::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Belajar dari Kisah Dakwah Nabi yang Penuh Cinta Kasih

Kamis, 14 Februari 2019 21:30 Daerah

Bagikan

Belajar dari Kisah Dakwah Nabi yang Penuh Cinta Kasih
Onta (Ilustrasi: Ist.)

Tanggamus, NU Online
Spirit dakwah dengan cinta kasih, seharusnya diwarisi dan diimplementasikan umat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dengan hal ini Islam sebagai agama rahmat semesta alam dapat tergambarkan serta dirasakan melalui sikap toleransi dan cinta kasih di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

Cinta kasih kepada sesama ini banyak dicontohkan Nabi Muhammad SAW. Sikap ini tidak hanya dilakukan dihari-hari tertentu saja, namun hendaknya dilakukan setiap saat dalam interaksi kehidupan bersama orang-orang yang berada di sekeliling kita.

"14 Februari warga Nahdlatul Ulama bersyukur atas kelahiran Hadratus syeikh KH Hasyim Asy'ari. Bagi umat Islam sebagai agama rahmat semesta alam, kasih sayang terhadap sesama manusia harus dipraktikkan dalam keseharian tanpa menunggu momentum tanggal 14 Februari," kata Abdur Rouf Hanif, Ketua Lakpesdam PCNU Tanggamus, Lampung kepada NU Online, Kamis (14/2).

Baca: 14 Februari, Harlah KH M Hasyim Asy'ari

Di momen hari lahir pendiri Nahdlatul Ulama Khadratus Syekh KH Hasyim Asy'ari ini, Rouf mengajak kepada umat Islam khususnya warga NU untuk kembali menyimak kisah-kisah kinasih baginda Nabi Muhammad mengenai ajaran cinta kasih.

"Salah satu kisah yang paling fenomenal adalah tragedi Fathul Makkah pembebasan kota Makkah yang dilakukan baginda Nabi beserta para sahabat," katanya.

Dalam pembebasan kota Makkah tersebut, lanjutnya, dikisahkan dalam literatur sirah Nabawi bahwa terdapat 15 ribu pasukan yang dipimpin oleh Nabi Muhammad. Mereka berkemah di pinggir-pinggir Kota Makkah sebelum memasuki kota di mana Ka’bah berada. 

"Sontak hal itu membuat warga Makkah khawatir dan takut karena ada kabar bahwa mereka akan dibantai oleh pasukan Nabi Muhammad," katanya.

Mendengar kekhawatiran ini, Nabi pun mengutus Ali untuk memimpin pasukan. Nabi Muhammad mengatakan bahwa: hadza yaumul marhamah (ini hari kasih sayang). Saya maafkan semua kesalahan dan tidak ada kebencian di antara manusia.

"Bukan yaumul malhamah (hari pembalasan dendam)," tegas Rouf.

Kebesaran jiwa baginda Nabi juga tergambar jelas saat ia menjenguk tokoh kelompok kaum kafir yang selama hidupnya gemar mencaci maki dan menghalangi dakwah Nabi.

Nabi Muhammad merangkul semua musuh-musuhnya dengan kasih sayang. Bukan dengan kebencian. (Red: Muhammad Faizin)