::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Obrolan Kaisar Romawi dengan Abu Sufyan tentang Rasulullah

Sabtu, 05 Januari 2019 06:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Obrolan Kaisar Romawi dengan Abu Sufyan tentang Rasulullah
Pada saat itu, Rasululah mengirimkan surat kepada penguasa Romawi Timur, Kaisar Romawi Timur Flavius Heraclius Augustus. Adalah Dihyah bin Khalifah al-Kalbi yang ditugaskan untuk mengantarkan surat itu. Inti dari surat Rasulullah tersebut adalah mengajak Kaisar Heraclius agar masuk Islam.  

Setelah menerima Dihyah bin Khalifah al-Kalbi, Kaisar Heraclius menjadi ‘penasaran’ dengan sosok Rasulullah. Ia kemudian menggelar sebuah majelis yang dihadiri para pembesar Romawi. Kaisar Heraclius juga mengundang Abu Sufyan bin Harb dan kafilah Quraisy yang saat itu sedang berdagang di Syam.  

Merujuk buku Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (Raghib As-Sirjani, 2011) dan Sirah Nawabiyah (Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuri, 2012), dengan didampingi penerjemah Kaisar Heraclius mengajukan beberapa pertanyaan kepada Abu Sufyan.

“Siapakah diantara kalian yang paling dekat nasabnya dengan laki-laki yang mengaku Nabi ini,? Tanya Heraclius. 

“Aku. Aku lah yang paling dekat nasabnya,” jawab Abu Sufyan. Iya, Rasulullah masih berkerabat dengan Abu Sufyan. Beliau adalah anak dari paman Abu Sufyan. Kakek ketiganya bertemu dengan kakek Rasulullah, Abdi Manaf. Namun sayang, pada saat ini Abu Sufyan belum masuk Islam. Bahkan ia menjadi penentang dakwah Rasulullah. Ia baru masuk Islam pada tahun ke-8 Hijjriyah dan menjadi pejuang Islam. 

Kaisar Heraclius meminta Abu Sufyan untuk mendekat. Sebelum mengajukan beberapa pertanyaan tentang Rasulullah, Kaisar Heraclius sudah mewanti-wanti. Ia memerintahkan kepada penerjemahnya untuk membohongi Abu Sufyan jika tamunya itu berbohong. Tidak lain, ini dimaksudkan untuk mendapatkan informasi yang valid tentang sosok Rasulullah.

“Jika dia (Abu Sufyan) berbohong, maka bohongi pula dia,” tegas sang Kaisar kepada penerjemahnya.

Pertama-tama, Kaisar Heraclius menanyakan tentang nasab Rasulullah. Abu Sufyan menjawab bahwa Rasulullah memiliki nasab yang baik dan terpandang. Menurut Kaisar Heraclius, nasab para rasul sebelumnya juga terpandang.  

Kemudian Kaisar Heraclius bertanya perihal keberadaan seseorang sebelumnya yang berkata seperti yang dikatakan Rasulullah. Tidak ada orang yang berkata seperti Rasulullah sebelumnya, kata Abu Sufyan. Tanggapan Sang Kaisar, jika sebelumnya ada yang mengatakan perkataan sepertinya, maka ia (Rasulullah) hanya menjiplaknya.

“Apakah di antara bapak-bapaknya ada yang menjadi raja?” 

“Tidak ada,” jawab Abu Sufyan. Kata Sang Kaisar, Kalau seandainya ia keturunan seorang raja, maka ia hanya sedang menuntut kerajaan leluhurnya.

“Apakah pengikutnya berasal dari orang-orang terpandang atau orang-orang lemah?”

“Orang-orang yang lemah,” jawab Abu Sufyan. “Memang seperti itulah pengikut para rasul,” kata Sang Kaisar menanggapi. 

“Apakah jumlah mereka bertambah atau berkurang?” 

“Bahkan bertambah terus,” kata Abu Sufyan. “Demikian juga dengan iman, sampai ia menjadi sempurna,” timpal Kaisar.

“Apakah ada orang yang keluar lagi dari agamanya setelah ia masuk agama tersebut karena marah kepadanya?”

“Tidak ada,” jawab Abu Sufyan singkat. Kata Kaisar, memang seperti itu lah karena iman sudah meresap ke dalam hati.

“Apakah kalian menuduhnya berbohong sebelum dia mengatakan apa yang dikatakannya?”

“Tidak,” jawab Abu Sufyan. Kata Kaisar Heraclius, Aku tahu tidak mungkin dia berdusta kepada manusia dan Allah.

“Apakah dia berkhianat?” cecar Kaisar Heraclius. 

“Selama kami bergaul, kami tidak pernah mendapatinya melakukan hal itu,” jawab Abu Sufyan. “Demikian juga para rasul, mereka tidak berkhianat,” respons Sang Kaisar.

Kaisar Heraclius lantas bertanya apakah kaumnya memeranginya. Kata Abu Sufyan, iya. Kaumnya memerangi dan memusuhinya. Tidak puas dengan itu, Kaisar Heraclius kemudian bertanya bagaimana cara Abu Sufyan dan kaumnya memeranginya.

“Peperangan antara kami dan dia silih berganti. Kadang kami yang menang, kadang dia yang menang,” jawab Abu Sufyan.
Lalu Kaisar Heraclius mengeluarkan pertanyaan pamungkasnya. “Apa yang dia perintahkan kepada kalian?”

“Dia berkata, ‘sembahlah Allah semata, jangan lah menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, tinggalkan apa yang dikatakan bapak-bapak kalian. Dia juga menyuruh kami untuk menunaikan shalat, membayar zakat, bersedekah, menjaga kehormatan diri, dan menjalin silaturahim,” jawab Abu Sufyan.

“Maka jika yang kau (Abu Sufyan) katakan itu benar, maka ia (Rasulullah) akan menguasai tempat kedua kakiku ini,” kata Sang Kaisar. 

Dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Kaisar Heraclius mengaku kalau Rasulullah akan keluar. Namun ia tidak menyangka kalau Rasulullah muncul dari bangsa Arab Makkah. 

“Seandainya aku tahu bahwa aku akan sampai kepada (masa)nya, pasti aku sangat ingin bertemu dengannya. Seandainya aku ada di hadapannya, pasti aku basuh kakinya,” kata penguasa Romawi Timur itu. (Muchlishon)