::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

HARLAH KE-93 NU

Kiai Said Aqil Siroj: NU Organisasi Wahyu dan Akal

Jumat, 01 Februari 2019 15:15 Halaqoh

Bagikan

Kiai Said Aqil Siroj: NU Organisasi Wahyu dan Akal
NU didirikan para kiai pesantren di Surabaya pada 31 Januari 1926 M sebagai respon atas situasi yang berkembang di dunia internasional dan lokal. Terutama respon terhadap situasi cara beragama yang antimazhab dan penghakiman bid'ah pada tradisi yang baik yang berkembang di masyarakat serta respon atas penjajahan Belanda. 

Para kiai tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan terhadap kelompok yang membid'ahkannya serta melawan penjajahan Belanda. Namun, pergerakan mereka tidak terorganisasi secara rapi dan serentak. Atas dasar itulah mereka menamakan organisasinya nahdlatul berasal dari kata nahdlah sebagai kebangkitan yang berkelanjutan. Mereka tidak menapikan dan merasa terputus dari pergerakan kiai sebelumnya, melainkan melanjutkan. Dan kebangkitan tersebut tidak hanya sesaat, tapi berkelanjutan. Sementara kata ulama, adalah bentuk yang mendeskripsikan kalangan mereka sendiri yaitu para kiai yang merupakan para ahli waris nabi dari sanad yang jelas dan tersambung.  

Tahun ini NU memasuki usia 93 tahun. Tidak banyak organisasi yang bisa bertahan hampir seratus tahun yang mampu mempertahankan prinsip dan cita-cita para pendirinya. Bahkan NU terus berkembang melewati berbagai macam rezim dengan situasi zaman yang berbeda. Bahkan NU pernah berganti status dari organisasi keagamaan murni menjadi partai politik. Lalu kembali ke khittahnya, sebagai organisasi keagamaan yang mengembangkan pemberdayaan ekonomi, intelektualitas, pendidikan, bahkan kesehatan. 

Lalu bagaimana gambaran umum organisasi ini saat ini? Abdullah Alawi dari NU Online berhasil mewawancarai Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, di ruangannya, Gedung PBNU, Jakarta, Selasa (29/1). Berikut petikannya:

Pak Kiai bisa refleksi harlah ke-93 NU?
Banyak sekali yang sudah kita hasilkan, banyak juga yang belum kita hasilkan. Pada periode kepengurusan saya sudah 31 perguruan tinggi, 6 rumah sakit di bawah NU, adanya Hari Santri, adanya tema Islam Nusantara yang sudah mendunia yang mana saya berpidato di luar negeri tentang Islam Nusantara di Amerika dua kali, di Hong Kong, Taiwan, China, Korea Selatan, Jepang, Mesir saya sampaikan Islam Nusantara. Di Hong Kong seusai ceramah dua orang masuk Islam. Di Jepang 16. 

Apa sebetulnya yang membuat NU bisa bertahan 93 dan terus bekembang? 

Karena moderat. Moderat itu pasti akan langgeng. Tidak eksklusif. Moderat itu artinya mampu menggabungkan antara agama dan wahyu dan akal, antara wahyu dan budaya, antara wahyu dan tradisi, antara wahyu dan kehidupan kita sehari-hari, moderat namanya. Kalau wahyu saja, jumud minimal. Kalau akal saja, budaya saja nanti, akan kering, sekuler, liberal, liar, atau abangan. 

Bisa disebutkan kontribusi NU untuk bangsa? 

Sangat banyak sekali. Sudah tidak ragu, dalam empat pilar dari pusat sampai ranting, sampai kiai-kiai kampung semuanya NKRI, semuanya pancasilais. Semuanya mengajak; kita kiai NU, kiai pesantren, kiai ranting, kiai mushala, semua, sudah paham itu semua. Walaupun tidak bisa menjabarkan apa itu nasionalisme, apa itu Pancasila, tapi semua punya kekuatan prinsip bahwa Indonesia, Pancasila Undang-Undang Dasar 45, sudah final. Kiai kampung pun semua begitu, walaupun kalau menjelaskan tidak mengerti. 

