::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mengaji Kitab Penting, Agar Hidup Lebih Terarah

Selasa, 22 Januari 2019 10:30 Daerah

Bagikan

Mengaji Kitab Penting, Agar Hidup Lebih Terarah
Mojokerto, NU Online
Islam mewajibkan pemeluknya untuk mencari dan belajar ilmu agama agar benar dalam ibadah dan bersikap. Belajar agama harus terus dilakukan kapanpun dan di manapun.

Hal ini juga yang dilakukan kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) yang rutin mengaji kitab Mabadil Fiqih di Masjid Tannwirul Qulub, Desa Gayaman, Mojoanyar, Mojokerto, Jawa Timur, Senin (21/1) malam. 

Kitab yang dikaji sebenarnya tidak hanya mabadil fiqih, akan tetapi juga meliputi kitab Aqidatul Awam, Nahwu Sharaf, Safinatun Najah. Juga Khulashah Ainul Yaqin, dan masih banyak lagi kitab lain.

Keistimewaan mengaji di masjid ini adalah tedapat dua tempat untuk melangsungkan kegiatan belajar kitab. Di sebelah timur masjid khusus untuk laki-laki, dan disebelah selatan untuk perempuan.

“Pembelajaran agama Islam di masjid ini seperti pondok pesantren. Tidak ada campur baur antara pria dan wanita,” kata Ustadz Zuhdi. Sistem pengajarannya juga sama persis di pondok pesantren, ada tanya jawab, diskusi, presentasi, dan praktik, lanjut pengajar kitab kuning ini.

Dikatakannya, mengaji kitab setiap hari, membuat hati dan pikiran menjadi tenang, juga wawasan tentang agama dan dunia pun menjadi luas. "Belajarlah mulai dari kitab dasar, karena apabila kita ingin menguasai ilmu agama dan kitab-kitab lain harus mendalami kitab yang lebih dasar terlebih dahulu,” ungkapnya.

Menurut Ustaz Zuhdi, pemuda perlu mempelajari al-Quran, hadits, dan tata cara ibadah sejak muda agar bermanfaat di masa tua. “Selain al-Quran, mengaji kitab itu penting. Karena dengan begitu hidup kita terarah,” tandasnya. (Inda Nur Wakhidah/Ibnu Nawawi)