::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

NU PEDULI BANTEN-LAMPUNG

20 Hari Pascatsunami Lampung Selatan, 118 Meninggal, 7 Belum Ditemukan

Jumat, 11 Januari 2019 14:00 Nasional

Bagikan

20 Hari Pascatsunami Lampung Selatan, 118 Meninggal, 7 Belum Ditemukan
Rakor Bencana Tsunami Lampung Selatan

Lampung Selatan, NU Online
Sekretaris Daerah Kabupaten Lampung Selatan Fredy Sukirman mengatakan jumlah korban meninggal akibat tsunami yang terjadi pada akhir tahun 2018 lalu di pesisir pantai Lampung Selatan mencapai 118 orang. Jumlah ini bisa bertambah karena sampai dengan saat ini ada 7 orang yang belum ditemukan.

"Total warga yang mengungsi sebanyak 7.800 orang. Banyak yang mengungsi tidak terdampak fisik namun dikarenakan rasa takut. Seperti penduduk Pulau Sebesi yang mencapai 2000 orang mengungsi keluar pulau," kata Fredy.

Saat ini masih ada 24 kepala keluarga yang masih bertahan dipengungsian yang oleh Pemda setempat di tempatkan di Wisma Atlit. Pengungsi yang masih bertahan saat ini, dengan jumlah sekitar 90 jiwa, selanjutnya akan dipindahkan ke Hunian Sementara (Huntara) yang sedang disiapkan oleh Pemkab Lampung Selatan.

Beberapa titik lokasi yang akan dibangun huntara di antaranya di Desa Kunjir yang saat ini sekitar 280 penduduknya mengungsi di dataran-dataran tinggi. Ada tiga titik yang menjadi tempat pengungsian di daerah tersebut.

"Di Way Muli Timur dan Way Muli Induk juga akan dibangun Huntara untuk 180 kepala keluarga," jelasnya saat hadir pada Rapat Koordinasi Penanganan Bencana dengan berbagai elemen di Posko Penanganan Darurat Bencana Tsunami Jl Trans Sumatera, Kalianda Lampung Selatan, Kamis (10/1) malam.


Foto: Rapat Koordinasi Penanganan Bencana Tsunami Lampung Selatan


Dibangunnya Huntara ini dilakukan karena kondisi tanah di daerah tersebut rawan longsor sehingga tidak bisa dibangun Hunian Tetap (Huntap).

Data yang terhimpun sampai dengan saat ini terdapat total 765 bangunan yang rusak. Dari tingkat kerusakannya terdapat 558 rumah bangunan mengalami rusak berat, 82 rusak sedang dan 125 rusak ringan akibat terjangan tsunami.
 
Proses rehabilitasi korban terdampak tsunami dengan membangun hunian sementara ini tidak hanya dilakukan oleh pemerintah daerah. Lembaga dan organisasi sosial juga ikut serta membantu terwujudnya Huntara seperti yang dilakukan oleh NU Peduli Lampung.

Kiprah NU Peduli yang sedari awal sudah langsung terjun menangani para korban dengan berbagai bantuan seperti logistik dan kesehatan ini mendapat apresiasi dari pemerintah. NU Peduli juga sudah menginisiasi Huntara yang saat ini sedang dibangun sebanyak 20 unit di Desa Banding.

Selain Huntara, NU Peduli juga selalu aktif berkoordinasi dengan berbagai elemen khususnya Pemda untuk mempercepat proses pemulihan kondisi pascabencana.

"Kita berharap dengan langkah NU Peduli ini dapat membantu masyarakat terdampak tsunami dan pemerintah daerah dalam upaya mewujudkan masyarakat yang mampu kembali bangkit dari musibah yang dihadapi. Kita berharap koordinasi dengan pemda akan dapat ditingkatkan kembali untuk suksesnya misi ibadah sosial ini," kata Ketua PCNU Lampung Selatan KH Mahfud Attijani saat hadir pada rapat tersebut. (Muhammad Faizin)