::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Paus Fransiskus, Grand Syekh Al-Azhar dan Trilogi Ukhuwah NU

Sabtu, 09 Februari 2019 06:30 Opini

Bagikan

Paus Fransiskus, Grand Syekh Al-Azhar dan Trilogi Ukhuwah NU
Paus Fransiskus dan Grand Syekh Al-Azhar (Reuters)
Oleh Fathoni Ahmad

Baru-baru ini pertemuan bersejarah terjadi di Uni Emirat Arab (UEA), tepatnya 4 Februari 2019. Pasalnya, tokoh-tokoh pemuka agama dari seluruh dunia bertemu, termasuk Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Tayeb, Paus Fransiskus, termasuk ulama dari Indonesia yang diwakili Profesor Muhammad Quraish Shihab. Pertemuan tersebut bersejarah di antaranya karena menghasilkan deklarasi persaudaraan manusia.

Deklarasi yang memuat sejumlah substansi tentang kehidupan beragama, sosial, kebudayaan, politik, ekonomi, kesehatan, tentang perempuan dan anak-anak, serta terorisme secara global ini ditandatangani Syekh Ahmad Al-Tayeb dan Paus Fransiskus dalam Human Fraternity Meeting di Abu Dhabi, UEA. Dunia menyambut baik dan gembira. Puing-puing konflik global yang masih berserakan menemukan angin segar persatuan dalam pemandangan yang sejuk yang ditampilkan para tokoh agama tersebut.

Konflik global yang hingga kini terus menyisakan tragedi kemanusiaan patut menjadi perhatian bersama. Terutama komitmen untuk membangun persaudaraan kemanusiaan. Prinsip persaudaraan atau ukhuwah telah menjadi nilai luhur yang dipegang oleh jam’iyyah (organisasi) Nahdlatul Ulama (NU). Bahkan, Kiai Haji Achmad Siddiq (1926-1991) mengembangkan konsep ukhuwah tersebut ke dalam persaudaraan sesama umat Islam (ukhuwah Islamiyah), persaudaraan antar-manusia (ukhuwah basyariyah/insaniyah), dan persaudaraan antarbangsa (ukhuwah wathaniyah).

Konsep ukhuwah tersebut disandingkan oleh KH Achmad Siddiq ketika merancang naskah Khittah Nahdliyyah atau Khittah NU yang akan dibawa pada perhelatan Muktamar ke-27 NU di Situbondo, Jawa Timur pada tahun 1984. Sebelumnya, rancangan khittah tersebut dimatangkan melalui Munas NU tahun 1983 di tempat yang sama. Sedangkan praktik terhadap prinsip persaudaraan tersebut telah lama diamalkan atau dilakukan oleh para kiai pesantren.

Di era pergerakan nasional kemerdekaan Indonesia, Pendiri NU KH Hasyim Asy’ari sering menekankan pentingnya persatuan umat Islam untuk menghadapi ketidakperikemanusiaan penjajah. Hal itu terus digelorakan Kiai Hasyim Asy’ari mengingat perbedaan madzhab dan praktik keagamaan kerap menimbulkan perdebatan hebat. Seruan Kiai Hasyim untuk meneguhkan persatuan umat Islam sekaligus mencegah intervensi penjajah dalam memanfaatkan konflik yang disebabkan perbedan pandangan tersebut.

Kenyataan bahwa bangsa Indonesia sedang terjajah memerlukan langkah strategis, khususnya dari seluruh elemen umat Islam untuk bersatu. Persaudaraan antarumat Islam (ukhuwah Islamiyah) merupakan langkah mendesak untuk dilakukan. Namun, Kiai Hasyim Asy’ari sendiri tidak mempersoalkan perbedaan pendapat dalam memahami sumber-sumber agama. Melainkan menolak perpecahan umat, apalagi saat itu rakyat memerlukan bantuan agar terbebas dari penjajahan.

Ulama NU lainnya seperti KH Abdul Wahab Chasbullah (1888-1971) memandang bahwa ukhuwah Islamiyah harus disempurnakan dengan perasaan tinggi dari warga negara untuk mencintai bangsanya. Sebab itu, Kiai Wahab getol menanamkan sikap cinta tanah air, terutama bagi para generasi muda. Jauh sebelum Kiai Wahab berupaya mengoperasionalkan cinta tanah air, Kiai Hasyim Asy’ari telah mencetuskan konsep hubbul wathan minal iman (cintah tanah air bagian dari iman).

Melalui jalur pendidikan, Kiai Wahab mendirikan Perguruan Nahdlatul Wathan pada 1916. Di dalam lembaga ini, Kiai Wahab juga membentuk gerakan pemuda cinta tanah air (syubbanul wathan). Konsep cinta tanah air melalui pendidikan ini menyadarkan para generasi muda agar bersatu melawan penjajah demi kemerdekaan bangsa Indonesia. Setiap sebelum memulai pelajaran, para pemuda tersebut menyanyikan syair cinta tanah air, ya lal wathan yang kini populer di kalangan masyarakat, khususnya warga NU.

