::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

MUNAS-KONBES NU 2019

Munas dan Konbes NU Hendaknya Tuntaskan Problem Bangsa

Ahad, 10 Februari 2019 22:00 Daerah

Bagikan

Munas dan Konbes NU Hendaknya Tuntaskan Problem Bangsa
Rapat koordinasi jelang Munas Alim Ulama dan Konbes NU.
Bondowoso, NU Online
Jelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama (Konbes NU), ada sejumlah agenda besar yang diangkat. Hal tersebut berkaitan dengan situasi terkini. Dari mulai masalah kenegaraan, kedaulatan ekonomi, lingkungan dan kebudayaan.

Demikian disampaikan Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bondowoso, Jawa Timur, KH Mas 'ud Ali kepada NU Online, Ahad (10/2).

Dirinya menyinggung banyak di antara warga yang kurang memahami posisi negara yang sebenarnya. “Ada beberapa kelompok yang menganggap bahwa negara ini sudah melenceng dari ajaran Islam,” katanya. Padahal konsensus ulama sudah tegas mengatakan bahwa NKRI dan Pancasila sudah final, dan tidak boleh diganggu gugat siapapun, lanjutnya.

Agar berlangsung baik, maka negara harus hadir dengan sikap tegas. “Harus tegas terutama terhadap kelompok-kelompok yang dapat merongrong kedaulatan negara,” ungkapnya.

Kemudian yang kedua yaitu soal kedaulatan ekonomi. “Kita tahu masyarakat Indonesia khusus warga NU berada di garis ekonomi lemah. Karenanya, bagaimana negara dapat memperhatikan kesejahteran masyarakat khususnya warga NU,” jelasnya.

Sistem ekonomi di negeri ini tidak boleh yang kuat semakin kuat, dan kalangan lemah kian terlemahkan, "Ini akan dibahas secara khusus di Munas dan Konbes tersebut," ucapnya. 

Dirinya berharap ada kebijakan dari negara bagaimana terus berupaya mengangkat ekonomi kerakyatan. “Karena selama ini sistem ekonomi kita cenderung liberalis,” katanya.

Dalam artian orang yang punya modal kuat, maka selalu menguasai pasar. “Sementara masyarakat lemah dengan konsep tradisional dalam berjualan berhadapan dengan ritel.. Kondisi ini membuat toko tradisional akan tergilas dengan sendirinya,” urainya.

Sedangkan,isu ketiga yang akan diangkat pada Munas Alim Ulama dan Konbes NU soal lingkungan. “Karena dalam Al-Qur'an jelas kita juga harus memperhatikan karena tidak mungkin dapat diabaikan. Kalau mengabaikan, maka akan berdanpak kepada kehidupan masyakarat,” jelasnya.

Hal yang akan banyak disorot adalah sampah plastik, sebagaimana pernah disampaikan Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, “Bahwa persoalan sampah juga menjadi persoalan krusial karena cukup membahayakan,” ungkapnya. 

Untuk yang keempat adalah soal kebudayaan, Bahwa bangsa Indonesia memiliki budaya. “Bahkan kita tahu Islam masuk ke Indonesia itu bagian dari akulturasi budaya. Maka hal tersebut hendaknya dipertahankan sebagai perekat ukhuwah,” urainya.. 

Islam justru berada di atas budaya. “Artinya tanpa budaya, tidak mungkin Islam di Indonesia berjalan seperti yang kita rasakan sampai sekarang," katanya.

Dirinya berharap dari empat isu tersebut paling tidak ditemukan jalan tengah. “Menjadi jalan terbaik bagi masyarakat Indonesia khususnya NU agar sejumlah masalah tersebut diangkat dan kemudian dapat dikomonikasikan dengan negara atau pemerintah,” pungkasnya. (Ade Nurwahyudi/Ibnu Nawawi)