::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Berapa Kali Idealnya Kita Khatamkan Al-Qur'an dalam Sebulan?

Ahad, 17 Februari 2019 11:15 Ilmu Al-Qur'an

Bagikan

Berapa Kali Idealnya Kita Khatamkan Al-Qur'an dalam Sebulan?
(Foto: @thenational.ae)
Al-Qur’an merupakan petunjuk hidup setiap Muslim. Seperti peta, orang yang tidak ingin tersesat akan selalu membaca dan memantau bagaimana arahan dalam peta. Peta dibaca setiap sudut-sudutnya.

Begitu pula Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman hidup, ia harus dibaca terus menerus oleh setiap Muslim supaya tidak tersesat dalam menjalani kehidupan.

Dalam mengisi hari-hari kita, apabila kita disuruh memilih lebih baik mana antara membaca Al-Qur’an dengan zikir-zikir yang lain, menurut mazhab shahîh yang dibuat pegangan para ulama adalah bahwa membaca Al-Qur’an lebih utama daripada zikir-zikir yang lain. Keterangan ini disampaikan oleh Imam Nawawi dalam karyanya At-Tibyan fi Hamalatil Qur’an sebagai berikut: 

اعلم أن المذهب الصحيح المختار الذي عليه من يعتمد من العلماء أن قراءة القرآن أفضل من التسبيح والتهليل وغيرهما من الأذكار وقد تظاهرت الأدلة على ذلك والله أعلم

Artinya, “Ketahuilah, sungguh madzhab shahih yang dibuat pegangan para ulama adalah bacaan Al-Qur’an lebih utama daripada tasbih, tahlil dan zikir-zikir yang lain. Dalil-dalil atas demikian cukup tampak sekali. Wallâhu a‘lam,” (Lihat An-Nawawi, At-Tibyân fi Hamalatil Qur’an, [Beirut, Daru Ibni Hazm: 1994 M], halaman 24).

Namun berapa ukuran standar kita membaca Al-Qur’an itu? Apakah sebaiknya sehari khatam sekali atau bagaimana? Berikut pengakuan Abdullah bin Umar yang mengisahkan percakapannya dengan Baginda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam:

قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فِي كَمْ أَخْتِمُ الْقُرْآنَ؟ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي كُلِّ شَهْرٍ» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خَمْسٍ وعشرين» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خمس عشرة» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي عَشْرٍ» قُلْتُ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «اخْتِمْهُ فِي خَمْسٍ» قَالَ: إِنِّي أُطِيقُ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالَ: «فَمَا رَخَّصَ لِي»

Artinya, “Saya bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah, sebaiknya dalam sebulan saya mengkhatamkan Al-Qur’an berapa kali?’ Rasul menjawab, ‘khatamkan satu kali dalam sebulan.’ Aku kembali bertanya, ‘Saya kuat khatam melebihi itu, Ya Rasul.’ Beliau menjawab, ‘Khatamkan dalam 25 hari.’ ‘Saya masih kuat lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 15 hari,’ kata Rasul. ‘Saya masih mampu lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 10 hari,’ jawab Rasul. ‘Saya masih kuat lebih dari itu,’ kataku. ‘Khatamkan dalam 5 hari,’ kata Rasul. ‘Saya masih kuat lebih dari itu, Ya Rasul,’ kataku. Kemudian setelah aku menyatakan mampu mengkhatamkan Al-Qur’an kurang dari lima hari, Rasul tidak memberikan keringanan lebih lanjut,” (Lihat As-Sunanul Kubra, 8011).

Pada hadits di atas, Rasulullah memberikan batas seseorang mengkhatamkan Al-Qur’an minimal sebulan adalah sekali khataman. Dalam rangka mempermudah, KH Najib Abdul Qadir, Krapyak, Yogyakarta menyarankan untuk menyesuaikan bacaan juz Al-Qur’an sesuai tanggal hijriyah.

Misalkan hari ini tanggal 1 Jumadil Akhir, maka tugasnya membaca juz 1. Tanggal 2 membaca juz 2. Begitu seterusnya. Apabila tanggal hijriyahnya hanya 29 hari, maka pada tanggal 29, dibaca dua juz dalam sehari terakhir. Saran Kiai Najib ini disampaikan ulang oleh KH Muhammad Shofi Al-Mubaroh Baedlowie, Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin, Brabo, Grobogan.

Maksimal, atau paling banyak orang yang membaca Al-Quran sampai khatam seseuai hadits di atas adalah dalam kurun waktu lima hari satu kali khataman atau setara sekitar enam juz dalam sehari.

Apabila ada batas maksimal-minimal sesuai petunjuk Rasul di atas, kemungkinan di antara hikmahnya adalah orang akan membaca Al-Quran tidak kemudian membaca secara kebut-kebutan mengejar target sehari khatam, sehingga membaca serampangan dengan mengabaikan tajwidnya.

Selain itu, supaya orang tidak terlalu berlebihan dalam beribadah. Dengan begitu, kegiatan atau pekerjaan lain yang menjadi tanggung jawab dan kewajiban bisa berjalan semua. Padahal bekerja mencari nafkah, merawat anak dan lain sebagainya hukumnya tidak kalah wajibnya.

Adapun membaca Al-Qur’an secara berlebihan, bisa jadi hari ini sehari khatam namun dua bulan berikutnya baru membaca Al-Qur’an lagi dalam arti tidak bisa istiqamah, justru hal demikian perlu dihindari. Sedikit istiqamah lebih baik daripada banyak namun tidak istiqamah. Wallahu a’lam


(Ustadz Ahmad Mundzir)