::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Beribadah atas Nama Orang Tua

Rabu, 30 Januari 2019 06:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Beribadah atas Nama Orang Tua
Rasulullah diutus Allah ke dunia ini untuk menyampaikan risalah ilahi, mengajak manusia untuk menyembah Allah, dan mengesakan-Nya. Rasulullah menjadi ‘wakil’ Allah di muka bumi. Sehingga ketika Rasulullah masih hidup pada saat itu, para sahabat langsung bertanya kepada Rasulullah manakala mereka menemukan sebuah persoalan. Baik persoalan sosial, politik, budaya, peperangan, dan terutama problematika keagamaan. 

Rasulullah selalu menyampaikan ‘apa yang didapatnya’ dari Allah kepada para sahabatnya. Mulai dari bab ritual keagamaan, penjelasan tentang sebab turunnya ayat, etika, nasihat, anjuran, hingga larangan. Semuanya disampaikan dengan detil dan rinci sehingga para sahabat memahaminya dengan baik. Pengajarannya pun tidak melulu dilakukan di masjid, tapi juga di tempat-tempat lainnya seperti rumahnya, rumah sahabat, dan lainnya.

Alkisah, suatu ketika Rasulullah tengah memberikan pengajaran kepada para sahabatnya. Salah satu peserta yang hadir adalah Buraidah bin al-Hushaib al-Aslami. Setelah Rasulullah menyampaikan beberapa nasihat, Buraidah ‘curhat’ kepada Rasulullah terkait dengan unek-unek yang mengganjal di hatinya. 

Mula-mula, ia bilang kepada Rasulullah kalau beberapa waktu lalu dia memberi ibunya seorang hamba sahaya. Pemberian itu dimaksudkan untuk meringankan beban pekerjaan ibunya. Namun kata Buraidah, ibunya meninggal dunia. 

“Engkau pasti mendapat pahala dan hamba sahaya itu kini menjadi milikmu kembali sebagai harta warisan,” kata Rasulullah menimpali 'curhatan' Buraidah, seperti dikutip buku Pesona Akhlak Nabi (Ahmad Rofi’ Usmani, 2015).

Buraidah lantas menyampaikan dua pertanyaan kepada Rasulullah. Pertama, perihal hutang puasa. Buraidah menceritakan kalau ibunya memiliki hutang puasa. Ia bertanya kepada Rasulullah apakah boleh berpuasa atas nama ibunya. Rasulullah pun mempersilahkan Buraidah untuk berpuasa atas nama ibunya.

Kedua, soal haji. Buraidah juga bertanya kepada Rasulullah apakah dirinya boleh meng-haji-kan ibunya karena ibunya belum pernah naik haji. Lagi-lagi Rasulullah membolehkan Buraidah untuk melakukan itu. Beribadah atas nama orang tuanya. Berbuat baik atas nama orang tua.  

“Naik haji lah engkau atas namanya (ibu),” jawab Rasulullah. 

Demikian lah jawaban langsung dari Rasulullah. Boleh-boleh saja jika seseorang meniatkan ibadahnya atau berbuat baik atas nama orang tuanya yang sudah tiada. Beliau tidak melarangnya, bahkan malah mempersilahkannya. (A Muchlishon Rochmat)