::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ramai Pilpres, Ini Panduan Memilih Menurut Mahfud MD

Rabu, 09 Januari 2019 11:00 Nasional

Bagikan

Ramai Pilpres, Ini Panduan Memilih Menurut Mahfud MD
Mahfud MD (via detikcom)
Jakarta, NU Online
Beberapa bulan ini masyarakat disuguhkan dengan informasi, pandangan, termasuk perdebatan soal pemilihan presiden yang akan dilaksanakan pada 17 April 2019 berbarengan dengan pemilihan calon legislatif. Perbedaan pilihan kerap menjadi polemik bahkan bisa memisahkan jarak.

Terkait hal itu, Guru Besar Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Mohammad Mahfud MD memberikan semacam panduan bagi masyarakat untuk memilih. Yang terpenting dari proses tersebut, Mahfud menekankan kebersamaan, bukan mengedepankan pertengkaran.

“Pilihlah yang lebih banyak bagusnya atau lebih sedikit jeleknya. Jangan tidak memilih, negara ini hurus terus berjalan terlepas dari soal Anda memilih atau tidak. Gunakan hak konstitusional untuk mewarnai wajah kepemimpinan konstitusional,” ujar Mahfud dikutip NU Online, Rabu (9/1) lewat twitternya.

Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi ini menerangkan, setiap orang yang telah memenuhi syarat mempunyai aspirasi. Tentunya pilihan disesuaikan dengan aspirasi. Yang penting memilih.

“Bagimu pilihanmu, bagiku pilihanku. Anda tahu siapa yang akan kupilih, aku pun tahu siapa yang akan Anda pilih. Buat apa bertengkar? Kita punya aspirasi dan kita akan memilih yang lebih sesuai dengan aspirasi kita masing-masing. Yang penting memilih, soal mau pilih siapa, silakan,” tegas Mahfud.

Dia mengutip salah satu kaidah ushul fiqih, dar'ul mafaasid muqaddamun alaa jalbil mashaalih, menghindari keburukan itu harus lebih didahulukan daripada meraih kebaikan. 

“Artinya, jangan pertaruhkan masa depan dengan hal-hal yang tidak jelas, spekulatif, dan berpotensi lebih merusak,” jelasnya. (Fathoni)