::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Santri Bahrul Ulum Warisi Darah Pejuang Islam dan Pembela Tanah Air

Ahad, 20 Januari 2019 22:45 Daerah

Bagikan

Santri Bahrul Ulum Warisi Darah Pejuang Islam dan Pembela Tanah Air
Santri putri Bahrul Ulum
Jombang, NU Online
Ketua Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum (YPPBU) Tambakberas KH Wafiyul Ahdi mengatakan santri Bahrul Ulum memiliki darah pejuang yang diwariskan oleh para pendiri dan pengasuh, terutama dari KH Abdul Wahab Hasbullah dan Kiai Syechah.

Darah yang diwariskan tersebut adalah darah sebagai pejuang Islam dengan menjadi dai, menyebarkan ajarannya dan darah sebagai pembela tanah air. Hal ini karena kecintaan yang besar pada Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Lebih jauh dua warisan darah tersebut berasal dari pendiri Pondok Bahrul Ulum, yaitu Mbah Sychah. Mbah Syechah memiliki dua sisi. Satu sisi adalah seorang dai yang mengajarkan Islam dan di sisi lain merupakan pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia. Itulah yang kita warisi sampai saat ini," katanya, Sabtu (19/01).

Lebih lanjut Kiai Wafi menyampaikan darah perjuangan tersebut dijaga selama bertahun-tahun bersama dengan berdirinya Pesantren Bahrul Ulum. 

"Kita sebagai penerus dari para pendiri berusaha melanjutkan cita-cita pendiri yang menjadikan pondok pesantren sebagai pusat pengkaderan bagi santri-santri yang memiliki dua sisi," tambah Kiai Wafi.

Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas saat ini berumur 194 tahun dan madrasah berumur 104 tahun. Pesantren ini dirintis pertama kali oleh Mbah Syechah. Ia merupakan salah satu pasukan dari Pangeran Diponegoro.

"Alhamdulillah saat ini kita sedang melaksanakan opening ceremony Hari Ulang Tahun Madrasah dan Pesantren (Humapon). Ulang tahun pondok ke-194 dan madrasah ke-104. Semoga kita selalu mendapatkan barokahnya," bebernya.

Humapon kali ini mengangkat tema Indonesia merawat kebhinekaan mengukuhkan keutuhan. Kekayaan budaya di nusantara juga harus dirawat oleh santri terutama berkaitan dengan pesantren dan Islam secara umum.

Santri harus bisa menciptakan perdamain dengan keanekaragaman adat budaya di Indonesia. Santri hendaknya menjadi pelopor bagi bangsa yang sedang tidak aman karena banyak kalangan yang ingin negara kacau.

"Sesuai dengan tema yang diangkat bahwa para santri bisa membuat bangsa dengan damai dengan cara menampilkan budaya nusantara diakhiri dengan tarian saman. Disini ada 10 ribu peserta yang merayakan Humapon," tandasnya. (Syarif Abdurrahman/Abdullah Alawi)