::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ibrahim al-Khawwash, Ulama Sufi Pemilik Segudang Kata Mutiara

Senin, 21 Januari 2019 17:45 Hikmah

Bagikan

Ibrahim al-Khawwash, Ulama Sufi Pemilik Segudang Kata Mutiara
Ilustrasi (artscenegallery.com)
Siapa yang tak kenal dengan tembang “tombo ati”, anak-anak yang lahir tahun 90-an pasti tak asing lagi dengan tembang Jawa itu, apalagi setelah tembang itu digubah dengan pop religi ala Opick dan muncul sebagai musik latar belakang di berbagai acara pada bulan Ramadhan.

Namun siapa sangka, tembang ini berasal dari seorang ulama abad ke-3 Hijriyah bernama Ibrahim al-Khawwash. Al-Khawwash tidak pernah terkenal di telinga anak zaman 90-an, mungkin karena yang mereka tahu adalah tembang “tombo ati” berasal dari salah satu anggota Wali Songo. Ya, hanya cukup sampai di situ.

Nama Ibrahim al-Khawwash baru diketahui ketika kita membaca kitab al-Adzkar an-Nawawi karya Imam an-Nawawi. Namanya disebut sebagai orang yang mengucapkan dawā’ul qalb atau obat hati, yang dalam bahasa Jawa disebut tombo ati.

Dalam kitab Siyār al-Salaf al-Shalihin karya Ismail bin Muhammad al-Ashbahani disebutkan bahwa al-Khawwash adalah teman baik Junaid al-Baghdadi, seorang sufi yang menjadi mahaguru beberapa tarekat di Indonesia.

Jika kita telisik dalam kitab tarajim (kitab yang memuat riwayat para ulama, khususnya ulama hadits), kita akan menemukan dua nama Ibrahim al-Khawwash: pertama, Ibrahim bin Muhammad al-Khawwash; dan kedua, Ibrahim bin Ahmad Abu Ishaq al-Khawwash.

Ibrahim al-Khawwash yang pertama (Ibrahim bin Muhammad al-Khawwash) adalah seorang perawi hadits yang sering meriwayatkan hadits-hadits palsu. Bahkan menurut Ibnu Thahir, “Semua hadits yang diriwayatkan olehnya adalah kepalsuan yang dibuat olehnya sendiri.”

Sedangkan Ibrahim al-Khawwash yang kedua (Ibrahim bin Ahmad Abu Ishaq al-Khawwash) adalah orang yang penulis maksud dalam judul tulisan ini, pemilik “tombo ati” yang sebenarnya.

Untuk membedakan antara keduanya, para ulama menambahkan julukan “al-Amadi” untuk Ibrahim al-Khawwash yang pertama, sedangkan untuk Ibrahim al-Khawwash yang kedua, para ulama menambahkan julukan “al-Zāhid” atau “al-Sūfī”.

Ibrahim al-Khawash al-Zahid memiliki banyak majelis. Ia sering kali bepergian ke Makkah. Al-Khawwash disebut-sebut sebagai tetuanya masyayikh tarekat. Salah dua muridnya yang terkenal adalah Jakfar al-Khuldi dan Abu Bakar al-Razy. Al-Khawwash memiliki banyak kitab karangan tentang tasawwuf. 

Salah satu karamahnya adalah ia pernah didatangi Nabi Khidir. Saat itu Nabi Khidir ingin berteman bersamanya. Namun ia takut merusak rahasia kepercayaan Nabi Khidir kepadanya. Maksudnya, ia takut jika kebersamaannya dengan Nabi Khidir, membuat Nabi Khidir tahu keburukannya, sehingga keburukan itu dapat merusak kepercayaannya. Karena itu, ia memutuskan hubungannya. Kisah ini ia ceritakan kepada muridnya, al-Khuldi.

