::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Nasionalisme 'Indonesia' Sudah Terbangun Sebelum Abad 20

Sabtu, 09 Februari 2019 08:30 Nasional

Bagikan

Nasionalisme 'Indonesia' Sudah Terbangun Sebelum Abad 20
Kiai Jadul Maula (kiri) di Kampus Unusia Jakarta
Jakarta, NU Online
Ben Anderson pernah mengatakan bahwa nasionalisme bangsa Indonesia terbangun sejak adanya mesin cetak, yakni dengan tersebarnya surat kabar ke berbagai wilayah kepulauan ini. Hal ini dibantah oleh budayawan Kiai Jadul Maula, menurutnya, jauh sebelum itu, nasionalisme bangsa Indonesia sudah terbangun.

"Proto nasionalisme itu misalnya ketika Demak menyerang Portugis di Malaka," kata Kiai Jadul saat mengisi kuliah umum di Fakultas Islam Nusantara, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia, Jalan Taman Amir Hamzah, Pegangsaan, Jakarta, Jumat (8/2).

Peristiwa yang terjadi pada tahun 1511 itu membawa obor Majapahit dalam menyatukan Nusantara, penyerangan itu dibantu oleh Palembang dan Cirebon.

"Sudah ada tradisi menjaga kesatuan," tegasnya pada diskusi yang bertema Inspirasi Islam dan Kebangsaan dari Naskah Nusantara itu.

Di samping itu, penyatuan Nusantara itu dilakukan melalui perkawinan, jaringan keilmuan, dan naskah. Pasalnya, ia melihat naskah Hikayat Indrapura dan Bustanus Salatin juga terdapat di Buton. Naskah terakhir itu juga terdapat di Jawa dengan bentuk Macapat.

"Kesatuan Nusantara dijahit oleh naskah. Jauh sebelum abad 20," kata Pengasuh Pesantren Kaliopak, Yogyakarta itu.

Fakta-fakta tersebut, menurutnya, menjadi bantahan yang menyebut bahwa Indonesia produk abad 20 dengan menutup semua kajian dan ilmu yang sudah ada sejak dulu. Mereka yang beranggapan demikian menyebut semua yang dikatakan ini feodal, kedaerahan, dan egois.

"Seolah-olah kita gak bisa bersatu kalau gak ada surat kabar," kata Kiai Jadul.

Kegiatan diskusi dihadiri oleh mahasiswa dan Dekan Fakultas Islam Nusantara Mastuki HS dan para pengajar, serta mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara, Unusia Jakarta. (Syakir NF/Muiz)