::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tarbiyah dan Salafi Wahabi Penyebab Mahasiswa PAI Inginkan Negara Islam

Jumat, 11 Januari 2019 02:06 Nasional

Bagikan

Tarbiyah dan Salafi Wahabi Penyebab Mahasiswa PAI Inginkan Negara Islam
Jakarta, NU Online
Peneliti Center for The Study of Islam and Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Abdur Rozaki mengungkapkan islamisme ala Tarbiyah (dipelopori Hasan Al-Bana, Mesir) dan Salafi Wahabi (Muhammad bin Abdul Wahab, Arab Saudi) telah masuk ke dalam kampus-kampus di Indonesia.

Gerakan dan tujuan kelompok tersebut berbeda dan memiliki pertentangannya sendiri, tapi di Indonesia ada irisannya yaitu menyebabkan beberapa hal. Pertama, tingginya angka mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) yang menghendaki negara menggunakan sistem khilafah. Ide khilafah ini diusung kelompok lain secara tegas, yaitu Hizbut Tahrir. Kedua, tingginya intoleransi dalam cara pandang mahasiswa.

Baca: Mengkhawatirkan, 41,6 Persen Mahasiswa PAI Pandang Pemerintah 'Thaghut'
“Kelompok-kelompok Tarbiyah atau Salafi Wahabi ini masuk menjadi unit intra kampus, bukan ekstra kampus lagi. Sehingga mereka bisa melakukan kaderisasi terhadap mahasiswa di kampusnya,” kata Rozaki di Hotel Aryaduta Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (10/1).

Menurut Rozaki, sebenarnya keberadaan PMII dan HMI di kampus menjadi kekuatan moderatisme, namun akhir-akhir ini, kelompok moderat tersebut kalah kreatif dari kelompok-kelompok Tarbiyah, baik dari sisi pendidikan kaderisasi maupun bangunan pergaulannya.

“Model pengkaderan (PMII dan HMI) kalah menarik dari kelompok Tarbiyah. Cara membangun pergaulannya kalah. Dan yang paling penting, model cara membantu mahasiswa baru ketika dia dari kampung lalu sekolah ke kota dengan sistem komputerisasi misalnya, itu banyak sekali pendekatan-pendekatan kelompok kemahasiswaan (Tarbiyah) baru ini membantu sampai ke kos-kosan, sehingga mahasiswa baru ini diterima langsung masuk ke gerakan ini,” terangnya. 

Baca: Peneliti: PMII dan HMI Kalah Menarik dari Kelompok Tarbiyah
Ia menguraikan tentang sistematisnya kaderisasi yang dilakukan oleh kelompok Tarbiyah dari mulai melakukan pendampingan harian seperti membaca Al-Qur’an, pertemuan mingguan melalui liqa, agenda bulanan terdapat Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) hingga puncaknya menggelar tabligh akbar. 

“Bagi anak-anak muda (yang baru belajar agama dan mempunyai semangat agama yang tinggi) ingin mencari sesuatu yang baru, ini jauh lebih menarik daripada di kelas atau organisasi mainstream (HMI dan PMII),” ucapnya.

Rozaki mengaku memahami bahwa Kementerian Agama sedang mendorong moderatisme di kampus-kampus, namun respons di kampus beragam atau tidak serta merta bisa diterapkan. Ia mencontohkan bagaimana Universitas Islam Malang (Unisma) yang dikenal dengan moderatismenya, tapi bisa dimasuki kelompok Tarbiyah.

“Kelompok islamisme Tarbiyah ini masuk ke kampus, mengirim orang-orangnya, menciptakan kelompok-kelompok kecil, lalu pelan-pelan membangun apa yang disebut dengan islamisme,” jelasnya. 

Sebelumnya, CISForm UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menemukan sebanyak 41,6 % mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam berpandangan pemerintah Indonesia thaghut (tidak Islam), sejumlah 36,5% mahasiswa Prodi PAI berpandangan bahwa Islam hanya dapat tegak dengan sistem khilafah, 27,4% mahasiswa memiliki pandangan boleh menggunakan kekerasan dalam membela agama. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)