::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Pesan Grand Syekh Al-Azhar: Jangan Sebut Non-Muslim sebagai Minoritas

Selasa, 05 Februari 2019 13:30 Internasional

Bagikan

Pesan Grand Syekh Al-Azhar: Jangan Sebut Non-Muslim sebagai Minoritas
Abu Dhabi, NU Online
Grand Syekh Al-Azhar, Mesir, Ahmad Muhammad Ahmad Al-Thayyeb, mengimbau agar umat Islam di Timur Tengah tidak menggunakan istilah minoritas ketika menyebut non-Muslim. Bagi Syekh Al-Thayyeb, non-Muslim adalah warga negara yang memiliki hak, sama seperti umat Islam. 

“Saya ingin Anda tidak menggunakan istilah 'minoritas'. Anda bukan minoritas. Anda adalah warga negara dalam semua konteks. Mari kesampingkan istilah itu. Anda adalah warga negara dengan hak penuh,” kata Syekh Al-Thayyeb kepada umat Kristen di Timur Tengah dalam sebuah pertemuan lintas agama di Abu Dhabi yang dihadiri Paus Fransiskus, dikutip BBC, Selasa (5/2).

Syekh Al-Thayyeb juga meminta kepada umat Islam agar merangkul umat Kristen di Timur Tengah. Menurut dia, umat Kristen adalah ‘rekan’ umat Islam di dalam konteks kehidupan bernegara. 

“Pesan saya kepada Anda semua adalah: 'Rangkul saudara dan saudari Kristen. Merekalah rekan di dalam negara. Mereka dekat dengan kita. Ada ikatan khusus di antara kita'," urainya.

Di samping itu, Syekh Al-Thayyeb menyerukan kepada umat Islam di negara-negara Barat untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam masyarakat dan menghargai hukum setempat. Namun demikian, di saat bersamaan Syekh Al-Thayyeb berpesan agar umat Islam di Barat juga mempertahankan identitas diri sebagai seorang Muslim.

“Jika Anda punya masalah terkait agama di negara tempat Anda berada, Anda perlu berbicara kepada pemuka agama dan tuntaskan dengan cara itu," jelasnya.

Pada pertemuan itu, ditandatangani sebuah 'Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama'. Salah satu isi dokumen itu adalah kecaman terhadap pihak-pihak yang menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan aksi-aksi kekerasan yang dilakukannya. 

“Tuhan Yang Maha Kuasa, tidak perlu dibela siapapun dan tidak ingin nama-Nya digunakan untuk meneror orang," kata dokumen itu.

Dalam dokumen itu juga tercantum seruan kepada seluruh pemimpin dunia untuk bekerjasama dalam menyebarkan budaya toleransi, mencegah pertumpahan darah, dan menghentikan peperangan. (Red: Muchlishon)