::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Peneliti Jepang: Islam Nusantara Memelihara Keaslian Islam

Senin, 31 Desember 2018 21:00 Nasional

Bagikan

Peneliti Jepang: Islam Nusantara Memelihara Keaslian Islam
Jakarta, NU Online
Peneliti Jepang Hisanori Kato melakukan penelitian Religion and Locality (agama dan lokalitas), yaitu tentang gagasan Islam NUsantara yang dikemukakan NU pada MUktamar ke-33 di Jombang pada 2015 lalu. 

Hasil penelitian profesor di Faculty of Policy Studies Chuo University, Jepang, ini Islam Nusantara menekankan keaslian agama Islam yang sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad. 

“Yang menjadi ciri khasnya adalah Islam Nusantara menghormati tradisi setempat seperti tahlilan,” katanya di Gedung PBNU, Jakarta, akhir pekan lalu. 

Lebih lanjut ia mengatakan, di dalam hampir setiap agama terdapat beberapa kelompok. Tapi secara garis besar ada, yaitu kelompok yang ingin menerapkan agama seperti pada masa lalu. Kedua, ada kelompok yang mempertahankan masa lalu dan merespon kekinian.

Di lain kesempatan, Mustasyar PBNU Kiai Ma’ruf Amin menuturkan, Islam Nusantara bukan Islam baru, tapi Islam yang sudah berkembang di Nusantara. Yang dimaksud Islam Nusantara adalah Ahlussunah wal Jamaah, sementara Ahlussunah wal Jamaah adalah Islam Nusantara. 

Huwa, huwa (itu-itu juga) hanya ganti cashing (penamaan), isinya sama,” katanya pada ceramah di PBNU saat dia awal menjadi Rais Aam. 

Ia menjelaskan bahwa Islam NUsantara sesungguhnya ada tiga domain wilayah yang harus seimbang dijalankan sebagai ciri utama. 

Tiga aspek tersebut,  tambah dia, meliputi aspek pemikiran (fikrah), aspek gerakan (harakah), dan juga aspek perbuatan (amaliyah).

“Pada aspek pemikiran Islam Nusantara tidak tekstual dan juga tidak liberal, ia bersifat moderat. Sementara pada aspek gerakan semangat yang dibangun adalah untuk menyebarkan kemaslahatan (ishlahiyyah). Dan adapun pada aspek perbuatan, Islam Nusantara harus tetap melestarikan tradisi yang baik sekaligus mengembangkan serta membuat inovasi yang lebih baik lagi,” jelasnya.(Abdullah Alawi)