::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pintu Masuk Mengenal Keragaman Indonesia

Kamis, 10 Januari 2019 14:33 Pustaka

Bagikan

Pintu Masuk Mengenal Keragaman Indonesia
Indonesia begitu kaya akan segala hal. Dengan penduduk yang kini lebih dari 260 juta jiwa, Indonesia terdiri dari 1.340 suku dan 652 bahasa. Mereka tinggal di 17.503 pulau yang disatukan dengan laut yang luasnya mencapai 3,25 juta km2. Bangsa Indonesia juga tidak seragam untuk agamanya. Mereka menganut salah satu dari enam agama, yakni Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Di antara mereka juga ada yang menganut aliran kepercayaan.

Keragaman itu merupakan kekayaan tak terhingga yang dimiliki negara ini. Di tengah perbedaan yang begitu kontras, baik dilihat dari suku, bahasa, hingga keyakinan, mereka bersatu atas nama kebangsaan sebagai bangsa Indonesia, bersatu dengan bahasa persatuan bahasa Indonesia, berpegang teguh tanah air Indonesia sebagai wilayah tinggal mereka yang perlu dipertahankan.

Disparitas tentu saja muncul mengingat banyak unsur yang berbeda. Namun, ada satu hal yang harus menjadi pegangan masing-masing individu maupun kelompok, yakni upaya saling memahami terhadap satu sama lain sehingga tidak menimbulkan konflik horizontal. Hal inilah yang selama ini terus dijaga, meskipun di satu dua tempat, peristiwa yang tidak diinginkan terkadang terjadi.

Hal itulah yang diupayakan oleh Ibn Ghifarie melalui bukunya, Merayakan Keragaman. Ia menguraikan hal penting terkait agama yang kerap kali dijadikan alasan oleh sebagian orang untuk menyerang kelompok lain. Dengan dalih agama, mereka melakukan teror yang bahkan hal itu menyasar saudara sendiri.

Di bukunya itu, ia menjelaskan sejak mula kedatangan setiap agama ke Indonesia. Ghifarie juga menerangkan hal pokok setiap agama, yakni akidah atau keimanan, syariat atau ritual peribadatan, dan aturan hubungan sosial kemasyarakatan masing-masing.

Dengan penuh gambar dan penuh warna, buku ini sangat cocok bagi kalangan pelajar yang hari ini menjadi sasaran utama radikalisme dan paham ekstrem atas dasar pemahaman agama. Survei Alvara Research Center menyebut lebih dari 23 persen pelajar Indonesia sudah terpapar virus radikalisme. Hal ini ternyata seirama dengan temuan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menyebut lebih dari 30 persen guru Muslim ingin melakukan aksi teror.

Kehadiran buku ini tentu sangat penting guna menjadi pintu masuk saling mengenal satu sama lain agar ancaman terhadap keretakan negara yang begitu kompleks dengan segala macam perbedaannya ini bisa teratasi. Konflik horizontal rawan sekali terjadi. Terlebih tahun 2019 menjadi tahun politik dan suasana masih memanas.

Peresensi Syakir NF, mahasiswa Program Magister Islam Nusantara Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta.

Identitas Buku
Penulis : Ibn Ghifarie
Judul : Merayakan Keragaman, Religious Literacy Series
Halaman         : xiii + 184
Tahun Terbit : 2018
Penerbit         : Expose