::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Mahfud MD: Pilih Calon Pemimpin Berdasar Rekam Jejak

Jumat, 08 Februari 2019 14:00 Nasional

Bagikan

Mahfud MD: Pilih Calon Pemimpin Berdasar Rekam Jejak
Jakarta, NU Online
Guru Besar Hukum Tata Negara Mohammad Mahfud MD menegaskan bahwa seluruh calon pemimpin dan calon legislatif memiliki visi misi yang baik. Tetapi menurutnya, pemilih tidak hanya cukup mempercayai narasi visi, melainkan memilih berdasarkan track record atau rekam jejaknya.

Ia menyebut, para caleg dan calon pemimpin yang berlaga dalam Pemilu mengemukakan visi misi yang semua mulia. Tak ada calon yang mengatakan akan menghancurkan Indonesia atau mencelakakan rakyatnya.

“Maka itu tak cukup hanya percaya pada narasi visi, tapi lihatlah track record atau rekam jejaknya, kemudian pilihlah,” ucap Mahfud MD dikutip NU Online, Jumat (8/2) lewat twitternya.

Dalam kesempatan lain, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) ini memberikan semacam panduan bagi masyarakat untuk memilih. Yang terpenting dari proses pemilihan umum (pemilu) ialah kebersamaan, bukan mengedepankan pertengkaran.

“Pilihlah yang lebih banyak bagusnya atau lebih sedikit jeleknya. Jangan tidak memilih, negara ini harus terus berjalan terlepas dari soal Anda memilih atau tidak. Gunakan hak konstitusional untuk mewarnai wajah kepemimpinan konstitusional,” ujar Mahfud.

Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan ini menerangkan, setiap orang yang telah memenuhi syarat mempunyai aspirasi. Tentunya pilihan disesuaikan dengan aspirasi. Yang penting memilih.

“Bagimu pilihanmu, bagiku pilihanku. Anda tahu siapa yang akan kupilih, aku pun tahu siapa yang akan Anda pilih. Buat apa bertengkar? Kita punya aspirasi dan kita akan memilih yang lebih sesuai dengan aspirasi kita masing-masing. Yang penting memilih, soal mau pilih siapa, silakan,” tegas Mahfud.

Dia mengutip salah satu kaidah ushul fiqih, dar'ul mafaasid muqaddamun alaa jalbil mashaalih, menghindari keburukan itu harus lebih didahulukan daripada meraih kebaikan. 

“Artinya, jangan pertaruhkan masa depan dengan hal-hal yang tidak jelas, spekulatif, dan berpotensi lebih merusak,” jelasnya. (Fathoni)