::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Sawad bin Ghaziyah Sahabat yang Dijamin Surga

Senin, 31 Desember 2018 20:00 Hikmah

Bagikan

Sawad bin Ghaziyah Sahabat yang Dijamin Surga
Usai melaksanakan Haji Wada’ (haji terakhir) selama beberapa pekan, Rasulullah lalu pulang ke Madinah. Kepulangan Rasul ini disambut oleh ratusan ribu umat Islam di Madinah dengan penuh gembira, senang, dansuka cita. Perjuangan mereka bertahun-tahun, mengorbankan tenaga, mengorbankan harta, menumpahkan darah bahkan menyumbangkan nyawa, berhasil membuahkan dengan disempurnakan agama kita dan Allah ridha dengan Islam sebagai agama kita.

Demikian disampaikan Ustad Fikri Haikal Zainuddin MZ, putera mubalig kondang KH Zainuddin MZ, saat mengisi ceramah pada acara Maulid Nabi di kawasan Patra Kuningan, Jakarta Selatan. Kebahagiaan para sahabat ini sebab menyambut ayat yang disampaikan Nabi yang dibacakan juga saat pidato saat haji wada’:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku lengkapi karunia nikmat-Ku atasmu serta telah Aku ridhai Islam itu menjadi agamamu.” (QS al-Maidah: 3)

Di tengah kegembiraan para sahabat setelah menyimak ayat tersebut, ada satu sahabat mendengar ayat ini bukannya senang tapi malah sedih. Dialah sahabat ini Abu Bakar yang tidak kuat menahan kesedihan lalu buru-buru pulang ke rumah. Bukan berhenti,tangis Abu Bakar di rumah malah semakin menjadi-jadi.

Tidak lama berselang, sebagian sahabat ada yang menyusul lantaran Abu Bakar terburu-buru pulang sambil menangis. Di antara sahabat yang ikut adalah sahabat Ali bin Abi Thalib.

Sahabat Ali bertanya, “Abu Bakar, mengapa Anda menangis? Bukankah diturunkannya ayat ini seharusnya kita senang sebagai umat Islam karena agama kita telah disempurnakan dan Allah ridha dengan agama Islam.Kenapa Anda menangis ketika orang-orang sedang bergembira?”

Mendapat pertanyaan tersebut, Abu Bakar menjawab,“Saudara-saudara ketahuilah, ketika suatu perkara telah disempurnakan, maka akan nampaklah kekurangan-kekurangan yang lainnya. Kalau Islam telah disempurnakan oleh Allah, itu artinya tugas kenabian dan kerasulan Muhammad telah dianggap selesai.”

“Dan sebentar lagi, Muhammad kekasih saya akan meninggalkan saya selama-lamanya. Itu yang menyebabkan saya sedih dan menangis. Hari-hari ke depan saya tidak bisa membayangkan betapa sedihnya tanpa kekasih saya Muhammad.”

Mendengar penuturan Abu Bakar bahwa Nabi akan segera wafat, para sahabat waktu itu langsung terdiam, sedih dan menangis.

Nabi Tiba di Rumah Abu Bakar

Begitu Nabi sampai di rumah Abu Bakar, para sahabat langsung menundukkan kepala dan diam menahan tangis.Rasulullah Saw. bertanya,“Wahai sahabat-sahabat, kenapa kalian pada menangis?”

Ali bin Thalib memberanikan diri seraya berkata,“Kami mendengar dari Abu Bakar, katanya ketika suatu perkara telah disempurnakan, maka akan nampaklah kekurangan-kekurangan yang lainnya. Kalau Islam telah disempurnakan oleh Allah, kata Abu Bakar tugas kenabian dan kerasulan Anda sebentar lagi telah dianggap selesai. Dan Anda akan meninggalkan kami untuk selama-lamanya. Apa benar perkataan Abu Bakar, wahai Rasulullah?"

Nabi senyum, lalu bertutur: “Saudara-saudara, apa yang tadi disampaikan Abu Bakar itu benar. Itu sebabnya Abu Bakar bergelar ‘As-Shidiq’, yang artinya orang terpercaya, orang yang jujur, perkataannya bisa dipegang. Apa yang tadi disampaikan Abu Bakar itu benar, tugas dan kenabian dan kerasulan saya sebentar lagi sudah selesai. Dan saya akan berjumpa dengan kekasih saya, Allah Subhanahu wa ta'ala.”

"Mumpung pada kumpul. Kalau dalam pergaulan hidup sehari-hari, saya pernah berbuat salah kepada saudara-saudara, maafkan kesalahan saya. Kalau saya pernah menzalimi saudara-saudara, balaslah kezaliman tersebut kepada saya sekarang juga. Sebab, saya tidak sanggup menanggung pembalasan kezaliman di akhirat nanti.”

Mendengar permohonan maaf Nabi, justru membuat para sahabat semakin diam tidak ada yang bicara sama sekali.

Keberanian Sawad bin Ghaziyah

Tiba-tiba ada seorang sahabat perawakannya tambun, warna kulitnya hitam, yang bernama Sawad bin Ghaziyah memberanikan diri bicara kepada Nabi.

“Ya Rasulullah...” 

“Ada apa Sawad”

“Saya mau nuntut balas” 

“Memang kenapa?”

“Waktu Anda mengadakan inspeksi perang, Andasedang menata barisa. Saatitu Anda membawa tongkat waktu itu, saya tidak tahu Anda sengaja atau tidak,  badan saya tergebuk sama tongkat Anda.”

“Jadi bagaimana mau kamu?”

“Ya saya menuntut balas”

“Ali, tolong ambilkan tongkat di rumah bawa kesini”

Tidak lama berselang, sahabat Ali membawa tongkat yang diambil dari rumah Nabi.

“Sawad, ini tongkat saya.Sekarang balaslah.Waktu itu saya pernah memukulmu sebelah mana?

“Ya Rasulullah, waktu itu saya ingat sekali, saya tidak memakai baju”

“Jadi bagaimana?

“Agar impas,Anda juga harus membuka baju”

Sebagai wujud akhlak baginda Nabi muhammad Saw, beliau tanpa segan membuka bajunya bagian atas,sehingga sampai telanjang dada.Begitu terlihat bentuk badan beliau, yang sangat putih.

Begitu Nabi melepas bajunya, tongkat yang sudah ada di tangan Sawad langsung dilemparkan. Sawad dengan sigap memeluk badan Nabi sekencang-kencangnya seraya berkata:

“Ya Rasulullah,maafkan saya”

“KenapaSawad?

“Saya sengaja berbuat begini,agar kulit saya yang hina bersentuhan dengan kulit Anda yang mulia.Kalau didunia kulit saya yang hina tidak bisa bersentuhan dengan kulit Anda, karena di akhirat Andasudah pasti ada surga paling atas.”

“Maka izinkan dan ridhakan badan saya yang hina bertemu dengan kulit Anda yang mulia di dunia.”

Nabi sontak berkata,“Saudara-saudara, kalau kalian yang mau melihat salah satu penghuni surga,Sawad inilah orangnya. Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya melebihi cintanya kepada dirinya.Maka Sawad merupakan salah satupenghuni surga, cinta kepada Allah dan Rasul di atas segalanya.” (M. Zidni Nafi’)