::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Zona Nyaman dan Jalan Tengah Perspektif Al-Ghazali

Ahad, 10 Februari 2019 08:00 Nasional

Bagikan

Zona Nyaman dan Jalan Tengah Perspektif Al-Ghazali
ilustrasi (pixabay)
Jakarta, NU Online
Moderatisme atau teori wasathiyah berdasar pada konsep akhlak atau etika Al-Ghazali dalam mahakarya Ihya Ulumuddin.

"Menjadi muslim moderat itu susah. Menjadi di tengah-tengah itu susah. Moderatisme. Itu teorinya Al-Ghazali," jelas Ulil Abshar Abdalla dalam kegiatan Ngaji Ihya Ulumuddin di Masjid PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (7/2) malam.

Jalan tengah, lanjut Ulil, adalah pekerjaan yang tidak terlalu menguasai kita. Dan zona nyaman itu sudah bukan jalan tengah lagi.

"Istilah anak milenial comfort zone atau zona nyaman. Kalau semuanya sudah gampang; tindakan atau apa yang kita kerjakan itu sudah mudah, tinggalkan. Kita nyaman, maka tinggalkan. Begitu teori Al-Ghazali,” ucap menantu Gus Mus ini.

Menurut Ulil, yang harus dilakukan adalah senantiasa memonitor diri. Mendeteksi, mencari kesadaran kalau apa yang sudah dan sedang dikerjakan itu sudah terlalu mudah. Bagi Ulil, jalan tengah itu tidak statis. Ia bergerak dinamis.

"Dan cara mendeteksi itu susah. (Karena) kanan-kiri itu nikmat,” katanya. 

Mengacu pada Ihya Ulumuddin, Ulil juga menjelaskan bahwa orang yang kikir atau menahan hartanya secara berlebihan dan orang dermawan yang memberi secara berlebihan hakikatnya mereka itu melekat dengan harta.

“(Orang) yang satu dikekepi (ditahan), yang satu hartanya diberikan. Keduanya sama-sama menikmati. Concern-nya pada harta. Meski manifestasinya memang beda,” ungkap Ulil.

Jalan tengah, kata Ulil, adalah juga tidak terlalu perhatian terhadap harta. Tidak fokus pada harta. Tidak dikuasai harta.

"Kita kalau sudah bisa memperlakukan harta atau hak milik seperti kita memperlakukan air maka sudah luar biasa. Karena tidak ada orang yang menyimpan air dalam jumlah berlebih. Orang membeli air sesuai kebutuhannya. Beda dengan emas dan uang. Ada yang menyimpan melebihi kebutuhannya. Perlakukanlah hartamu seperti (memperlakukan) air. Itu jalan tengah. Intinya tidak bronto (tidak senang berlebihan) kepada dunia. Karena orang yang bisa menjumpai Allah adalah orang yang tidak bronto kepada duni," paparnya.

Ulil juga mengungkapkan, ngaji Ihya Ulumuddin itu rumit, karena manusia itu rumit sekali, kompleks.

"Terutama struktur jiwanya. Susah sekali. Karena Ihya itu soal jiwa manusia. Namun dengan mengaji Ihya minimal saat ini kita mengerti. Dan kitab Ihya ratusan tahun dibaca masih tetap relevan meski sudah 10 abad Masehi,” imbuh Ulil. (Wahyu Noerhadi/Kendi Setiawan)