::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Peneliti: PMII dan HMI Kalah Menarik dari Kelompok Tarbiyah

Jumat, 11 Januari 2019 04:12 Nasional

Bagikan

Peneliti: PMII dan HMI Kalah Menarik dari Kelompok Tarbiyah
Jakarta, NU Online
Peneliti Center for The Study of Islam and Social Transformation (CISForm) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Abdur Rozaki mengungkapkan bahwa Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dalam menarik mahasiswa tidak sebaik kelompok ideologi Tarbiyah dan Salafi Wahabi, baik dari sisi pendidikan kaderisasi, maupun bangunan pergaulannya.
Baca: Perbedaan Salaf, Salafi, dan Salafiyah
“Model pengkaderan (PMII dan HMI) kalah menarik dari kelompok Tarbiyah, cara membangun pergaulannya kalah. Dan yang paling penting, model cara membantu mahasiswa baru ketika dia dari kampung lalu sekolah ke kota dengan sistem komputerisasi misalnya; itu banyak sekali pendekatan-pendekatan kelompok kemahasiswaan (Tarbiyah) baru ini membantu sampai ke kos-kosan, sehingga mahasiswa baru ini diterima langsung masuk ke gerakan ini,” kata Rozaki di Hotel Aryaduta Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (10/1).

Baca: Tarbiyah dan Salafi Wahabi Penyebab Mahasiswa PAI Inginkan Negara Islam
Baca: Mengkhawatirkan, 41,6 Persen Mahasiswa PAI Pandang Pemerintah 'Thaghut'
Ia menguraikan tentang sistematisnya kaderisasi yang dilakukan oleh kelompok semisal Lembaga Dakwah Kampus, dari mulai melakukan pendampingan harian seperti membaca Al-Qur’an, pertemuan mingguan melalui liqa, agenda bulanan terdapat Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) hingga puncaknya menggelar tabligh akbar. 

“Bagi anak-anak muda (yang baru belajar agama dan mempunyai semangat agama yang tinggi) ingin mencari sesuatu yang baru, ini jauh lebih menarik daripada di kelas atau organisasi mainstream (HMI dan PMII),” ucapnya.

Menurutnya, lingkungan kampus mempunyai pengaruh yang besar bagi kepribadian mahasiswa. Dampak dari hal tersebut, membuat pandangan kebangsaan mahasiswa mencemaskan karena banyak yang menghendaki agar Indonesia menerapkan sistem islam, di antaranya khilafah; dan menimbulkan tingginya angka intoleransi.

Baca: Hasil Penelitian 71, 56 Persen Ulama Terima Konsep Negara-Bangsa
“Organisasi ini berjejaring secara aktif dengan jaringan islamisme lainnya dan kerap kali melakukan aksi-aksi politik terkait isu-isu sekitar ‘bela Islam’,” jelasnya. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)