Mimsyad ad-Dinawari, sebagaimana disebutkan Syamsuddin al-Zahabi dalam Tarikh al-Islam wa Wafayāt al-Masyāhir wa al-Aʽlam, juga pernah bercerita bahwa suatu hari ia keluar rumah, namun tiba-tiba hujan salju begitu deras. Ia pun menyelamatkan diri dan menuju bukit Nuba. Saat sampai di sana, ia melihat seorang laki-laki di puncak bukit. 

Laki-laki itu duduk, namun di sekelilingnya sama sekali tidak ada salju, padahal saat itu sedang hujan salju. Ad-Dinawari pun penasaran, ia mendatangi laki-laki itu. Setelah mendekat, ia baru tahu bahwa laki-laki itu adalah Ibrahim al-Khawwash.

Ad-Dinawari yang tak percaya dengan keadaan al-Khawwash itu kemudian bertanya, “Mengapa kamu bisa seperti itu?”

“Ini karena khidmah (membantu) orang-orang fakir,” jawab al-Khawwash.

Baca juga:
Tembang 'Tombo Ati' Diracik dari Syekh Ibrahim Al-Khawas
'Tombo Ati' Berbentuk Jazz?
Selain diakui memiliki banyak karamah, Ibrahim al-Khawwash juga memiliki banyak kata mutiara. Kata-kata mutiara itu dipopulerkan oleh kedua muridnya, yaitu Ibrahim al-Khuldi dan Abu Bakar al-Razi. Di antara kata-kata mutiara miliknya adalah:

مَنْ لَمْ يَصْبِرْ لَمْ يَظْفَرْ

Artinya, “Siapa yang tidak bersabar, maka ia tidak akan mendapatkan (cita atau keinginannya).”

مَنْ لَمْ تَبْكِ الدُّنْيَا عَلَيْهِ لَمْ تَضْحَكِ الْآخِرَةُ إِلَيْهِ

Artinya, “Siapa yang tidak pernah sengsara di dunia, ia tidak akan bahagia di akhirat.”

لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ إِنَّمَا الْعِلْمُ لِمَنِ اتَّبَعَ الْعِلْمَ وَاسْتَعْمَلَهُ وَاقْتَدَى بِالسُّنَنِ وَإِنْ كَانَ قَلِيلَ الْعِلْمِ

Artinya, “Ilmu itu bukan karena banyaknya riwayat, tetapi ilmu adalah milik orang yang mengikuti ilmu kemudian menggunakannya dan mengikuti dengan sunnah-sunnah walaupun ilmu yang dimiliki sedikit.”

التَّاجِرُ بِرَأْسِ مَالِ غَيْرِهِ مُفْلِسٌ

Artinya, “Pedagang yang berdagang dengan modal dari orang lain, maka ia adalah pedagang yang bangkrut.”

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءٍ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِالتَّدَبُّرِ، وَخَلَاءُ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عَنِ السِّحْرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ

Artinya, “Obat hati itu ada lima: mambaca Quran dengan merenungi (tadabbur) maknanya, mengosongkan perut (puasa), menegakkan malam (dengan beribadah), berdzikir khusyuk di waktu sahur, dan bergaul dengan orang-orang saleh.”

Kata mutiara yang terakhir inilah yang sering kita ingat sebagai “tombo ati”, yang biasa kita dengar di sela-sela adzan dan iqamah, juga sering kita dengar setiap bulan Ramadhan tiba di televisi. Masih banyak lagi kata mutiara yang terucap dari sosok al-Khawwash ini. Beberapa di antaranya dapat ditemukan dalam kitab Siyār al-Salaf al-Shalihin karya Ismail bin Muhammad al-Ashbahani.

Al-Khawwash meninggal pada tahun 291 H. di masjid jami’ kota Ray. Sebelum meninggal ia melakukan shalat, setelah mendapatkan dua rakaat, ia pergi ke kamar mandi. Setelah mandi ia kembali melakukan shalat dua rakaat, setelah itu ia mandi lagi, begitu seterusnya hingga ia meninggal di kamar mandi dalam keadaan telah mandi. Wallahu A’lam.

(Ustadz Muhammad Alvin Nur Choironi)