin besar mencari tantangan. The great man seringkali tampak menyimpang, sepintas menyulitkan diri mereka sendiri dengan menumpuk hambatan daripada berupaya menghindarinya.

Bagaimana perjuangan Gus Dur membuka hubungan diplomasi dengan Israel di saat banyak orang menganggap aneh dan berisiko terhadap dirinya sendiri. Cacian, makian, umpatan. Tidak peduli. Itulah tantangan yang tidak dimiliki pemimpin biasa. Hanya ada pada the great man. Tantangan dengan sebuah keyakinan dan tujuan semata mata untuk kemaslahatan. 

Belakangan, baru banyak orang tersadar bahwa betul kata Gus Dur, harus ada jalan lain untuk menghadapi Israel. Tidak sebatas nglebat-ngelebetno gendero berlafazkan kalimat tahlil. 

Kelima, persistence. Setiap pemimpin besar memiliki penghormatan atas keajaiban kerja keras dan tekad. Kegigihan.  Pemimpin besar bukan hanya tidak tahu kapan waktunya untuk berhenti, tetapi mereka sama sekali tidak tahu bagaimana caranya berhenti. Sebab, telah tertanam sebuah prinsip religi seperti siapa giat pasti dapat. 

Thomas Alfa Edison melakukan percobaan berkali-kali dan seringkali mengalami kegagalan. Namun karena adanya dorongan untuk terus berusaha, akhirnya dapat menghasilkan penemuan besar seperti lampu pijar. Itulah yang disebut persistence.

Seirama dengan August Turak, David Mc Clelland pun mengemukakan salah satu ciri individu yang memiliki Need for Achievement yang tinggi adalah memiliki persistence. Nah, Gus Dur juga seorang yang memiliki persistence. Bagaimana cerita Gus Dur mengibarkan bendera nilai-nilai demokrasi di era Orde Baru dengan gigih dan sungguh. Gagal, coba lagi, gagal, berjuang lagi. Akhirnya, bendungan kuat Orde Baru itu pun tumbang juga. 

Keenam, action bias. Pemimpin besar bertindak agresif. Kebanyakan orang menunggu, menunggu, dan menunggu beraksi sampai ada petunjuk dari lingkungan sekitar, sampai ada orang yang memberitahu apa yang harus dilakukan, the great man seperti Gus Dur tidak bergantung pada keraguan. Orang hebat bukan tipologi yang safety player. Pemimpin besar itu set-set, wet-wet. Das-des.

Action bias, berkecenderungan untuk bertindak atau memutuskan tanpa analisis biasa atau informasi yang cukup 'lakukan saja' dan merenungkan nanti. Banyak mikir, membuat tidak tangkas. Action bias ini juga dipopulerkan oleh Tom Peters, penulis Search For Excellence.

Ketujuh, optimisme. Pemimpin besar selalu optimistis. Mereka terus-menerus berpikir tentang apa yang bisa dilakukan agar orang-orang menjadi lebih baik, apakah itu secara individu atau sebagai sebuah kelompok masyarakat/umat. Gus Dur bergerak bukan hanya untuk warga NU, Islam, Jawa,  tetapi untuk Indonesia sebagai negara bangsa. Bukan negara agama. Karena itu, beliau melangkah untuk semua. Menembus batas suku, antargologan  agama, dan ras, dalam bingkai rahmat untuk seluruh alam. 

Delapan, faith. Semua ciri atau indikator di atas mungkin termasuk dalam satu istilah, iman. Pemimpin besar semua percaya, benar atau salah, bahwa melalui usaha mereka sendiri dan pengikutnya percaya, semua hal dalam hidup dapat tercapai dan hampir semua tantangan dapat diatasi karena ada iman. Maka, Gus Dur pun biasa bilang: Gitu saja kok repot ...

Sama dengan August Turak, saya pun bilang, Anda boleh tidak setuju atau abstain. Tapi, saya juga percaya bahwa pendulum telah berayun begitu jauh dari mitos "American Dream" dan pemimpin buatan sendiri. 

Mari terus berdoa agar Tuhan mengirimkan banyak the great man untuk kita seperti kata Carlyle ratusan tahun lalu. Bukan seperti lirik sebuah lagu Ahmad Dani, Tuhan kirimkanlah aku, kekasih yang baik hati, yang mencintai aku, apa adanya...

Saya mau bilang Jokowi itu juga the great man, tapi khawatir disebut cebong. 

Alfatihah untuk almarhum Gus Dur 


Penulis adadalah mahasiswa Pascasarjana PSDM Universitas Airlangga (Unair) Surabaya