Menurut catanan Choirul Anam dalam Pertumbuhan dan Perkembangan NU (2010), KH Wahab Chasbullah berhasil mendirikan perguruan Nahdlatul Wathan atas bantuan beberapa kiai lain dengan dirinya menjabat sebagai Pimpinan Dewan Guru (keulamaan). Sejak saat itulah Nahdlatul Wathan dijadikan markas penggemblengan para pemuda. Mereka dididik menjadi pemuda yang berilmu dan cinta tanah air.

Dari kesadaran historis bahwa gerakan kebangsaan dilandasi cinta tanah air menjadi kekuatan besar dan mampu mengusir penjajah, persaudaraan sesama bangsa (ukhuwah wathaniyah) perlu terus dijaga. Konsep ini lahir dari seorang Kiai Achmad Siddiq berangkat dari konsensus kebangsaan yang berwujud Pancasila. Di mana seluruh elemen bangsa turut berjuang dalam memerdekakan Indonesia. Kiai Achmad Siddiq merupakan tokoh ulama yang merancang hubungan Pancasila dengan Islam dalam perhelatan Muktamar NU tahun 1984.

Perbedaan cara pandang keagamaan, baik secara teologis dan fiqih juga dipandang oleh Kiai Achmad Siddiq rawan menimbulkan perpecahan antar-manusia sehingga perlu dibangun persaudaraan kemanusiaan (ukhuwah basyariyah atau ukhuwah insaniyah). Dalam hal ini, Kiai Achmad Siddiq (Munawar Fuad Noeh dan Mastuki HS [ed.], Menghidupkan Ruh Pemikiran KH Achmad Siddiq, 1999) menawarkan pendekatan kesufian dalam melihat umat manusia.

Dalam pandangan Kiai Achmad Siddiq, kesufian bisa merangkul semua umat manusia tanpa melihat dan membeda-bedakan asal-usul, suku, ras, warna kulit, golongan, atau bahkan agamanya. Dalam tasawuf atau dunia kesufian, semua makhluk dipandang sama. Manusia dalam diskursus tasawuf merupakan makhluk baik tanpa ada prasangka yang sifatnya ideologis, teologis, atau pandangan diskriminatif. Perbedaan agama, suku, bangsa, warna kulit hanyalah perbedaan artifisial yang tidak boleh menghambat persaudaraan manusia.

Tidak terpungkiri bahwa gagasan dan praktik perjuangan para kiai NU tersebut menjadi inspirasi global saat ini. Apalagi jika melihat konflik perang yang menimbulkan krisis dan menyisakan tragedi kemanusiaan yang hingga kini seolah tak pernah menemukan ujung pangkal. Berangkat dari tradisi keilmuan pesantren dan peneguhan nilia-nilai budaya, NU tidak hanya memberikan sumbangsih terhadap bangsanya, tetapi juga mewarnai kehidupan global dengan terus mempromosikan perdamaian dunia.

Deklarasi persaudaraan manusia yang diteken Grand Syekh Al-Azhar Syekh Ahmad Al-Tayeb dan Paus Fransiskus disaksikan oleh tokoh-tokoh agama dan warga dunia merupakan gerakan kemanusiaan yang telah lama dilakukan oleh kiai-kiai NU. Apalagi akar persoalan terorisme global yang kerap membawa-bawa simbol agama dan pembelaan terhadap Tuhan menjadi salah satu sorotan tajam dari sekian poin deklarasi kemanusiaan yang diteken.

Salah satu bagian penting dokumen persaudaraan kemanusiaan tersebut berisi: “Semua pihak agar menahan diri menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme dan penindasan. Kami meminta ini berdasarkan kepercayaan kami bersama pada Tuhan, yang tidak menciptakan manusia untuk dibunuh atau berperang satu sama lain, tidak untuk disiksa atau dihina dalam kehidupan dan keadaan mereka. Tuhan, Yang Maha Besar, tidak perlu dibela oleh siapa pun dan tidak ingin Nama-Nya digunakan untuk meneror orang.”

Ya, bagian kalimat “Tuhan Tidak Perlu Dibela” telah lama dilontarkan oleh ulama dan intelektual NU, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kiai yang pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia dan juga Presiden World Conference on Religion and Peace (WCRP) itu menuliskan kolom opini berjudul “Tuhan Tidak Perlu Dibela” di Tempo edisi 26 Juni 1982, sekitar dua tahun sebelum Kiai Achmad Siddiq mencetuskan trilogi ukhuwah: Islamiyah, watahniyah, dan basyariyah/insaniyah. Wallahu’alam bisshawab.


Penulis adalah Pengajar Sejarah di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta; Redaktur NU Online