::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pasukan Kuning dan Merah Menjelang Musim Panas

Ahad, 13 Januari 2019 19:30 Cerpen

Bagikan

Pasukan Kuning dan Merah Menjelang Musim Panas
ilustrasi: merdeka.com
Oleh Dwi Putri

Manusia memang harus pandai berandai-andai tanpa berharap perandaiannya akan terkabul. Dari jari jempol dan telunjuk sama-sama beradu ketangkasan kiranya siapa yang paling kuat di antara mereka dalam menaklukkan gumpalan makhluk tersebut. Ada yang kuning dan ada yang merah, bening dan cair. Dengan langkah pelan dan mata terpicing, laki-laki kurus tersebut berhasil menangkap satu, si kuning. Gembiranya bukan kepalang. Ia menunjukkan kepada ibunya betapa hebatnya dirinya mampu membuat si kuning bertekuk lutut.

“Ahiyahhhhh, dapat juga kau rupanya.”

Dari bawah bibirnya yang hitam –akibat sering mengepul rokok nipah- si kuning berteriak tak berhenti hingga suaranya parau. Cairan tubuhnya tidak mengalir dan menetes. Hanya saja, ketika dielap, ia akan timbul lagi. Begitu seterusnya. Melihatnya, si laki-laki sampai kejam dan tega menekan si kuning terhimpit hingga tak mampu bernapas. Si kuning tersengal dan mencari celah. Barangkali ada angin yang rela hinggap dengan memberinya secercah harapan untuk hidup. Tapi tangan si laki-laki terlalu sigap untuk ia lawan. Pada hari itu juga akhirnya si kuning mati.

Sebelum kematiannya, si kuning sudah mewanti-wanti akan bagaimana keadaanya. Banyak yang tidak suka dirinya dan kaumnya. Bukan banyak, tapi nyaris seluruh sesiapapun yang melihat. Apa lagi di sentuh oleh si kuning. Karena ketidaksukaan semua orang inilah, kekuatan muncul tanpa komando. Kaum si kuning diberi maklumat oleh sesepuh mereka, jika mati satu maka akan tumbuh seribu. Bahkan mungkin bisa berjuta-juta. Tergantung bagaimana lawan. Makanya ketika terbunuh, kaum kuning tidak pernah takut kehilangan jati diri.

Si merah? Ia cukup bedebah, pintar memainkan keadaan. Ia tidak muncul jika situasi sedang buruk. Hanya satu dua atau tiga saja. Tapi jika mereka sedang marah, siapapun yang berani menggepurnya, maka di saat itulah kekuatannya terkumpul. Tak ada yang berani membalas kesaktian si merah. Ia merah –seperti namanya-, besar, tinggi, dan seperti yang aku katakan di atas. Dia cukup licik dalam melihat situasi.

Kematian si kuning beranak pinak menciptakan puluhan kehidupan baru. Para tetua memberkati bayi-bayi yang siap untuk bertarung di medan perang. Sama seperti orang terdahulu mereka, bayi-bayi tersebut langsung diberi petuah mati satu tumbuh seribu. Semua tersenyum dan sigap menghadapi semua ancaman. Ketenangan tak pernah mereka dapat. Kecuali satu masa, yakni musim panas. Di sana mereka akan menang tanpa perlawanan. Dan yang lebih menggembirakan lagi adalah musim tersebut akan dimulai dalam jangka waktu tujuh hari ke depan. Begitu kira-kira yang disampaikan oleh tetua Zao –pimpinan pasukan kuning dan merah-. Tentunya dalam kesempatan ini, pasukan merah juga akan turun ke medan. Licik.

Akan tetapi, sehebat apapun kaumnya, manusia ternyata lebih pintar ketimbang mereka. Enam hari sebelum musim panas, tiba-tiba badai datang dan petir menyambar-nyambar. Anak-anak, pemuda, dan orang tua berlari ke sana-kemari tak tahu arah. Dari singgasana yang berada di atas bukit Tashis, Tetua Zao hanya terdiam menyaksikan apa yang sekarang terjadi pada negerinya. Semua terporak poranda. Ia tidak mungkin merangkul seluruh rakyatnya untuk naik bersama dirinya di singgasana. Turun ke bawah juga tidak mungkin. Mana bisa orang tua sepertinya menghalau hebatnya kekuatan manusia? Keadaan begitu mencekam, hanya ada teriakan, dentuman suara yang tetua Zao sendiri tak paham suara apa itu, petir dan halilintar. Tangan tetua Zao memeluk tubuhnya sendiri. Sampai dagunya menyatu dengan lutut. Puluhan bayi yang baru lahir kemarin juga tak tahu ke mana. Karena seperti tradisi biasanya, bayi-bayi itu akan dirawat oleh para dayang di kampung sungai bukit Yao Kim yang ada di lereng gunung Tashis. Dan kini kampung tersebut suda
h menyatu rata dengan bumi mereka. Hilang.

Mereka tumbang sebelum berperang. Padahal, ketika musim panas nanti, pasukan kaum kuning dan merah akan membunuh manusia secara perlahan. Tidak serta merta melawan dengan gecaran tangan dan kaki. Setidaknya itulah strategi yang bisa mereka gunakan untuk menumpas lawan sekuat manusia. Bukankah begitu juga yang dilakukan oleh Odyseus –sang ahli strategi perang asal Yunani- ketika ingin menjatuhkan kota Troya yang terkenal dengan kekuatan benteng yang tidak bisa ditembus. Troya jatuh dalam satu malam saja setelah penantian panjang. Tetua Zao tidak sehebat Odyseus. Mungkin sebelum musim panas, manusia juga akan menyerang bukit Tashis. Tetua Zao siap dengan apapun yang ditakdirkan oleh Tuhan. Tugas utamanya bukan melawan, tetapi membuat lengah. Sehingga dengan kelengahan tersebut, manusia akan mati dengan gerogotan mengerikan yang mereka bawa. 

Bersama menteri dan pegawai singgasana, tetua Zao mengajak mereka menjemput takdir. Mereka berdoa dan meyakini jika di bawah tanah negeri mereka masih ada akar dan kehidupan pasukan kaum kuning dan merah. Maka suatu saat nanti kehidupan kaum kuning dan merah akan muncul kembali  tanpa mereka. Soal kematian adalah ketentuan Tuhan. Sembari mengepalkan kedua tangan, tetua Zao siap dirampas habis.

***

Si laki-laki terus saja menatap cermin. Ia semakin berbangga hati.

“Mak, jerawatku makin hilang. Tinggal di keningku ini yang masih ada. Besok aku pakai resep yang Emak kasih ya, supaya jerawatnya hilang semua.”

Emak hanya tersenyum melihat si laki-laki yang berjalan semampai mendekat ke arahnya yang sedang memetik sayur kol.


Penulis adalah mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia