::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Menjaga Marwah di Malam Tahun Baru

Senin, 31 Desember 2018 12:00 Opini

Bagikan

Menjaga Marwah di Malam Tahun Baru
Ilustrasi (via Malang Times)
Oleh Moch. Rofi’i Boenawi

Tahun baru merupakan budaya yang selalu dirayakan di berbagai negara termasuk di Indonesia. Semua negara di dunia mengadopsi kalender Gregorian begitu juga Indonesia. Perayaan ini ditandai dimulainya hitungan tahun selanjutnya. Budaya yang mengakar di Indonesia terjadi pada malam tahun baru, sejak matahari terbenam (petang) hingga tengah malam hari pada 31 Desember yang merupakan pucuk dari tahun pada kalender masehi. 

Pada malam tahun baru, masyarakat seluruh dunia termasuk di Indonesia merayakan dengan berbagai kegiatan. Kalau di desa, malam tahun baru diisi dengan bakar-bakar jagung di kampung, berkumpul dengan keluarga sambil menikmati menu makan malam, berkumpul bareng tetangga ditemani cemilan ringan seperti kacang lengkap dengan polo pendem (makanan yang diambil dari dalam tanah) dan karaoke di depan rumah hingga menutup jalan kampung.

Kondisi itu berbeda dengan masyarakat di perkotaan. Masyarakat kota lebih dikenal dengan istilah euforia (suatu perasaan senang yang berlebihan dan tidak beralasan atau rasa optimisme pada kekuatan yang tidak rasional–, KBBI). Masyarakat perkotaan lebih memilih keluar rumah dengan kelompoknya. 

Tidak sedikit generasi muda di perkotaan mengikuti gemgap gempita pada malam di penghunjung tahun. Seperti mereka menikmati suasana malam di jalanan, menikmati langit berhiasan kembang api, tak jarang di antara mereka juga ikut menghiasi gelapnya langit dengan kembang api. Sekian uang dibakar dengan sia-sia. Allah mengingatkan dalam QS Al-Israa ayat 27 yang artinya ‘Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya’.

Selain itu masyarakat ikut merayakan malam tahun baru dengan meniup terompet ketika jarum jam menunjukkan angka 12 malam atau nol nol secara bersamaan. Meniup terompet adalah perilakukan yang tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW.

Hadits Riwayat Abu Daud dan Al Baihaqi menjelaskan ketika Rasulullah meminta usulan kepada para sahabat bagaimana caranya mengumpulkan orang untuk shalat, di antara sahabat ada yang mengusulkan agar memakai terompet, lalu Nabi Muhammad SAW bersabda membunyikan terompet adalah perilaku orang-orang Yahudi. 

Jauh dari itu, generasi muda mudah terpancing dengan istilah perawan di jaman sekarang berarti tidak gaul, motor tak dimodif dengan kenalpot blong, ban standart diganti ban kecil itu namanya kurang pergaulan. Tidak sedikit pula generasi muda menghabiskan malam dipenghujung tahun itu dengan minum-minuman keras hingga mabuk, balapan liar pun terjadi. 

Tidak hanya itu, hampir seluruh mall dan pusat perbelanjaan mengartikan malam tahun baru sebagai malam gila-gilaan untuk meraih keuntungan yang lebih besar. Diskon besar-besaran hingga mencapai 50 sampai 70 persen. Konser musik digelar di mana-mana, mulai dari ruang terbuka hingga konser musik di ruang tertutup seperti club atau hiburan malam. 

Tidak ketinggalan beberapa tempat rekreasi, hotel maupun restoran pun berlomba-lomba menyemarakkan malam tahun baru dengan membuat acara yang dapat menghipnotis pengunjung agar mendatangi tempat mereka. 

Tak salah kalau ada yang mengatakan bahwa momment pergantian tahun (seperti yang akan segera terjadi), terutama generasi muda dijadikan alasan untuk menginap di hotel, berfoya-foya, bahkan pesta seks di vila. Kalau ini yang terjadi maka agama Islam jelas melarang perayaan tahun baru dengan pesta seks, pesta minuman, dan perilaku negatif lainnya. 

Dalam Al-Quran Allah sangat jelas melarang berbuatan keji dan mendekati zina. Allah berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." (QS Al Isra ayat 32).

Muhasabah Kunci Sukses Pelajar NU

Pelajar NU harus menjaga marwah malam tahun baru. Stop, segala kegiatan yang negatif. Mari kita menjadi pelopor. Stop perayaan malam tahun baru di jalan, tempat wisata, hotel, hiburan malam. Mari kita rayakan malam pergantian tahun dengan muhasabah (intropeksi) diri. Maimun bin Mahran Rahimahullah berkata: “Tidaklah seorang hamba menjadi bertaqwa sampai dia melakukan muhasabah atas dirinya lebih keras daripada seorang teman kerja yang pelit yang membuat perhitungan dengan temannya”.

Sungguh muhasabah adalah sesuatu yang baik, terlebih apabila hal itu bisa menjadi kebiasaan, karena muhasabah adalah kunci sukses kehidupan manusia unggul, seperti generasi terbaik umat ini, para sahabat. Sejarah mencatat, kehidupan mereka tidak pernah sepi dari muhasabah.

Selain itu, Pelajar NU harus mengisi malam tahun baru dengan taqarrub (mendekatkan) diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikir. Allah berfirman dalam hadist Qudsi, “Tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada melaksanakan apa yang Aku wajibkan kepadanya; tidaklah hamba-Ku terus mendekatkan diri kepada-Ku dengan nafilah-nafilah (nawafil) hingga aku mencintainya.” (HR Al-Bukhari & Muslim).

Dua perilaku itu lebih baiknya dilakukan di musholla atau Masjid secara bersamaan. Generasi NU harus menjadi pelopor gerakan malam tahun baru di masjid dengan mengajak masyarakat sekitar. Kegiatan yang sederhana tapi bisa muhasabah dan mengingat kebesaran Allah. Seperti berdzikir bersama, membaca doa akhir dan awal tahun, shalat malam, shalat hajat dan ditambai shalat tasbih di sepertiga malam. 

Terakhir, sebagai generasi NU di awal tahun harus punya perencanaan agar ada target yang harus dicapai. Allah berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Hasyr 18).

Barang siapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barang siapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barang siapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.

Mari di akhir tahun lakukanlah hal yang positif dengan kegiatan yang produktif di penghujung tahun. Mari songsong tahun baru 2019 dengan lebih baik lagi, agar kehidupan ini lebih bermanfaat, terlebih di media sosial. Apalagi di tahun politik, banyak hoaks berterbangan di jagat maya. Pemuda harus menjadi pelopor malam tahun baru di masjid.


Penulis adalah Koordinator Lembaga Pers dan Media PW IPNU Jatim dan Pengurus Remaja Masjid Nasional Al Akbar Surabaya