::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARLAH KE-73 MUSLIMAT NU

Menari Sufi di Depan Jokowi

Ahad, 27 Januari 2019 07:45 Nasional

Bagikan

Menari Sufi di Depan Jokowi
Tarian sufi di Harlsh ke-73 Muslimat NU, Sabtu (27/1) pagi
Jakarta, NU Online
Tepat pukul 07.20 WIB, Ahad (27/1), Presiden Joko Widodo tiba di lokasi peringatan Harlah ke-73 Muslimat NU di Stadion Gelora Bung Karno (GBK). Dari atas panggung di tengah stadion, penyanyi Tompi dan Haddad Alwi mulai melantunkan lagu Thala'al Badru menyambut kehadiran Presiden. 

Pada saat bersamaan, ratusan penari sufi yang tersebar di beberapa titik di tengah lapangan mulai memutar badannya berlawanan dengan arah jarum jam. Nur Qomar, pendamping grup Tari Sufi Dervish, Pekalongan, Jawa Tengah, menjelaskan bahwa putaran itu seperti tawaf.

"Kalau muter-nya ke kiri, itu muaranya ke atas. Maksudnya kepada Allah Swt," jelasnya.

Lebih lanjut, Qomar menyampaikan bahwa sejarah tari sufi itu bermula dari Sayyidina Abu Bakar ra yang mendapat kabar gembira sebagai ahli surga.

"Saking seneng-nya sampai muter-muter," terangnya.

Kesenangan itu pula yang dirasakan Ilham (11). Siswa Kelas 5 Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) Demangan, Magetan, Jawa Timur mengaku begitu gembira dapat menari di hadapan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo.

"Senang karena menari di depan Pak Presiden,"  ungkapnya.

Siti Jainah (50), orangtua Ilham, menceritakan bahwa menari merupakan keinginan Ilham sendiri karena seringnya melihat tarian tersebut.

"Mulai belajar kelas 3 SD karena sering lihat (tari sufi) di pengajian," jelas warga Takeran, Magetan itu.

Senada dengan Jainah, Yudi Agus Irmanto (38) juga mengungkapkan bahwa putrnya yang bernama Rizki Setiawan (11) itu berkeinginan sendiri belajar menari tanpa ia memintanya.

"Kemauan anak sendiri, lihat dari seniornya," terang bapak asal Bojonegoro, Jawa Timur itu.

Jika Ilham dan Rizki berkeinginan sendiri, Ridwan Wahid (20), pembimbing, mengaku berawal iseng. Mula-mula ia merasakan pusing. Bahkan ia juga pernah menabrak tembok.

Namun lama-kelamaan, remaja asal Ponorogo, Jawa Timur itu sudah terbiasa. Pasalnya, sebagaimana yang ia ketahui, itu bukanlah tarian, melainkan salah satu metode dzikir.

"Metode dzikir, bukan tarian. Kan cuma berputar, tidak banyak gerakan," katanya.

Sebagaimana rekan-rekannya, ia merasa senang bisa menari dan sekaligus membimbing langsung rekan lainnya menari di hadapan orang nomor satu di Indonesia. Meskipun, terkadang ia juga harus menahan diri mengingat adik-adik di bawahnya berlatih dan menari sesuai moodnya.

"Ngajari ribet-nya luar biasa. Apalagi anak-anak kan tergantung mood," katanya. (Syakir NF/Kendi Setiawan)