::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Terkait Video NU Dukung Nasakom Baru, PBNU: Ilusif dan Ahistoris

Jumat, 08 Februari 2019 00:30 Nasional

Bagikan

Terkait Video NU Dukung Nasakom Baru, PBNU: Ilusif dan Ahistoris
Ketua PBNU, Robikin Emhas
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Bidang Hukum, HAM dan Perundang-undangan, Robikin Emhas menyayangkan pihak-pihak tertentu yang menarasikan NU mendukung Jargon Nasionalis, Agama dan Komunis (Nasakom) baru jika Joko Widodo kembali terpilih sebagai presiden.

Menurut Robikin, narasi tersebut ilusif dan bertentangan dengan sejarah yang ada.

"Di tahun politik ini ada saja yang menarasikan seolah-olah NU akan menjadi pendukung Nasakom (Nasionalis, Agama, Komunisme) baru kalau Jokowi menang Pilpres. Ilusif dan ahistoris," kata Robikin kepada NU Online Kamis (7/2) malam melalui sambungan telepon.

Robikin menganggap, narasi yang keliru itu muncul atas dasar pada masa Presiden Sukarno, NU mendukung Nasakom. Padahal, sambungnya, ketika itu NU menjadi pihak terdepan yang menuntut agar Partai Komunis Indonesia (PKI) dibubarkan.

"Perlu dicatat, NU bukan pendukung PKI. Setelah pemberontakan G 30 S/PKI, NU bahkan berada di garda terdepan menuntut pembubaran PKI. Mengapa? Karena paham Islam ahlu sunnah wal jamaah dan visi kebangsaan yang dianut NU tak memberi ruang bagi tafsir PKI terhadap sila pertama Pancasila dan pemberontakan yang dilakukan PKI," ucapnya.

Baginya, sejarah telah mencatat bahwa dukungan NU terhadap Nasakom pada era demokrasi terpimpin kala itu selain atas pertimbangan keutuhan NKRI, justru sebagai bandul politik untuk membendung laju komunis yang kala itu pengaruhnya makin meluas. 

"NU menempatkan diri menjadi benteng Islam dari kemungkinan ancaman komunis. Apalagi kala itu NU boleh dibilang sebagai satu-satunya kekuatan politik Islam usia pembubaran Masyumi karena terlibat PRRI/Permesta," ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa tidak ada larangannya bagi warga negara untuk turut meramaikan politik elektoral, baik Pemilihan Legislatif mail Pemilihan Presiden. Namun demikian, ia mengingatkan agar tidak menciderai hajatan demokrasi lima tahunan ini dengan menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fake news.

Selain itu, Robikin juga mengajak masyarakat supaya mengisi pesta demokrasi dengan berbuat kebaikan.

"Di tahun politik tidak ada larangan bagi warga negara untuk meramaikan politik elektoral, baik Pileg maupun Pilpres, tapi jangan ramaikan dengan hoaks, ujaran kebencian atau fake news. Fastabiqul khairat. Berlomba-lombahlah dalam berbuat kebaikan, dengan cara yang baik," jelasnya. 

Sebelumnya, video beredar secara viral di media sosial. Video yang diduga Ahmad Dhani ini berbicara di depan umum soal Nasakom. Dalam video yang berdurasi 3 menit 22 detik tersebut, Dhani menyinggung NU yang bersama PKI pada waktu itu, bahkan dikaitkan dengan Nasakom baru. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)