::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Capai Kedamaian Dengan Hindari 3 Hal Ini

Rabu, 09 Januari 2019 21:30 Daerah

Bagikan

Capai Kedamaian Dengan Hindari 3  Hal Ini
Habib Jindan duduk di tengah

Jember, NU Online
Habib Jindan bin Novel bin Salim Jindan menegaskan pentingnya bangsa Indoesia menjaga kerukunan dalam keadaan apapun. Salah satu syarat untuk mencapai kerukunan dan kedamaian adalah menghindari 3 hal. Yaitu mengganggu, membicarakan keburukan   dan mencari-cari atau kesalahan orang lain.  

Menurutnya,  sejak lama Nabi  Muhammad telah mewanti-wanti agar seorang muslim  tidak melakukan tiga hal itu. Jika peringatan Nabi Muhammad itu  tidak dihiraukan maka kedamaian sulit  terwujud.

“Ciri-ciri muslim yang Islamnya  hanya di kerongkongan, belum masuk ke hati, ya itu. Suka mengganggu sesama Muslim, membicarakan keburukan sesama Muslim,  dan mencari-cari aib Muslim lainnya. Itu Hadits Nabi Muhamamad SAW,”  ujarnya saat menjadi nara sumber dalam  Seminar Kebangsaan di gedung Soetarjo, Kampus Universitas Jember, Selasa (8/1).

Dikatakannya,  Hadits tersebut harus dipahami dan diajadikan  referensi dalam kondisi apapun. Sehingga perpecahan bisa dihindari dan kedamaian dapat dicapai. Untuk motif apa saja  baik politik,  kekuasaan atau apapun, Hadits itu harus  tetap dipegang teguh.

“Hadits itu sudah ada jauh sebelum Indonesia lahir. Mau ada Pemilu, Pilpres dan sebagainya, Hadits itu  sudah melarang seperti itu,” jelasnya.

Sementara itu, nara sumber lain, Nurul Ghufron menegaskan bahwa kedewasaan berpolitik masyarakat sangat menentukan kualitas demokrasi. Kedewasan berpolitik itu harus ditopang oleh independensi. Dan indpendensi bisa dicapai jika kesejahteraan masyarakat sudah terpenhi.

“Kalau perut masih keroncongan, maka suaranya akan ikut perut. Kalau perut sudah kenyang, maka otaknya berpikir sesuai hati nuraninya,” urai Dekan Fakultas Hukum, Universitas Jember itu (Red: Aryudi AR)