::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian II-Habis)

Kamis, 07 Februari 2019 18:00 Sirah Nabawiyah

Bagikan

Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian II-Habis)
“Di banyak bagian dari kitab-kitab penganut ajaran Brahmaisme, Majusi, di samping Yahudi dan Nasrani, terdapat teks-teks yang menunjukkan bahwa nama Muhammad telah diperkenalkan di sana,” kata Abbas al-Aqqad dalam bukunya Mathla’ an-Nur. 

Menariknya, pemberitaan tentang nama dan kedatangan Rasulullah tidak hanya terdapat di kitab suci ‘agama samawi’. Informasi tentang nama Nabi Muhammad saw. juga ada dalam kitab-kitab penganut ajaran Majusi, Budha, dan Hindu, dan Brahma. 

Dalam kitab suci umat Hindu, Adharwhidma, misalnya. Nama Muhammad sudah diperkenalkan. Dalam salah satu ayatnya disebutkan, “Wahai manusia, dengarlah dan sadarlah, Muhammad akan diutus diantara manusia, keagungannya dipuji sampai di surga dan dia menjadikan surga itu tunduk kepadanya, dan dia adalah Muhamid.

Begitu pun dalam Bhawisyapurana, kitab Hindu lainnya. Dalam salah satu ayatnya disebutkan tentang kedatangan Nabi Muhammad saw.: “Pada saat itu, diutus lah seorang asing bersama para sahabatnya dengan nama Muhamid yang diberi gelar ‘tuan dunia’ dan raja, ia membersihkan dunia dengan lima pembersih. 

Muhamid dalam kitab umat Hindu tersebut diyakini sebagai Nabi Muhammad saw. Sedangkan yang dimaksud ‘lima pembersih dunia’ dalam ayat tersebut di atas adalah shalat lima waktu. Teks tersebut juga menyebutkan sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka digambarkan sebagai orang yang berkhitan, tidak memotong rambut sebelah, memakan hewan kecuali babi, tidak menggunakan tumbuhan darba untuk membersihkan dosa, dan mereka dinamakan musalli (muslimin). 

Sosok Nabi Muhammad saw. juga terdapat dalam kitab suci Weda dan sejumlah kitab suci umat Hindu yang berbeda-beda lainnya. Dari hasil penelitian yang dilakukan sekelompok peneliti India, terdapat pribadi ‘Narasyans’ dalam kitab-kitab Hindu tersebut. Narasyans sendiri berasal dari kata nar (manusia) dan asyans (dipuji). Dengan demikian, Narasyans merupakan orang yang dipuji atau orang yang terpuji, sepadan dengan kata Muhammad.    

Baca juga: Nabi Muhammad dalam Kitab Suci Terdahulu (Bagian-I)

Begitu pun mantra-mantra dalam kitab dalam kitab Weda dan kitab suci umat Hindu lainnya. Diantara bunyi mantranya: “Dengarlah manusia dengan penuh hormat, sesungguhnya Narasyans dipuji dan disanjung, sedangkan kita menjaga orang yang berhijrah –orang yang membawa bendera keamanan itu- antara enam puluh ribu sembilan puluh musuh.”

Raghib as-Sirjani dalam bukunya Rasulullah Teladan untuk Semesta Alam (2011) mengemukakan bahwa mantra dalam kitab suci umat Hindu itu menunjuk kepada Nabi Muhammad saw. Teks itu menyebut tentang Narasyans yang dipuji dan disanjung. Menurut Raghib, tidak ada manusia di dunia yang dipuji dan disanjung sebanyak Nabi Muhammad saw. 

Teks mantra itu juga menyebut tentang orang yang behijrah. Dan Nabi Muhammad saw. juga adalah orang yang berhijrah, dari Makkah ke Madinah. Bahkan, hijrah Nabi Muhammad saw. menjadi tonggak penting dalam sejarah Islam. Terakhir, teks itu juga menyebutkan tentang jumlah musuh, yaitu enam puluh ribu sembilan puluh. Jumlah ini diyakini mendekati dengan jumlah musuh Rasulullah selama hidupnya.

Mantra lainnya berbunyi: “Kendaraannya adalah unta, istri-istrinya adalah 12 orang. Ia mendapatkan kedudukan yang tinggi dan dengan kecepatan kendaraannya ia dapat menyentuh langit lalu turun.”

Teks mantra ini membuat informasi tentang Nabi Muhammad saw. menjadi detil. Disebutkan juga tentang jenis kendaraannya, jumlah istrinya, dan kemuliannya. Bahkan, di dalam teks itu juga secara tersirat menginformasikan tentang perjalanan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad saw. dari Makkah hingga ke Sidratil Muntaha. 

Bukan kah di dalam Al-Qur’an Allah telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia telah mengutus seorang pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan bagi setiap umat. Sebagaimana dalam QS Fathir ayat 24:”Sesungguhnya kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tiada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan.” (A Muchlishon Rochmat)