::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Tiga Konsep Bangun Ekonomi Umat Menurut Kiai Ma’ruf

Rabu, 23 Januari 2019 12:30 Nasional

Bagikan

Tiga Konsep Bangun Ekonomi Umat Menurut Kiai Ma’ruf
KH Ma'ruf Amin, Mustasyar PBNU
Nganjuk, NU Online
Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin menjelaskan, ada tiga hal yang perlu dibangun di Indonesia untuk merubah kondisi perekonomian bangsa.

Pertama adalah kemauan masyarakat untuk maju. Kedua, kemauan pemerintah untuk membangun, mengeluarkan regulasi atau aturan yang bisa mendorong ekonomi umat. Dan ketiga, kesiapan ekonomi kuat untuk berkolaborasi dengan yang ekonomi lemah.

"Ada tiga pihak yang berperan penting untuk membangun ekonomi umat: entrepeneur (wirausahawan), pemerintah, dan konglomerat. Membangun entrepreneur, kemauan pemerintah dengan membuat regulasi, dan kemauan konglomerat untuk kerja sama berkolaborasi. Ini yang ingin kita dorong," jelasnya.

Menurut penggagas arus baru ekonomi Indonesia ini, arus ekonomi lama tak berhasil menguatkan perkonomian. Malah cenderung melemahkan. Pasalnya disparitas atau kesenjangan ekonomi semakin lebar.

Jadi perlu disusun arus baru ekonomi yakni memperkuat ekonomi umat dengan mensinergikan antara konglomerat dengan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.

"Selama ini yang atas makin kuat, yang bawah makin 'reyot'," kata Kiai Ma'ruf saat menghadiri Launching Kopi Abah dan Dialog Kebangsaan bertema Arus Baru Ekonomi Umat, Masa Depan UMKM dan Koperasi Syariah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Selasa (22/1).

Kiai Ma'ruf menegaskan perlu ada perubahan pembangunan ekonomi nasional. Karena menguatkan ekonomi umat memerlukan kolaborasi, kerja sama, kemitraan, dan sinergitas.

Pengembangan ekonomi tidak dari konglomerat, tapi dari kalangan menengah ke bawah. Dengan pemberdayaan ekonomi umat.

"Membangun ekonomi umat, tidak harus membenturkan ekonomi umat dengan konglomerat," katanya. (Syarif Abdurrahman/ Muhammad Faizin)