NU juga mengambil peran-peran internasional mulai dari saat didirikan dengan membentuk Komite Hijaz, dilanjutkan  Gus Dur dan dilanjutkan Pak Kiai? 

Globalisasi sekarang sudah memasuki era 4.0. Itu sudah ketinggalan tuh karena sekarang Jepang sudah 5.0 karena memasukan central humanity. Kemanusiaan masuk dalam teknologi. Itu kan artinya kembali ke agama. Kembali ke NU, ke wisdom. Kalau ada agama mesti ada wisdomnya. Kehidupan ini ada wisdom. Jadi nilainya agama. Dalam kehidupan harus ada wisdom. Central humanity itu kembali ke agama. Kemarin 4.0 seakan-seakan meninggalkan hal spiritual, murni teknologi sebagai puncaknya. 5.0 sekarang di Jepang sudah mulai. Teknologi sudah mentok, maka harus ada central humanity. Moral juga masuk itu ya.

Posisi NU untuk berperan di kancah internasional itu bagaimana? 

Bisa. Kita mampu. Kita mempunyai kapital sosial yang sangat besar. Kita bisa mengikuti perkembangan zaman. Tidak akan ketinggalan karena kita moderat. Nah, di situ, pentingnya moderat. Kalau kita berhenti pada satu titik jumud, apalagi radikal ekstrem itu tidak akan berkembang.

NU memiliki cabang istimewa di banyak negara. Untuk membantu NU peran internasional NU, apa yang bisa dilakukan mereka?

Kita harus mampu berdialog, berlogika, kita harus membantu menyampaikan alasan-alasan yang rasional mengajak orang lain, minimal memahami NU. Minimal. Syukur-syukur didukung, atau memeluk, atau NU, di dunia internasional. PCI-PCI harus menjadi duta luar biasa untuk menyampaikan Islam Nusantara. 

NU kan organisasi ulama, berarti organisasi yang mengedepankan intelektualitas. Ada seorang tokoh yang mengatakan NU akan panen kaum intelektual dalam jumlah banyak. Apa saat ini sudah kelihatan?

Sekarang ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama, red) sekarang mengumpulkan 714 profesor doktor. Kalau tidak profesor sampai 15000, doktor saja, belum profesor. 

Ketika dulu masih baru merdeka, kiai-kiai NU masih sangat anti apa pun yang berbau Belanda, bahasanya, agamanya, kebudayaannya, ilmunya; nah ini salah nih. Ilmunya pun yang datang dari Eropa waktu itu, kiai-kiai NU menolak karena rata-rata kiai itu pernah disakiti, ada yang dibunuh bahkan oleh penjajah. Di situlah sikap nonkoperasi kiai-kiai. Sekarang mulai terbuka, generasi sudah berganti dan jauh dari kesan negatif dari penjajah, maka pintu sudah terbuka, kebutuhan kita dituntut untuk menguasai teknologi. 

Ayah saya itu, satu kata pun bahasa Belanda, tak mengerti, satu kata saja, bukan tak mengerti, enggak ingin mengerti, makan dalam bahasa Belanda pun tidak mengerti, saking bencinya. Bayangkan waktu itu, orang Kristen sudah ada yang doktor itu. Bapaknya Marsilam Simanjuntak itu sudah doktor masih zaman Belanda. Ayah saya anti-Belanda. Satu kata bahasa Belanda tak ingin tahu. Enggak mau tahu. Benci budayanya, pakaian, celananya, dasi, benci, sampai haram hukumnya. 

Berarti NU bisa melakukan percepatan? 

Nah, iya, ya. Waktu Gus DUr presiden saja mencari teknokrat itu masih sangat-sangat susah. Sekarang alhamdulillah