::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ketika KH Hasyim Muzadi Diminta Gurunya Tinggalkan Jabatan Anggota DPR

Senin, 04 Februari 2019 08:30 Nasional

Bagikan

Ketika KH Hasyim Muzadi Diminta Gurunya Tinggalkan Jabatan Anggota DPR
KH Hasyim Muzadi
Tangerang Selatan, NU Online
Kiai Hasyim Muzadi adalah sosok yang dikenal patuh kepada guru. Sederet jabatan yang pernah ia pegang baik di pemerintah maupun di NU tak pernah membuatnya pongah dan melupakan guru-guru yang pernah mengajarinya.

Bentuk ketaatannya terhadap guru pernah ia lakukan ketika menjabat sebagai anggota DPR. Suatu saat, Mbah Dul (Abu Fadhol) Senori meminta Kiai Hasyim untuk meninggalkan jabatan tersebut. Mbah Dul sendiri merupakan guru yang telah membimbing Kiai Hasyim sebelum namanya melejit seperti yang kita kenal.

“Karena sam’an wa thaatan (dengar dan patuh) kepada guru, jabatan tersebut beliau tinggalkan yang pada waktu itu sedang jaya-jayanya,” papar penulis buku Pusaka Kebangsaan: Sinergitas Islam dan Kebangsaan, Sofiuddin, dalam diskusi Islam Nusantara Center, Ciputat, Tangerang Selatan, Sabtu (2/2).

Setelah meninggalkan jabatan tersebut, lanjutnya, Kiai Hasyim menjadi pengangguran, tidak punya apa-apa, bahkan untuk keseharian pun tidak ada yang bisa dimakan. Kemudian ia menanyakan kembali kepada gurunya perihal tersebut.

“Sudah kamu nanti juga ada yang mencukupi, kamu tinggal saja di situ,” tutur santri Kiai Hasyim mengutip ucapan dari Mbah Dul.

Mbah Dul kemudian menunjukkan sebidang tanah untuk digunakan mengajar yang hasilnya dapat digunakan untuk menafkahi anak istrinya. Dari lahan tersebut Kiai Hasyim membangun sebuah mushala kecil yang hanya menampung 3-4 orang saja.

“Sangat kecil, tapi dengan kreatifitas beliau, ia berfikir keras bagaimana mushala kecil itu dapat menampung orang-orang yang ingin mengaji,” tambahnya.

Karena banyak orang yang mengaji, pada tahap berikutnya sang guru memerintahkan lagi untuk membangun bangunan yang lebih besar di samping mushala tersebut.

“Bangunan tersebut yang kini disebut sebagai Pesantren Al Hikam Malang,” terangnya.

Penempatan pesantren oleh sang guru adalah atas pertimbangan karena dekat dengan kampus-kampus besar, seperti Universitas Brawijaya, UIN Malang, UMM dan perguruan tinggi lainnya.

“Seperi halnya Al Hikam Depok, itu juga atas pertimbangan karena dekat dengan Universitas Indonesia,” katanya.

Sofiuddin juga menceritakan bahwa Kiai Hasyim juga berkeinginan membangun Al Hikam 3 yang tempatnya dekat dengan ITB. Namun, belum sempat terwujudkan, Allah telah memanggilnya terlebih dahulu.

“Tapi perjuangan beliau diteruskan oleh salah satu santrinya yang berhail membangun Al Hikam 3 di Papua,” paparnya. (Nuri Farikhatin/Muhammad Faizin)