::: Simak berbagai info NU Online melalui media sosial Twitter (@nu_online), Facebook (www.facebook.com/situsresminu), Instagram (@nuonline_id) ::: Kritik, saran, informasi atau artikel dapat dikirimkan kepada kami melalui email redaksi[@]nu.or.id ::: Info pemasangan iklan, hubungi email rizky[@]nu.or.id atau telepon 021-3914014 :::

Ngaji NgAllah Suluk Maleman, Pemimpin Baik Lahir dari Rakyat Baik

Ahad, 17 Februari 2019 21:30 Nasional

Bagikan

Ngaji NgAllah Suluk Maleman, Pemimpin Baik Lahir dari Rakyat Baik
Anis Sholeh Ba’asyin dan para narasumber dalam Ngaji NgAllah Suluk Maleman
Pati, NU Online 
Ngaji NgAllah Suluk Maleman kembali digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia Sabtu (16/2) malam. Dalam edisi yang ke-86, masyarakat pun kembali diajak untuk lebih bijak dalam bermedia sosial.

Bahkan dengan tegas Anis Sholeh Baasyin, penggagas Suluk Maleman, itu mengajak agar masyarakat dapat menyelamatkan diri dan lingkungan keluarganya dari api fitnah media sosial. Dia pun meminta agar masyarakat tak perlu lagi saling berdebat tanpa hal yang jelas di dunia maya. Terlebih hanya untuk persoalan pemilihan presiden.

“Mari selamatkan diri dan keluarga kita dari api fitnah di media sosial, jangan ikut-ikutan gelut disana. Jangan-jangan orang yang suka marah-marah di medsos itu karena tidak bahagia di kehidupan nyatanya,” seru Anis kepada ratusan warga yang turut hadir dalam Suluk Maleman bertemakan Demokrasi tersebut.

Dia pun mempertegas sekarang ini banyak thogut yang diciptakan manusia. Seperti halnya sikap yang terlalu fanatik terhadap satu calon hingga menjelekkan calon lainnya. Maupun saat menganggap keliru orang lain karena tidak ikut dalam kelompok tertentu.

“Jangan pernah berburuk sangka pada salah satu calon atau kelompok lain. Saya khawatir sikap berburuk sangka justru akan menjadi doa. Dan kalau buruk sangka tersebut dikabulkan Allah, kita semua yang menanggung resikonya. Maka dari itu lebih baik kita kembangkan baik sangka,” tambahnya.

Dengan berbaik sangka, Indonesia pun dipastikan akan baik-baik saja. Bahkan baik atau buruknya bangsa justru dari sangkaan masyarakatnya sendiri. Pemimpin yang baik akan lahir dari masyarakat. 

“Siapa pun nanti presiden yang jadi itulah cerminan dari rakyatnya. Maka dari itu lakukanlah apa yang terbaik semampumu. Mulai dari diri sendiri, keluarga, hingga lingkungan,” tambahnya.

Untuk menyikapi pemilu, Anis juga meminta untuk tidak terlalu serius. Dia pun menganalogikan kedua belah pihak sebagai sama-sama pedagang. Yang tentu saja tidak akan mengakui barang dagangannya buruk. 

“Semua orang dan semua kelompok akan mengatakan produknya terbaik. Kalau dua-duanya sama-sama jualan, kenapa justru kita yang harus saling ribut,” sentilnya.

Setiap peradaban,  menurut Anis, selalu akan memiliki nilai lebih dan kurangnya masing-masing. Namun yang abadi akan terlihat dari yang paling mendekatkan pada Tuhan sang pencipta semesta.  

Jalannya Suluk Maleman kemarin pun tampak disertai dengan sosialisasi terkait pemilu dari relawan demokrasi. Diharapkan para warga yang datang dapat memanfaatkan suaranya dengan sebaik-baiknya. Selain dari Sampak GusUran, ngaji budaya itu kian meriah dengan kehadiran musik akustik dan puisi dari mahasiswa asal Kudus. (Red: Abdullah Alawi)